Kisah Lain Dibalik Tragedi Gunung Slamet 2001

Baca langsung dari sumbernya di link dibawah ini, ada 3 part.

Part 1 (start) => bit.ly/slamet1
Part 2.           => bit.ly/slamet2
Part 3 (end) => bit.ly/slamet3

Pada bln februari 2001, kelompok pendaki di Purwokerto dan sekitarnya disibukkan dengan kegiatan pencarian pendaki dari UGM yang jumlahnya tak tanggung2.  Lebih dari 25 orang dari 4 kelompok pendakian terjebak badai di atas puncak Slamet tnpa bisa turun ke Plawangan Bambangan.  Satu org berhasil turun dengan perjuangan yang sangat menguras tenaga dan mental, melalui kawasan Gunung Malang yang penuh dengan lorong jbakan bentukan alam, untuk mengabarkan kpada msyarakat umum tentang keberadaan mereka. Sbagian besar berhasil dievakuasi dengan selamat, dan menyisakan 5 orang pendaki tewas di tempat yang terpisah-pisah dalam upaya mereka mencari jalan turun.

Lebih dari satu dasa warsa stelah tragedi Pebruari 2001 yg memakan korban, dan yang luput dari perhatian publik bahwa kami ada di depan para pendaki Mapagama dan mungkin hanya beberapa menit hingga perjumpaan yg tidak pernah terjadi, saya baru berani mengemukakan hal ini.

Perasaan bersalah yg muncul bukan dari kesalahan saya telah mencuri hampir separuh energi berfikir selama lebih dari dua tahun setelah tragedi itu.

Sya selalu berfikir, seandainya kmi bertemu dengan para pendaki dari Mapagama tersebut,  maka kami akan dpat memberikan informasi yang akurat dan mutakhir tntang mulut badai yg menerjang Puncak Slamet dan kemungkinan akan berlangsung dalam waktu yg lama, mungkin akan membuat mereka berpindah kepada rencana kedua jika mereka memiliknya.

Seandainya stiap keterlambatan telah diantisipasi sebelumnya & diakui dengan bijaksana, mka meskipun sebuah perjalanan menjadi tidak populer menurut ukuran umum, ttapi proses yg aman dan terukur serta dapat diikuti oleh setiap masing-masing pendaki, akan menghasilkan keluaran yang secara kualitas akan merata dan adil.

Sya meminta maaf kpada seluruh teman yang mendaki bersama saya pada pendakian tersebut, juga kepada kelompok pendaki jalur Baturraden karena sedikit banyak keputusan yang saya ambil saat itu turut membawa mereka pada kondisi yang tidak direncanakan.

Baca artikel cerita perjalanan di slamet yang aslinya dibawah ini, sangat panjang

Part 1 (start) => bit.ly/slamet1
Part 2.           => bit.ly/slamet2
Part 3 (end) => bit.ly/slamet3

11 Tanda Cowok Pendaki Adalah Pasangan Super Romantis

Banyak yg bilang pendaki cowok adalah tipe pasangan yg romantis. Akan lebih kerasa romantisnya kalau Kamu mendaki bareng dia. Makanya banyak banget cewek yg pengen punya pasangan pendaki.

Kok bisa sih?

1 Peka & gampang kasih perhatian, gk peduli apakah dia lagi capek / gak, Km tetap yg nomor 1. Dia rela meluangkan waktu buat mkn bareng / nyuapin Kamu.

2 Gk akan membiarkanmu berjalan sendirian di tengah alam yg serba gk menentu. Mendaki bersamanya akan membuatmu merasa dilindungi.

3 Siap sedia saat Km butuh sandaran. Bersandar di pundaknya sambil menikmati lautan awan akan menjadi momen teromantis yg tak mudah buat Km lupakan.

4 Gk ngajak nginep di hotel bintang 5, lebih seneng ajak Km menikmati keindahan hotel beratap jutaan bintang. Yg bisa ngajakin km tidur di bawah cahaya milyaran bintang ya cm cowok pendaki.

5 Gak cuma peduli, tp jg keselamatanmu saat mendaki. Dia gak segan bntu betulin tali sepatumu yg lepas, sekaligus mastiin kalau semua dlm kondisi ok.

6 Ngungkapin cinta gk cm lewat kata2, tp jg lewat aksi nyata saat Km daki bareng dia. Konon mencium kening adlh salah satu tanda kalau cinta itu tulus. Lakuin kl udah sah

7 Dia gk bisa ngasih Km seikat bunga edeilweis, tp ngajak Km melihat indahnya padang edelweis, bukan memetiknya lalu memberikannya padamu saat pulang mendaki.

8 Dia betah menatapmu lama2, sm sprti saat dia menatap keindahan semesta yg diciptakan Tuhan. Dia akan menjadikanmu sbgai dunianya saat dia benar2 tulus mencintaimu.

9 Saat Km capek berjalan, punggungnya selalu siap menopangmu. Pendaki cowok yg punya fisik dan jiwa yg kuat, punya karakter ini.

10 Dibilang romantis saat dia mengajakmu & beribadah bersama biar lebih dekat kpd Sang Pencipta. Ini sih namanya imam idaman. Huhu

11 Siap membuatmu tersenyum kembali, saat Km mulai cemberut gara2 capek

Masing2 cwek punya standar yg beda (relatif) soal romantis. Tp sosok cowok pendaki hampir mendekati kriteria2 romantis yg dibutuhin cewek. Punya pasangan pendaki bakal bikin hubunganmu makin berwarna.

PS : Adegan2 yg kurang pas bisa Kamu lakuin kl udah sah, biar romantisnya makin berkah. Diringkas dari Phinemo.com

Jadi mitos atau fakta nih?
Like & follow, @mountnesia

5 Alasan Pria Pendaki Gunung Adalah Suami Idaman

Ini nih alasan mengapa pria pendaki bisa menjadi calon suami idaman.

Tidak Mudah Menyerah

Mendaki bukanlah olahraga yg mudah. Butuh tekat yg kuat untuk bisa sampai di puncak. Lelah dan juga beratnya medan selama perjalanan harus bisa dilalui. Pria yg hobi mendaki gunung sudah pasti memiliki sifat yang tak mudah menyerah, tak berhenti sebelum sampai di puncak. Pria seperti ini biasanya jg semangat mengejar impian, apalagi bila kamu termasuk di dalam mimpi masa depannya. Siap2 diperjuangin mati-matian, ya.

Sabar dan Mandiri

Mereka tahu, sebelum tiba di puncak, harus lebih dulu melewati perjalanan dengan medan yg tak mudah. Melangkah pelan2 namun pasti, jarak dari lereng hingga ke puncak pun akan mampu dilaluinya. Mereka juga sangat mandiri. Saat berada di atas pegunungan sudah terlatih untk mempertahankan hidup seperti mendirikan tempat bernaung & jga memasak sendiri dari bahan2 seadanya. Seru, kaan?

Telaten dan Penyayang

Pria2 ini akan dengan snang hati mengajarkan kepada para pemula yg juga ingin mencoba juga bagaimana serunya menjelajah alam dan hutan liar. Membahagiakan mereka juga tak perlu hal-hal yg mewah, cukup dengan alam. Alam saja disayangi, apalagi kamu, nih.

Tangguh dan Kuat

Tidak mudah untuk bsa mencapai puncak gunung. Tak jarang hal2 yg tak mengenakkan terjadi. Perubahan jadwal yg tiba2, teman mendaki cidera, dll. Namun, tragedi2 kecil itu tak akan membunuh niat mereka untuk bisa sampai berdiri di titik tertinggi gunung yg didaki. Tak hanya itu, mereka jg biasanya memiliki tingkat solidaritas tinggi.

Atletis dan Sehat

Mengingat medaki termasuk kegiatan yg butuh tenaga besar, para pendaki biasanya memiliki badan yang sehat. Tidak gampang lelah ataupun flu. Mereka terbiasa berolahraga dan berkeringat. Hal ini  membentuk badan mereka menjadi atletis dan enak dilihat. Bisa nih jadi motivasi kamu yg sering malas berolahraga. Setuju, kan?

Selain sifat-sifatnya yang oke, punya pasangan yang sehobi dan juga suka traveling, kan? Selain para lelaki, adalah pendaki cantik yang semangatnya tak kalah ketika menikmati alam. Diringkas dari travelingyuk.com

Jadi, mitos atau fakta nih?
Like, follow & share, @mountnesia #mountnesia

10 Hal yang Dirasa Pendaki Wanita itu Ribet

Kadang hal yang biasa dilakukan para cowok pas daki gunung itu ternyata dianggap sesuatu yang nggak biasa bagi perempuan. Apa aja sih?

1. Cowok sudah biasa pipis di mana saja tanpa tisu tapi tidak bagi cewek yg harus mencari semak-semak tinggi dan diawasi.

2. Urusan poop cowok pendaki tak ambil pusing, tinggal cari spot poop lalu buang hajat di mana aja sudah menjadi hal biasa. Tapi bagi cewek poop di gunung, ini gak biasa, selalu ada rasa jijik, takut, dan malu.

3. Nggak cuci muka selama di gunung itu kepanikan tersendiri bagi cewek, karena Jerawat adalah musuh besarnya cewe, tapi hal biasa bagi cowok

4. Bau ketek itu Macho, tapi bagi cewe itu "iuhh"
Komentar cowok saat dibilang bau: “Halah, siapa juga yang bakal nyium bau ketek gue? lagian jomblo juga! Siapa peduli, Ini keren tauk"
.
Komentar cewek saat dibilang bau: “Masak sih aku bauk? Bentar-bentar, aku ambil deodoran sama parfum biar seger kayak cuaca hari ini,”
.
5. Gosok gigi saat sunrise menyelinap itu wajib, karena cewek selalu mencintai kebersihan. tapi “haram” bagi cowok.

6. Nggak cuci tangan saat makan itu biasa bagi cowok pendaki. Tapi, cewek nggak akan tega makan dengan tangan berlumuran lumpur saat mendaki

Sepertinya, para cewek terlalu sering melihat iklan “Cucilah tanganmu sebelum makan” deh!

7. Makan sepiring bareng-bareng lebih nikmat bagi cowok. Kadang, menunya dicampur-campur dalam satu wadah. Tapi ‘NO’ bagi cewek, bagi beberapa cewek, makan dalam satu wadah dan satu sendok bersama agak bikin “risih”.
.
8. Ganti CD saat di gunung?
Cewek paling anti dengan yg satu ini. Tapi, kalau cowok bisa hidup dengan membolak-mbalikkan celana dalam mereka.

9. Begadang di Gunung? bukan hal biasa bagi cewek

Cowok “Lha mau ngapain kalau nggak begadang? Masak jauh-jauh dari bawah sampai puncak cuman untuk tiduran. Tidur di rumah mah kapan aja bisa.”
.
Cewek “Ngapain begadang? Tenaga udah abis. Kaki pegel-pegel. Mending tidur biar besok kuat mendaki.”.
.
10. Bagi cowok, berpanas-panasan saat pendakian sudah jadi hal yg biasa, gimana dengan cewek?
.
“Sunblock.. mana sunblock.. ntar muka gue gosong dong kalau nggak pake sunblock”
//Diringkas dari phinemo.com

Jadi mitos atau fakta?
@mountnesia #mountnesia

Sempat Tak Direstui, Wilda Curi-curi Waktu Untuk Mendaki Gunung


Dikutip dari SURYA.co.id | GRESIK, Kecintaannya pada aktivitas outdoor membawa Wilda Sahliyah (20) mengenal dunia pecinta alam seperti dalam dunia pendakian gunung.

Gadis cantik yang berasaal Tanah Giri Jalan Sunan Prapen Nomer XIII ini sepakat jika dunia pendakian bukan hnya diperuntukkan kaum adam saja. Melainkan, wanita juga boleh mempunyai hobi mendaki gunung.

Tetapi bungsu dari lima bersudara ini juga sempat tak mendapat restu dari ibundanya untuk menggeluti hobi sebagai pecinta alam yang sudah tertanam pada dirinya sejak kecil itu.

Tentunya, inilah yng sempat membuatnya kecewa berat. Kemudian dirinya pun curi-curi waktu untuk melampiaskan hasratnya mendaki gunung.

Ketika orang tuanya sedang tiidak ada di rumah, dia pergi bersama teman-teman pecinta alam Pamtasi (Pencinta Alam MTS Ma'arif Sidomukti) untuk menuju ke Puncak Welirang 3.156 DPL yang ada di balik punggung Gunung Arjuna 3.339 DPL.

Sepulang dirinya dari pendakian, kemudian dia baru cerita ke ibunya kalau dirinya dari Puncak Welirang. Sontak, wnita berhijab ini pastinya sempat kena marah karna tidak izin saat mendaki gunung.

“Bukannya aku mau jadi anak yang gak patuh sama orang tua, cuma aku seperti itu ingin menunjukan ke ortu kalau di gunung itu gak seburuk yang dipikirkan. Di mana aku merasakan kenyamanan dan kagum sama ciptaan yang kuasa. Selain menikmati Alam kita juga menjaga Alam tersebut,” ujar Wilda kepada SURYA, Jumat (14/4/2017).

Mahasiswi dari universitas Gresik Prodi FKIP ini memberikan pngertian tentang safety pendakian dan membrikan pengertian kepada ibunya jika di dunia petualangan sperti mendaki gunung sesuai rule serta rute pndakian akan terbukti aman.

“Cara untuk meyakinkan ortu, aku menunjukkan ke mereka kalau aku bisa. Aku mandiri, dan bertanggung jawab sama apa yang saya lakukan. Terkadang aku memberikan penjelasan atau pandangan ke mereka tentang gunung. Meskipun ortu gak langsung yakin namun saya tetap berusaha sampai ortu benar-benar mengizinkan. Sekarang sudah bebas mau mendaki ke gunung-gunung manapun sudah diperbolehkan,” ungkapnya.

Wilda yg sekarang ini menjadi Pembina Pamtasi sngat menyadari apa yg dilakukan oleh orang tuanya. Ia sadar jika restu ortu itu sangat berharga karena apapun yang dilakukan atas restu ortu maka akan terasa nyaman dan selalu dimudahkan segala urusannya.

“Ya namanya ortu kan pasti was-was, apalagi aku perempuan dan anak bungsu pula. Wajar kalau ortu sempat melarang karena khawatir terhadap anaknya,” imbuhnya.

Penipuan Online Toko Outdoor dan Pendakian Gunung




#PENIPUAN ONLINE
Foto diatas adalah curhatan dari fb Herry K.A.

Dibawah ini salah satu toko outdoor online yang menipu pelanggannya.
Ini laporan yang diberikan oleh wahyu triatmojo via line @mountnesia - Jadi gini min awalnya itu saya invite pin bbm sama nomor wa nya terus saya nanya2 tentang tenda lafuma summertime soalnya saya juga lagi pengen lalu dia bilang ada tendanya stok yg summertime tinggal 2 dan yg lafuma campo tinggal 1 saya juga tanya harga lafuma summertime dia bilang kalo normalnya 1,1 juta tapi dia kasih harga 1 juta kalo yg campo harga normal 1 juta tapi dia ngasih harga kesaya 950 akhirnya setelah saya pikir dan diskusikan sama teman2 saya akhirnya mereka setuju dan saya nanya kalo mau transfers via rekening apa dan dia kasih rekening ini 037901000481562 A/n antiya BTanin bank Bri trus kan saya pribadi gak punya atm lalu saya minta tolong sama saudara saya untuk transfers sedangkan atm saudara saya bca lalu saya tanya sama dia trus dikasih ini 3091449089-eka oktavia wahyuni lalu setelah saya transfers ke rekening yg bca saya kasih tau tanda bukti transfernya lalu dia bilang segera kita proses besok jam 10 pagi kita kirim keesokan harinya saya hubungi tidak dibalas dan sore menjelang magrib dibalas bilang tadi udah dikirim jam 4 sore via jne sampai 2-3 hari dan saat udah 3 hari saya tanya barangnya kok belum datang dia bilang mungkin karena libur nasional tanggal 1 mei 2017 trus saya mulai timbul curiga pada saat saya minta nomor resi pengiriman tak kunjung ada balasan dari wa dia dan saat aku dm via instagram saya minta kejelasan tenda saya dia bilang mungkin besok datangnya trus ig saya langsung diblok dan saya chat via WA banyak sekali gak ada balasan sama sekali trus dia bales kemarin pengiriman tanpa nomor resi lalu saya tanya teman untuk keyakinkan diri saya teman saya yg kerja di jne bilang gak ada pengirim tanpa nomor resi klo gak ada nomor resi gimana mau ngecek barangnya lalu saya pikir dan yakinkan diri saya gak lama Wa saya diblok juga sama dia min.


Akhirnya saya minta bantuan teman saya,saya suruh invite wa sama bbm kemudian teman saya chat dia bilang klo storenya ada dipalembang dan saya minta bantuan teman saya yg lain dia jawab klo storenya ada dijogja




Itu kiriman dari teman saya yg saya mintain bantuan min


Sedangkan itu alamat yg dia berikan sama saya Untuk alamat saya sudah minta tolong teman anak kaliurang untuk cek dan hasilnya nihil. Dia bilang ke teman cewek saya klo alamatnya dipalembang sedangkan info dari temen saya anak jakarta dia kasih alamat di jogja min tapi pada saat teman cewek saya,saya minta tolong buat minta alamat yg dijogja dia bilang klo store lagi tutup min

Agar akun tersebut tidak tau mohon jangan di tag di instagram.

Pengalaman Mistis Lawu via Cemoro Kandang


Pengalaman mistis dari ig @widyandraa., Kali ini saya mau menceritakan perjalanan pendakian saya ke gunung lawu... 
Ini adalah perjalanan yg biasa saya lakuin... Ga ada yg aneh.. Ya biasa aja... pendakian biasa prepare seperti biasa... 
Pergi dr pasar senen menuju semarang poncol awal mula nya memang akan mendaki gunung merapi.. Tp banyak kabar cuaca disana sdg tdk oke.. Dan pos air hanya di basecamp berpergian utk 2 org dgn konidisi seperti itu kurang efektif.. Karena dr awal packing kita sudah keberatan dgn gear pribadi gear kelompok yg sudah di share dr awal... Di tambah air yg harus kita bawa utk keperluan naik, camp, dan turun... Karena gn.merapi tidak utk summit attack,, 
Singkat cerita kita merubah tujuan ke berangkatan kita menuju gunung lawu.. Dr semarang kita naik travel ke solo (mempersingkat waktu) dr solo kita ke tawamangu.. Dr tawamangu kita ke cemara kandang.. Dengan jarak tempuh sekitar 7jam dr semarang.
Sesampainya di cemoro kandang kita registrasi.. Setelah itu shalat qashar dzuhur-ashar, packing ulang dan berangkat kurang lebih sekitar puku 14:15 WIB... Untuk trek sendiri cukup landai, kareba cemoro kandang memiliki jarak tempuh bh panjang dr cemoro sewo yg sepanjang jalan lebih banyak jalan menanjak dan harak tempuh lebih sedikit... 
Part 1 
Sepanjang trek kita hanya berdua.. Sepanjang suami di belakang mengambil beberapa foto.. Saya berada di depannya untuk mencari jalan yg nyaman utk di pijak.. 
Mungkin suami tidak menyadari apa yg saya rasakan... Saya beberapa kali menabrak sarang laba laba besar... Dgn artian mungkin hari ini tdk ada yg mendaki lawu via cemoro kandang (tapi positifnya, mungkin saja laba laba itu baru beberapa jam yg lalu membuat sarangnya, hehehhe) 
Saya dan suami merasa hanya mengalami kelelahan kelelahan wajar... (ya dalam fikir kami, karena hanya berolahraga 1 hari dan bergadang terus selama seminggu ini ) 
Akhirnya sblm pos 1 kami berniat utk beristirahat sbntr sambil menyantap makanan karena kebetulan kami blm makan siang.... Entah hanya perasaan saya saja, atau suami saya juga merasakan.. Sepertinya kita kurang tepat membuka matrass dan kompor di lokasi ini... 
Bulu kuduk saya merinding dr awal pendakian dan di tenpat ini yg terparah.... Seperti banyak mata yg memperhatikan kita... Pohon bergoyang tidak sesuai dengan angin yg meniup.... (positifnya sekali lagi, mungkin ada tupai yg loncat dari satu pohon.ke pohon lain, hehehe) saya makan lebih cepat dr suami karena makin tidak karuan duduk disitu sambil.melihat jam tangan bahwa kita masih mengejar minimal pos 3 utk camp.. Karena disitu ada pos air,, suami pun meng iyakan kemauan saya... Jujur ini adalah pendakian saya yg terhorror bagi saya... Utk pendakian malam malam berjalan sendiri pun saya pernah.. Entah hanya di gunung ini sy merasakan byk yg ga beres.. Hehehehe..... Kita melanjutkan perjalanan kurang lebih saat itu pukul 14:40 an.. Blm jam 3... 
Perasaan makin tidak karuan dalam hati terus memanjatkan doa agar dilindungi... Namun langkah demi langkah kami seperti di sambut kiri kanan.. Begitu lah perasaan saya... Dan ketika suami teringgal dua belokan di belakang benar saja.. Saya melihat satu sosok yg sbenernya bukan hal baru bagi saya melihat sosok sosok seperti itu hehhe, .. Sosok tinggi hitam itu berdiri pas di jalur yg akan di lalui.. Mau tidak mau saya harus melalui nya.. Berdalih menunggu suami dan memalingkan pandangan dr sosok tersebut, ketika suami sdh dekat jaraknya dgn saya.. Saya kembali membalikan pandangan saya ke trek.. Dan sosok itu hilang, bukannya lega.. Saya malah semakin deg degan... Hehhehehe 😅😅😅

Part 2 
Setelah melewati jalan setapak dgn ilalang hijau menjulang tinggi bahkan tidak terlihat sinar matahari kearah kami.. Sy menaikan speed saya.. Dan suami saya teringgal lagi.. Ingin rasanya bilang... Kamu jalannya agak cepet, aku have feeln' not good... Tapi takut mereka nya ngerti... Saya uduk duduk di pohon yg sudah mati karena tumbang... Ketika saya duduk.. Dan mata ini tetap mencari disekitaran.. Saya melihat ada yg loncat dr belakang semak ke jurang... Ya jelas itu jurang.. Ketika saya berdiri dan ingin memastikan itu jurang, saya melihat kesebelah kiri dan itu memang jurang.. Entah perasaan saya ingin rasanya turun saja.. Padahal fisik saya sudah mulai ok utk nanjak... Ketika suami saya mulai dekat dia bilang.. "kenapa ya kok fisik aku payah bgt, mungkin kurang olahraga,," aku bilang mungkin beban tas mu itu lho... Sini mau di bagi lagi ? Karena meskipun kami share logistik.. Saya tau betul tas dia masih lebih berat dari tas saya.. Yg emang udh berat bgt juga 😅😅😅
..
Kita melanjutkan kembali perjalanan... 
Dan saya sendiri merasa ini belokan belokan ciluk ba... Hahhahaha karena setiap belokan kita tdk bisa melihat apa yg didepan.. Kuping mulai merasa aneh aneh.. Dan bulu kuduk makin berdiri ketika saya berhenti sejenak dengan dengan alasan menunggu suami yg tdk jauh dr belakang sambil celinguk ke atas melihat seperti bangunan.. Cuma berada di bawah pohon agak besar dan pandangan ini  tdk berhenti memandang bangunan itu... Saya merasa semakin tidak beres... Saya berdalih sakit perut dan bilang ke suami kalo ini aku udh telat 4 minggu lho ay... Suami saya jadi berfikir dan takut jika benar isterinya sudah hamil...sebenrnya saya sendiri ga ngerasain sakit perut.. Hanya saja memang feeling saya smkin kuat untuk turun aja.. Tapi saya masih saja mengurungkan niat tersebut..dan menuju bangunan itu. Ternyata itu bangunan pos 1, ya... Dengan keringat yg terus menetes sebesar besar biji jagung tapi kita baru sampe pos 1 😅😅😅 harus berapa kali lagi terkaget kaget.. Deg degan untuk melalui gunung lawu ini Ya Allah.. 😁😁😁 suami saya dengan sangat berani nya masuk ke dalam bangunan itu... Padahal saya sendiri sudah melihat sosok yg jangkung di trek tadi ada di sebelah lawang pintu yg suami saya masuki.. Saya terus memanjatkan doa... Karena tujuan kami memang mau naik gunung.. Bukan mau macem macem.. Tapi mungkin saja jejak langkah kami mengganggu.. Mungkin saja aroma masakan kami yg mengganggu.. Atau mungkin saja suara suara kecil kami mengganggu.. Who knows??  kan ... Saya tetap melangkah kan kaki  meninggalkan suami yg tertinggal di bawah.. Karena saya tdk mau berlama lama di situ.. Jujur aja ini pendakian pertama saya dengan mental yg paling lemah...untuk fisik, kami berdua masih merasa bisa utk naik.. Tapi sesampainya diatas.. Kami menemukan trek setapak yg lebih gelap lagi.. Saya ttp melihat jam... Sambil menghitung estimasi kapan kita sampai.. Dan memikirkan bagaimana kita camp diatas sana.. Baru trekking aja kita udh disambut terus.. Akhirnya saya bilang ke suami aku... " If I was pregnant, who felt the ghost was not just me .. but our child" dan suami saya akhirnya mengajak kami turun... Saya sedikit menahan untuk turun kembali... Tapi suami saya akhirnya melontarkan pertanyaan kepada saya "Are you more sure of going down or up?" dan saya bilang... Lets going down.. Suamipun menyetujuinya dengan semangat dan berkata OK. Kami turun dengan terburu buru suami ku berapakali terpeleset speed dia yg tinggi membuat saya  yg didepannya seperti ikut terdorong dorong...kita melewati tempat kita istirahat.. Tempat makan.. Dan tempat si mahluk berdiri saya merasa disentuh berkali kali..dan saya terus memacu speed saya  berapakali kita lewati tempat tempat itu akhirnya kita bertemu dengan 4 org anak muda yg sedang jalan jalan biasa pecah air mata saya menetes.. Baru kali ini saya ga kuat sama beginian.. Saya berapa kali liat.. Saya baru mengatakannya pada suami.. Dan suamipun tersenyum sambil berkata.. Aku tahu.. Aku tahu yg kamu lihat.. Aku tau yg kamu rasain.. Aku mencoba buat kamu berani.. Tapi aku juga ga pengen kamu kenapa kenapa.. Dan akhirnya kami memutuskan utk camp di campground lawu ketinggian  1426mdpl 
ini memang pendakian saya dengan judul "ter" 
Terdadakan. Ternekat. TernGEyel. Tersedikit. Tertakut. Terhorror. Terjauh. Dan terlelah karena akses menuju sini begitu sulit... Ini menjadi pengalaman saya yg paling ironis.. Tapi kami lebih baik begini daripada kami nekat melanjutkan perjalanan yg sudah terlalu banyak in trouble nya... 
Bukan maksudn menakuti... Karena setiap manusia memiliki keberanian.. Tuhab mencipatkan kita sebagai mahluk sempurna, namun utk meminimalisir dampak psikis.. Kita memutuskan utk tdk melanjutkan pendakian tanpa penyesalan. Sekian. Jangan lupa berikan tanggapanmu dengan like, komen & tag temenmu di postingan ig @mountnesia

Melihat Milky Way di Atas Gunung

Sudah berjumpa dengan Milky Way? Sekitar seminggu ini langit malam cerah terus di gunung - gunung Jawa Tengah. Tag aja temenmu yang mau diajak nonton milkyway di puncak😊. #milkyway #jawatengah

Photo credit @mrizkyrkt
Loc : Mt. Prau, Jawa Tengah

Apa itu milky way?
Adalah galaksi Bima Sakti (arti dalam bahasa Inggris Milky Way, yang berasal dari bahasa Latin Via Lactea, diambil lagi dari bahasa Yunani. Gugusan bintang Milky way ini bisa dilihat dengan jelas dari puncak gunung / diatas gunung di Indonesia sekitar bulan april sampai september, dimana saat itu musim kemarau dan biasanya pada malam hari akan sangat cerah. Untuk mengambil foto bintang bintang galaksi bimasakti ini tidak dapat menggunakan sembarangan kamera. Perlu memakai kamera berkualitas tinggi. Proses pengambilannya juga perlu bersabar. Dibutuhkan waktu sekitar 30 detik untuk memotret pemandangan milky way, dan kamera tidak boleh bergerak / bergoyang sedikitpun selama proses pengambilan gambar.

Jika hanya ingin memotret bintang, mungkin kamu bisa kapan saja. Tapi ingat, bumi kita berputar. Ada kalanya milkyway juga tidak terlihat dari tempat kita berdiri.

Milkyway  akan sulit terlihat jika bulan sedang ikut nimbrung. Jadi, akan baik kita memotret saat bulan baru muncul, sehingga malam gelap yang akan lebih panjang.

Banyak juga software untuk mengetahui atau mengecek kondisi bintang seperti stellarium, sky guide, dan banyak sekali di app store.

Umumnya, yang paling enak memotret milky way itu adalah ketika saat sekitar bulan April – September di arah selatan.


Kisah Nyata Hilang di Semeru Selama 5 Hari

Berikut adalah pengalaman hilang di Semeru selama 5 hari dari salah satu rekan @yanuari_rico, yaitu Dian Susanto, berikut kisahnya:

Tgl 18 november 2006

Saya (Dian Suanto) yang biasa dipanggil stempel dan hnya ingin berbagi cerita karena teman yang kadang bertanya tentang perjalanan sya. Tanggal 18 November 2006 saya dan windarto yg biasa dipanggil metehek adalah anggota Mahapala D3 FE Unej Jember sudah merencanakan untuk melakukan perjalanan ke gunung semeru setelah akhir ujian semester. Kami berdua mengajak teman yg juga mahasiswa FE Unej yaitu Fuad Haditya dan Sholeh hanafi. Kami mempersiapkan segala kebutuhan dan bekal untuk ke gunung semeru.

Tgl 19 november 2006

Pagi hari itu kami berempat dari jember menuju lumajang dengan menggunakan dua sepeda motor, firasat tidak baik sempat terbesit saat salah satu motor kami mengalami kerusakan pada rantai sepeda motor, tetapi kami buang jauh-jauh pikiran tersebut. Dari lumajang kami mampir ke pasar senduro utk melengkapi perlengkapan perbekalan terutama logistik. Dari pasar senduro kami lanjutkan ke ranu pane sekitar pukul 11 siang. Sampai di ranu pane kami titipkan sepeda motor di rumah Pak Tumari. Disana kami sempat bertemu dengan Tim OPA Janagiri dari Jogja. Tim kami melewati jalur watu rejeng, sementara tim janagiri melewati jalur ayak-ayak. Sore hari kami bertemu kembali di ranu kumbolo, selama perjalanan hari pertama fuad diare, tp bisa teratasi dengan minum obat. Di ranu kumbolo kami mendirikan tenda dan memasak makanan.

Tgl 20 november

Perjalanan dilanjutkan dari ranu kumbolo ke kalimati stelah mengambil air di sumber mani, kami lanjutkan perjalanan ke arcopodo & mendirikan tenda di sana. Pada malam hari Windarto(metehek) mengalami sesak nafas karena asmanya kambuh & obat yang biasanya disemprotkan ke mulutnya habis. Kondisi fisik kawan-kawan saat itu kurang baik & mereka memutuskan untuk tidak muncak esok hari, & saya pun mngurungkan niat untuk menuju puncak melihat kondisi fisik kawan-kawan.

Tgl 21 november (hari pertama hilang)

Sekitar jam 3 pagi rombongan janagiri yang mendirikan tenda di kalimati rupanya mulai menuju puncak & melewati tenda kami di arcopodo. Mereka menawarkan bantuan oksigen dan mengajak kami untuk ke puncak mahameru. Setelah kami berkoordinasi akhirnya saya & tim janagiri menuju puncak, sementara 3 teman menunggu di tenda karena kondisi fisik yg tidak memungkinkan ke puncak mahameru. Sekitar pukul setengah 6 pagi sya mencapai puncak & berfoto bersama rombongan janagiri. Sementara ada satu teman janagiri yang bernama kolap diantarkan ke tenda kami di arcopodo karena kondisi fisiknya yg kurang bagus, dan saya juga mendapat kabar bahwa kondisi windarto jg kurang baik, karena itu saya memutuskan turun lebih dulu ke arcopodo untuk melihat kondisi teman saya itu. Karena asyiknya turun dengan medan yg lebih ringan daripada ketika menuju puncak akhirnya saya terlalu ke kanan dari jalur yg seharusnya menuju ke cemoro tunggal yaitu jalan menuju arcopodo. Saya lihat banyak pohon cemara dan saya teruskan ke bawah mengikuti jalan lahar yg saya pikir akan tembus ke arcopodo atau kalimati, sampai saya terjatuh ke jurang yg tingginya sekitar 14 meter & kaki kiri saya cidera sehingga terpaksa saya seret untuk berjalan. Dengan kaki kiri yg sakit saya terus berjalan ternyata sampai sore hari saya sudah di bibir tebing curam dan dalam yg dikatakan orang blank 75 dan saya tersadar bahwa saya tersesat, nama blank 75 adalah tempat biasanya ditemukan survivor yg tersesat / meninggal / tempat survivor ditemukan selamat dibibir jurang, itu saya ketahui setelah sya selamat. Saya naiki punggungan agar tidak terikut air saat hujan krena gerimis saat sore itu dan saya membuat bivak sekedarnya dari tanaman disekitar punggungan itu. Sementara perlengkapan yg saya bawa hanya tas daypack, kamera, tempat minum & jaket serta pakaian yg melekat di badan. Mlm hari sangat gelap sampai sy tidak bisa melihat apapun & tidak bisa membuat perapian karena hujan & tidak membawa korek. Situasi psikologi seperti tak percaya bahwa saya tersesat, masih berharap ini hanya mimpi. Perasaan campur aduk jadi satu antara cemas, takut akan serangan binatang buas dll, dan tak percaya bahwa saya tersesat.

Tgl 22 november (hari kedua survival)

Pada saat matahari mulai terbit saya berjalan & mencari puncak yg tinggi untuk mencari jalan keluar dan menghangatkan tubuh dengan cara berjalan. Tak seperti yg dibayangkan, pada saat saya menaiki punggungan yang saya rasa tinggi dan bisa melihat sekeliling ternyata masih banyak lagi punggungan yg lebih tinggi & banyak jurang disekitarnya. Siang hari kepala saya rasanya pusing rupanya karena sudah dua hari saya tidak makan. Mulailah saya ber-survival dengan mencari daun yg bisa dimakan dan banyak tersedia di sana sesuai dengan ilmu diklatsar survival yang saya pelajari di MAHAPALA mengenai ciri tumbuhan yang bisa dimakan. Awalnya sempat muntah juga karena perut tidak terbiasa. Selama perjalanan saya juga memakan bunga anggrek dan buah murbei yg saya jumpai di punggungan gunungan atau pinggir jurang. Untuk air saya gali di pasir bekas hujan semalam , endapkan airnya dan saya masukkan ke tempat air minum. Sampai sore hari saya belum menemukan jalan keluar, hujan mulai deras sementara saya ada dipinggir jalan lahar, saya perhatikan air semakin tinggi dan terjadi longsor, lalu saya cari tempat yang agak tinggi. Tidak sempat membuat bivak, saya tidur melingkar di pohon besar agar tidak jatuh ke jalan lahar dan di sapu oleh air dari atas. Malam hari saya berfikir, saya pernah melihat peta countur semeru bahwa di sebelah timur adalah tempat yang landai dan biasanya di sanalah letak perkampungan. Saya putuskan besok saya harus ke arah timur dengan kompas alami yaitu matahari.

Tgl 23 november (hari ketiga Survival)

Pagi hari setelah melihat sinar matahari saya langsung berangkat berjalan ke arah timur menaiki punggungan yg kadang terjal dan terjatuh saat berpegangan ke semak-semak yg tidak terlalu kuat atau terjatuh terguling-guling terpeleset saat menuruni jurang. Uniknya ada suatu lokasi yang datar, setelah saya injak saya terjatuh kedalam, rupanya dataran tersebut adalah anyaman alami dari akar2 pohon. Siang hari saya melewati celah pepohonan dan ada lubang yg dalam diantara pohon tersebut, sepertinya jika terjatuh kesana sulit untuk bisa selamat krn lubang vertical yg sangat dalam. Selama perjalanan saya tetap memakan dedaunan yang bisa dimakan dan mengambil air dari ceruk-ceruk di bebatuan sisa air hujan semalam. Sampai sore hari saya menggali tanah di lereng di bawah akar pohon besar untuk saya gunakan tidur. Malam hari terdengar suara dentuman beberapa kali sepertinya semeru sedang aktif karena malam-malam sebelumnya tidak terdengar suara sekeras itu. Selama saya tersesat yang paling berat adalah saat hari mulai gelap, malam serasa panjang sekali dan keadaan jiwa juga gak nyaman. Entah kalau saya bikin api apakah perasaan itu sedikit reda, sayangnya hampir setiap malam turun gerimis atau hujan yg agak deras. Ditambah lagi tidak ada korek api. Ini hnya pkiran saya, jika sya memaksa membuat api dg kondisi kayu yg basah & tdk berhasil, hny akan melemahkan mental saya & menguras tenaga, sekali lagi ini hanya pemikiran saya pribadi & mungkin bertentangan dg prinsip survival.

Tgl 24 november (hari ke empat survival)

Masih tetap sendiri menuju ke arah timur, sempat putus asa juga karena seperti di kepung oleh bukit-bukit yg tak ada ujung jalan keluarnya. Saya menghibur diri dengan cara bernyanyi dan berusaha berbicara dengan diri saya sendiri. Saya menciptakan teman yg fiktif untuk diajak berbicara agar kejiwaan & semangat tetap terjaga. Di punggungan gunung sy sempat melihat kotoran binatang yg besar, saya pikir itu adalah kotoran binatang buas dan saya cepat berlari untuk menghindari hal yg tak diinginkan. Cukup berat untuk melewati hutan yg mungkin belum pernah dilewati oleh manusia, vegetasinya sangat rapat sehingga sulit sekali untuk dilewati dan sy tak membawa pisau tebas untuk membuka jalan. Hampir menjelang malam sya melihat ada bekas potongan pohon, hati sangat gembira, seperti ada harapan jalan keluar. Saya lihat di sekitar tapi tak ada jalan hingga malam dtg dan saya membuat bivak dari bekas potongan kayu2 tsb. Sepanjang malam sy berdoa agar esok bisa menemukan jalan keluar karena sy yakin bekas potongan kayu ini menandakan pernah ada orang yg ke sini.

Tgl 25 november (hari ke lima Survival)

Pagi hari sy sangat senang karena setelah mencari di sekitar potongan pohon, akhirnya sy menemukan jalan tikus(jalan setapak) menuju arah barat hingga mentok jalannya buntu, berbalik arah ke timur sy ikuti jalan ini terus sampai sy lelah dan beristirahat sejenak. Kaget rasanya setelah sekian hari untuk pertama kalinya bertemu dengan manusia, org tersebut adlh pak suwadi & pak tamin. Rupanya mereka sedang mencari rotan di hutan. Orang tsb mengatakan jika saya terus mengikuti jalan tikus ini akan sampai di hutan bambu & perkampungan, tp saya tidak mau mengambil resiko akhirnya sy menunggu dua orang tsb menyelesaikan pekerjaannya mencari rotan sampai esok hari baru mereka turun, sy pun tidur di gubuk mereka di hutan, sudah lumayan perut terisi & air gula hangat yang diberikan oleh mereka.

Tgl 26 november

Setelah dua orang tsb mendapatkan rotan yg mereka inginkan akhirnya mereka turun melewati hutan bambu dan sy mengikuti dari belakang sehingga sampai di sungai kampung sumbermujur desa candipuro. Di pinggir sungai sy melihat air sangat jernih, saya minum karena sy beberapa hari hanya minum air keruh campur pasir. Ada seorang pria yg akan mandi di sungai menanyakan sy mau kemana kok membawa tas & memakai sepatu serta celana yg sudah sobek compang camping di beberapa bagian, rupanya hal yg tak lazim di kampung. Pria tsb bernama pak Tohari, sy jawab bahwa sy tersesat di gunung semeru. Dia bertanya kembali apakah sy yg diberitakan hilang di koran, televisi dan radio, sy jawab tidak tau karena selama sy hilang, sy tidak tau keadaan di luar, lalu org tsb membawa sy ke rumahnya, entah siapa yg memberi kabar, di sana sudah banyak orang kampung, setelah mandi di sungai sy diberikan pakaian ganti, makan, minum dan dipinjami HP untuk menghubungi sekretariat Mahapala. Awalnya teman di sekretariat tidak percaya kalau yg menelepon adalah sy, mereka meminta ciri-ciri pakaian yg sy kenakan. Setelah mereka percaya karena pakaian yg sy kenakan sesuai dengan ciri-ciri pakaian yang terakhir sy gunakan, mereka menghubungi tim SAR yg ada di semeru dan saya di jemput oleh tim SAR gabungan lumajang. Setelah dibawa ke RSUD Lumajang, saya dibawa ke skretariat PA32, keesokannya dibawa kembali ke ranupane dan bertemu dengan teman SAR kabupaten lumajang, TNBTS, teman SAR OPA dan yg lainnya yg tidak bisa saya sebut satu persatu. Sy sangat berterimaksih kepada mereka yg meluangkan waktu untuk menjadi TIM SAR. Mungkin itu yg bisa saya ceritakan dari kisah saya di semeru. Sekedar pesan saya, bahwa kita hanya manusia biasa yg tidak bisa melawan alam. Dan kita adalah makhluk yg kecil dihadapan Tuhan.

Dian Susanto

MHPL NIA 0520363, jangan lupa untuk komen pendapat dan kesan kalian di instagram @mountnesia. Terimakasih dan semoga bermanfaat untuk dunia pendakian Indonesia 😊.

Pengalaman 3 Hari Hilang di Gunung Merapi

Berikut adalah pengalaman true story hilang selama 3 hari di gunung merapi jawa tengah dari instagram @yanuari_rico yang dibagikan kepada @mountnesia

             Sekarang tanggal 9 di Bulan Desember 2013...jam 10.15 , terbangun tadi pagi ada yang ngasih tau kalo pasar Bubrah , Merapi sedang dibicarakan misterinya di Kompas TV. MERAPI??? Mendengarnya Aku langsung teringat 36 hari yang lalu, tepatnya tanggal 3 November 2013.

Setelah packing pada Malam hari tanggal 2 November 2013, yang sejak bulan lalu temen2 udah pada ngrencanain dan udah pada nyamain hari libur buat berangkat ke Merapi, Merbabu. Siang hari sampai sore hari aku dan Panji menyiapkan Logistik dan perlengkapan yang akan kami gunakan untuk berangkat kesana. Setelah Selesai, Aku,Afi,Panji, Jamal Berangkat ke Terminal

              Tepat pada pukul 18.00 Waktu Indonesia Bagian Jam Tanganku, kami tiba di Terminal Purabaya (Bungurasih). Sambil menunggu kedatangan teman teman kami , Mas Danis dan Andik (Bukan Vermansyah ya), kami mengisi perut dulu. Sejam kemudian masih ga ada tanda tandanya kemunculan 2 sosok itu. Pada akhirnya, tepat  pukul 19.15(Udah ngantuk,capek,bahkan ada yg abis BAB), datanglah Mas Danis, tetapi Andik baru dateng 15 menit setelahnya dan ternyata dia mengajak temannya, Mas Sigit. Mungkin karena long week-end (pas libur aga panjang), jadi lama juga baru dapet bus. Tepat jam 20.15 kami naek Bus M*RA ke SOLO.

                Wahai ketika, aku terbangun, rupanya hari pun sudah pagi (pukul 03.00), hingga tiada aku sadari, aku lah tiba di Kota Solo(mirip lyricnya kereta malam, hehehe). Di Tirtonadi Solo, kami istirahat 15 menit dan melanjutkan perjalanan selama 30 menit ke Boyolali. Di terminal itu, kami istirahat lagi untuk melaksanakan ibadah subuh, yah walaupun sempat kesulitan buka kunci Mushola. Hmmm kurang amal Ibadah kali ya??? Di sini kami ketemu temen baru Mbak Al, dan Mas YAYAN.

              OK laa..udah jam 05.10, saat nya berangkat ke pasar Cepogo, dapet harga yang murah sih, tapi kok mobilnya ga kuat nanjak,dan hasilnya kami harus berjalan kurang lebih 1 km ke Ps.Cepogo!!!. udah nyampek pasar, udah dapet bis ke Selo, eh Nunggu jam 7 baru berangkat. 53 menit kemudian, sampailah kami di Selo, yah lagi lagu jalan ke New Selo..ga apa2,,,itung2 pemanasan..

Jam 08.15, di New Selo. Di Tulisan ala Holywood itu kami berada saat itu untuk melengkapi logistik, dan ada diantara kami yang sarapan disini termasuk aku ,heheheheh. Jam 09.20 kami berangkat deh , pastinya gak Lupa buat berdoa dulu... 0:)

                Well,perjalanan dimulai (tanpa kepikiran kalo ini awal petualanganku jadi survivor,hahaha). Setelah melewati perkebunan warga, Jam 10 udah tiba di Gapura “Welcome To Merapi Mount National Park”. Hm.. gak terasa 2 jam berjalan Aku, Afi, Al, dan yayan(Yang lain tertinggal 30 menit,karena ada 2 diantara kami fisiknya perlu perhatian khusus) berhenti sejenak karena rintik2 air turun membasahi, dan kami akhirnya memutuskan untuk melanjutkan perjalanan dan berencana untuk berhenti di POS I. 1 jam berlalu,belum juga bertemu POS I, tapi kami menemukan tempat yang sangat indah untuk foto,,,hehehe

                Setelah Mas Yayan ngabisin sebatang rokoknya, ternyata sudah gak gerimis lagi. Dan kami lalu melanjutkan lagi perjalanan menuju POS I. Sepanjang perjalanan banyak pendaki yg turun dan mengingatkan kami bhwa di atas pasar burah sedang dilanda badai. 1 jam berlalu lagi, dan kami sempat putus asa, krena POS I aja belum ketemu, gimana puncaknya? Jangan2 sejenis Argopuro nih Gunung Merapi. Gak tahan juga sih, akhirnya saya tnya orang aja. “Pak, POS I masih jauh ga?”. Eh ga taunya si bapak ngejawabnya “Lhah!udah jauh dibawah tadi mas, 10 menit lagi aja udah pos II”. What!! Ternyata tempat kami berhenti tadi waktu gerimis itu di dekat POS I.hehehe

                Nyampe di Pos II kami memutuskan untuk menunggu teman temn yang lain dan lagi2 sempatkan waktu untuk berfoto...heheheheh Wajib tu hukumnya. 30 menit, belum dateng juga, sampe si Afi udah terlelap dan mimpi nyampek puncak.hahah. 15 menit kemudian dateng lah Mas Danis, Andik(bukan Vermansyah), dan Sigit udah nyampek, tapi Panji?Jamal? belum keliatan juga ujung pusernya...tapi Mas Danis Bilang “Gak apa2,kita tunggu di pasar bubrah aja”. OK 5 menit kemudian kami melanjutkan lagi ke Pasar Bubrah, sepanjang perjalanan sampe di atas Watu Gajah, ada sekelompok pendaki lain mengingatkan kami, “di Atas Badai Mas...”. “OK,makasih...badai pasti berlalu” kataku. Benar juga katanya, belum juga nyampek pasar Bubrah, angin bener2 ga seperti yang kami kira. Sebelumnya juga saya pernah merasakan tiupan angin kencang di Gn. Arjuno, tapi tidak sekencang ini, ini adalah angin terkencang yang pernah saya rasakan. 30 menit kemudian kami sampai di Batu In Memoriam Pelajar PA SMA 4 Yogyakarta. Setelah mengheningkan cipta sejenak kami mencari tempat istirahat untuk memasak dan menunggu teman2 yang lain.

                Lama juga kami menunggu teman2 sambil kami menyalakan kompor Gasmate kami dan memasak di atas nesting, tak jauh dari tempat persembahan masyarakat sekitar untuk Gn Merapi. Ada Tengkorak Kerbau di balut dengan kain Putih tak jauh dari tempat kami. Di sebelah kami juga ada tempat menyalakan dupa, yang sempat tersenggol olehku. Sekitar pukul 14.45 datang lah Mas Danis disusul oleh Panji dan Jamal. Bravo Kawan!!!kalian sanggup sampai disini.

             Sekitar jam 15.05, itu adalah Terakhir kali saya melihat Jam, karena setelah itu HP kumasukkan ke dalam tas kecil. Tak lupa Victorinox kesayanganku (hadiah dari temanku ketika dia di Eropa). Kugantungkan di pergelangan tanganku dan kumasukkan ke dalam saku celana seragam abu-abuku dulu yang selalu menemaniku ke Pucak Gunung.  Botol Air mineral 600ml yang sudah kumodifikasi tutupnya kuberi selang, jadi aku ga perlu repot2 buka tutup. Semua barang2 bawaan kami tinggal di Pasar Bubrah,untuk meringankan beban kami

Kabut dan badai sudah mereda, kami melanjutkan perjalanan menuju puncak merapi. Namun di tengah perjalanan, kabut mulai nampak lagi, dan angin mulai kencang, tapi tanggung sudah setengah perjalanan pikir kami. Sudah sejauh ini, sangat sayang apabila kami gagal. Hingga akhirnya setelah jalan pasir, batu kami lalui kami sampai juga di Puncak Merapi pada pukul 16.00. lagi2 kami harus menunggu panji dan jamal untuk sampai diatas. 15 menit kemudian, mereka sampai juga di Puncak Merapi. SELAMAT KAWAN!!!

              Tak lama , tiba2 hujan mengguyur kami, tepat jam 16.30 kami memutuskan turun. Sekarang giliranku dan mas Danis yang memBack-up panji dan Jamal. Mereka berlima turun lebih dulu. Hujan yang begitu deras memaksaku untuk menitipkan Tas yang aku bawa ke Mas Danis, karena didalamnya ada Beberapa HP yang dititipkan kepadaku. Aku  berada di depan jamal untuk mencarikan jalur yang aman untuk dilalui. “Lewat kanan ae !dalane enak!”(lewat kanan saja,jalannya enak). Itu adalah kata2 terakhirku sebelum akhirnya ada badai yang menghempasku jatuh.

                Jatuh!ya aku jatuh tersungkur dan terperosok pasir dan kerikil. Mungkin kurang lebih sama dengan  Ian (Saykoji) waktu jatuh di film 5 cm. Lama juga aku terjatuh hingga aku sempat ling lung, pusing. Aku melihat ke belakang, hanya kabut yang aku lihat, jarak pandangku tak lebih dari 2m!!!. Aku teriak Mas Danis, namun tak lebih kencang untuk mengalahkan suara angin kala itu!. Aku jongkok, untuk melihat jalanan (terhalang kabut). Aku kira aku tetap berada di jalur yang benar, namun aku tertinggal karena tadi sempat terjatuh. Dan aku ingin bergegas sampai pasar bubrah sebelum petang! Aku berdiri, ternyata sandal gunung eig*rku sebelah kiri putus. Kulepas dan kutinggalkan ditempatku kala itu, aku berjalan cepat. Namun sial, lagi2 aku ga bisa menjaga keseimbanganku yang terhempas angin, Lagi2 aku jatuh, aku terkejut kala itu karena angin benar2 kencang, membawa terbang batu2 seukuran lebih besar dari kelapa. Aku putuskan tidak berdiri karena beresiko terkena batu2 itu. Hingga akhirnya batu berukuran lebih dari 2x ukuran bola basket mengenai punggungku. Alhamdulillah, aku bersyukur sekali batu itu tidak kena Kepalaku.

                Ya ALLAH!!!aku tersesat!!ya aku tersesat, Sendirian, di gunung Merapi. Aku berlari ke bawah menghindari batu2 yang terbang itu. Hingga akhirnya aku sampai  di tempat yang mirip pasar Bubrah. Mirip? Ya Mirip sekali, namun aku hanya berputar2 ditempat itu. Dan aku sadari!itu bukan Pasar Bubrah!!!Seolah2 tidak ada jalan. Aku duduk di sebuah batu, menenangkan diri, berpikir bagaimana aku bisa keluar dari sini dan kembali ke Rumah di Surabaya.

                Aku melihat kala itu ada jalur seperti sungai, namun gak ada air sama sekali, sepertinya bekas sungai. Ya!pikirku kala itu, Jalur sungai pasti ujungnya ada pemukiman/perkebunan warga. BISMILLAH! Aku akan memilih jalur itu. Berbekal Victorinox, Botol Air Mineral 600ml (isinya hanya 1/4nya saja), sandal eig*r sebelah kanan saja, sarung yang kulilitkan di kepala(Mirip jaman kecil kita dulu main Ninja2an...). pakaian yang kupakai kala itu adalah kaos batik, bergambar plesetan wayang yang bermain gitar, Celana SMA, dan Baju Almamater HISTALA-7(Himpunan Siswa Pecinta Alam SMAN 7 Surabaya) organisasi yang aku cintai sampai sekarang ini meskipun sudah 6th jadi alumni.

                Praktikum Survival dimulai, aku lalui jalan berbatu yang benar2 sangat tajam terasa menusuk telapak kaki kiriku. Mungkin saat itu sekitar pukul 5.30an, saya tidak tahu pasti. Yang jelas matahari mulai menghilang, berganti shift kerja dengan sang Rembulan. Ak sampai pada ujung jalan! Ya ternyata dibawahku ini tebing, meskipun Cuma sekitar 5m(ga tau pastinya,GELAP), tapi benar2 extrim bagiku dimana gak ada safety apapun, penerangan saat itu hanya cahaya dari ang pencipta, terima kasih Bulan. Aku turuni tebing itu dengan segenap tenaga dan kemampuanku, yap aku sampai dibawah dengan selamat, namun, yang gak selamat adalah sandal eig*rku yang kanan!(lain kali aku beli di toko Resminya aja deh :p).

                Ya lagi2 menelusuri jalur bekas air ini, namun sekarang tanpa alas kaki apapun. Saat itu, aku merasa ada yang mengikutiku, namun saat kulirik betapa terkejutnya aku. Sepertinya aku melihat batu kerikil yang melayang di dasar tebing tadi...ah,mungkin hanya perasaanku saja. Aku melanjutkan langkah kakiku. Tuhan! Cobaan apalagi sekarang, hawa dingin benar2 terasa saat itu ditambah rintik2 air kini ikut menemani perjalananku...

                Jalan, terus berjalan saat itu,,,,tanpa makanan....ya! terakhir makan adalah jam 8.30 tadi pagi. Minum pun tinggal ¼ botol...Letih, di tambah medan yg sangat sulit dilalui dengan kondisi cahaya seperti ini, aku melihat ada batu besar sekali dan ada cekungan dibawahnya dan ada batu yang lebih kecil seolah mengganjalnya agar tak jatuh. Aku rasa aku bisa istirahat didalamnya. Dengan resiko batu itu kapanpun bisa saja jatuh. Istirahat, itulah yang kudapatkan ketika dulu mendapat ilmu tentang survival. Aku harus menyimpan tenaga untuk melanjutkan perjalanan di hari esok.

                Menangis!!ya aku akui aku menangis sekencang kencang nya kala itu, Mama, keluarga, semua teman2 yang ikut tadi, Afi,Panji, Danis, Andik,Sigit,Al,Yayan. Aku sayang kalian!!! Aku ga mau kalian menangis karena aku. Jadi aku harus selamat!!! Setelah aku mamu menenangkan pikiran dan hatiku, aku minta kepada Allah,,,ya Allah, sampaikan kepada ibuku,mama aku tidak apa – apa. Aku akan selamat sampai Surabaya! Hingga akhirnya akupun terlelap

                Paginya aku terbangun oleh cahaya matahari. Aku tidur sengaja menghadap timur biar bisa bangun ketika matahari kembali menggantikan shift sang bulan. Yah dengan doa aku melanjutkan perjalanan. Sebelumnya, aku minum sisa air yang tinggal 2 tutup botol kala itu, dan akhirnya aku memutuskan untuk menampung (maaf) air seniku untuk bertahan hidup, karena saat itu tidak ada air tanah sama sekali, batu2 pun tidak menampung sedikitpun air.

                Saat itu aku putuskan coba naik lagi ke puncak merapi, setelah batu2 an yang benar2 tajam dan tebing yang benar2 ga bisa aku lalui untuk kembali turun ke Jalur Selo. Saat itu juga aku putuskan untuk kembali ke jalur antah – berantah tadi. Aku coba untuk memakan vegetasi yang ada di sekitar batuan , namun sial hanya gatal yang aku dapat di lidah. Sesuai dengan yang aku pelajari dulu, bahwa jika dilidah gatal = beracun, ya sudah aku tidak melanjutkan. Hanya minum yang ada di botol ini selama perjalanan.

                Sedih, bingung, sedikit rasa takut yang menemaniku sepanjang perjalanan. Kakiku mulai perih siang itu, darah mengalir daritelapak kaki aku usap dengan sarungku. Terlintas ide untuk merusak sarungku menjadi alas kaki. Tidak ada lagi rasa eman(sayang) meskipun setiap jumat sarung ini yang kugunakan :( . Meskipun sedih, takut dll, namun jujur saja . aku sangat takjub saat itu melihat jurang dan tebing yang benar2 luar biasa. Allah, sungguh Indah ciptaan engkau... Ah sayang tidak ada kamera / hp yang aku gunakan untuk mengabadaikan moment ini.

                Sore mulai menjelang, seperti mendapat “Jackpot” aku melihat ada genangan air di atas batu, yang cukup untuk 3 teguk. Alhamdulillah, terima kasih Allah untuk Air ini. Mohon maaf ya teman2 hewan yang minum ini, sekarang aku benar2 butuh. Lagi2 aku melajutkan perjalanan ke Timur ini dan ,,,,,, Subhanallah, aku melihat pemukiman warga,meskipun masih jauh tapi aku bersyukur.

Yah, saat hari udah mulai sore, aku lagi2 terpesona dengan keindahan batuan di tebing2 Merapi... melewatinya dan bersyukur banyak air melimpah di bebatuan yang menampungnya. Namun itu semua teralihkan saat aku melihat sesosok berbulu putih seukuran itik hinggap di batu yang berjarak kurang lebih 50m dari tempatku mengumpulkan air. Apakah elang yang ada dihadapanku?. Benar,itu Elang Jawa rupanya. Pikiranku yang kala itu di kendalikan oleh perut, benar2 gelap mata dan mengendap2 dibelakangnya. Aku buka victorinoxku, pikirku paling tidak aku harus dapatkan telurnya!.

              Semakin dekat dan mendekatlah aku pada sarang itu, namun aku benar2 terkejut, ternyata sang Elang Putih itu sedang menyuapi anak2nya, ALLAH, aku benar luluh...gak tega , bener2 ga tega melihat keluarga bahagia itu, aku tutup kembali victorinoxku, namun aku lagi2 takjub akan alam merapi, ternyata si Induk melihat keberadaanku dengan jarak sekitar 10 – 5 m, namun bukan seperti yang aku bayangkan si Induk akan marah kepadaku dan menyerangku, malah dia seolah membiarkan ku melihat keindahan Bulunya. Oh Tuhan terima kasih, seandainya aku membawa kamera/ hp aku bisa berbagi dengan semua.

           Lalu seolah aku lupa waktu karena melihatinya, aku teringat bahwa aku sedang tersesat. Aku harus kembali berjalan. Sampai jumpa kawan : )   semoga kau dan anak2 mu sehat selalu dan tetap berada di alam tanpa gangguan manusia yang tidak bertanggung jawab. Aku melihat ke atas, seolah2 ada jalan setapak, aku gembira sekali ternyata sudah bertemu dengan jalur manusia, aku usaha semampunya untuk kesana, namun aku benar2 terkejut, jalur ini bukanlah jalur manusia...jejaknya jejak binatang. Oh tuhan, jika aku kesana hanya dua pilihannya aku yang memakan hewan2 itu, atau aku yang menjadi santapannya. Aku putuskan kembali ke jalur yang tadi.

        Aku harus bersiap karena sebentar lagi Bulan akan menggantikan matahari. Aku harus mencari tempat berteduh, bertahan hidup malam ini, istirahat untuk menyimpan tenaga. Aku menemukan batu namun tidak sebesar kemarin,dan hanya bisa menampung badanku saja,jadi kakiku tetap diluar, ah tidak apa, tidak mendung cuacanya, tapi alam berkalta lain. Malam itu hujan benar2 deras, cukup lama juga aku bertahan dalam keadaan basah dan dingin. Oh tuhan, cobaan apa lagi ini, aku seolah melihat kabut tebal,namun berbentuk manusia melayang ke arahku....ak hanya bisa berdoa....Setelah itu aku tertidur karena terlalu letih.

Di dalam tenda, aku , Afi, Danis, dan Andik baru bangun. Dan seperti biasa Andik menyuruhku membuat sarapan untuk kami. Mereka tersenyum padaku. Dan aku membuka nesting dan memasak nasi dan telur untuk sarapan. Ketika aku makan, keadaan berubah!aku terbangun karena saat itu aku muntah berkali – kali. Dan aku sadari baru saja aku terbangun dari mimpi yang benar2 Indah...Istighfar,,,hanya itu yang aku mampu kala itu. Dan aku memaksa tubuhku untuk mampu terlelap lagi dengan keadaan yang ada.

             Paginya aku bangun, “ah...ini saatnya aku melanjutkan” pikirku. Namun sebelumnya ak mengumpulkan air dari hujan yang mengguyurku semalam. “ ada hikmahnya juga “, gumamku sambil tersenyum. Berbicara sendiri, menyanyi dan seolah berbicara dan memohon kepada Allah itu adalah hiburan yang ada saat itu. Benar kata orang yang mengalami nasib sama denganku saat sendiri dan tersesat di hutan, kita akan merasa sangat butuh berkomunikasi, atau kita akan mengalami gangguan mental.

              Setelah botol terisi dengan air ,walaupun tidak sampai penuh. Aku melanjutkan lagi perjalanan. Hingga aku dihadapkan dengan tebing yang sangat amat curam dibanding tebing2 kemarin. Kedalamannya mungkin antara 100-150m. Oh tuhan, aku tidak sanggup. Aku orientasi medan saat itu mencari jalan lain untuk sampai di dasar tebing itu. Setelah beberapa menit perjalanan aku istirahat, kebetulan aku melihat WALANG(bahasa jawa=belalang). Dan aku menangkapnya. Meminta maaf padanya dan mematahkan kaki dan kepalanya(sadis ya?). dan aku telan mentah2. Lumayan lah, dan aku mencari lagi dan mendapat 1 ekor lagi.

Setelah sarapan walang itu, aku mendengar ada gemuruh kaki beberapa orang dan ada yang berbicara, ya! Aku yakin itu manusia. Aku berteriak sekuat tenaga. “TOLOOOOOOONG!!”, kataku. Dan mereka menjawab “Rico?”, tanya mereka mengonfirmasi apakah itu benar2 aku.ternyata teman2ku sudah lapor ke TIM SAR. “Ya Pak.”,jawabku. “cari tempat terbuka dan Lambaikan Kain ke arah Utara”,  salah satu dari mereka menyuruhku.     Setelah mereka mendapat posisiku, aku disuruhnya untuk mencari tempat berteduh dan tidur, menunggu mereka untuk menjangkau tempatku, karena mereka berada di atas ketinggian sekitar 100-150m diatas tempatku berada.

                Setelah aku tertidur, aku sayup2 mendengar suaraku dipanggil oleh tim SAR yang sekarang aku kenal dengan sebutan Mbah Gondrong, Agus Santosa adalah nama Aslinya. Mereka datang dan memberiku air minum dan Roti isi Coklat. Namun tubuhku ga mampu menerimanya . aku muntah berkali2. Namun kata mereka teruskan saja sampai tubuhmu nerima makanan, Berarti kamu sudah siap melanjutkan perjalanan. Jam 1 siang, mereka menanyaiku, apakah sudah siap. “OK”,jawabku. Sebelumnya ayo kita foto dulu, kata TIM SAR lain yang aku kenal sekarang, namanya mas Misdi. Setelah aku ganti celana SMAku(ancur) dengan celana RAIN COAT yg dibawa TIM SAR, aku memakai full body harness, dan dikaitkan pada beberapa webbing yang disambung2.

             Aku dan Tim SAR naik ke atas, dimana mereka pertama kali menemukanku, dan setelah aki sampai atas aku baru tau ternyata itu adalah jalur pendakian merapi via Deles. Di dekat pos 2 deles. Aku naik dengan segala sisa tenagaku. ditambah denga hujan yang lagi lagi mengguyurku dan TIM SAR, aku diberikan RAINCOAT oleh salah satu dari mereka. Sungguh perjalanan yang meletihkan. Sepanjang perjalanan aku dihibur oleh TIM SAR dengan saling bercanda. Namun ditengah perjalanan ketika kami break sejenak, aku terkejut di beri tahukan oleh TIM SAR, bahwa aku adalah korban ke 3 yang selamat dari tempatku ditemukan tadi, yang lainnya meninggal dunia. Innalillahi....

                Sekitar jam 2 aku sampai di jalur pendakian deles. Di sana aku dirawat oleh TIM SAR, ganti baju, diberi minyak gandapura, dan diberi Mie Instan dan Air Hangat, “Terima Kasih “,ucapku lemah. Kami lalu melanjutkan perjalanan ke POS Deles. Akhirnya pada pukul 8malam kurang lebih, kami tiba di POS Deles dan sudah ada Mobil Ambulance dan Afi yang menungguku. Kamipun langsung menuju Rumah Sakit Cakra Husada Klaten.Setelah itu di RS, aku dirawat. Tak lama kemudian aku mendengar suara ibuku. Ternyata keluargaku menyusul ke klaten. Tangis haru menyelimuti Kakak, Paman dan teman2 ku. Hanya ibuku yang tersenyum dan memelukku sambil berkata, “Mama yakin kamu selamat”. Dan setelah infusku habis, kami berpamitan dengan TIM SAR yang berbaik hati dan tulus menolong tanpa mengharapkan apapun. Kami pun pulang ke Surabaya.
Kalau blm percaya,... Dibawah ini video beritanya,

                MERAPI....terima kasih atas pengalaman yang luar biasa ini. Aku tidak akan melupakan nya seumur hidupku. Terima kasih TIM SAR Boyolali dan KLATEN. Terima kasih pada TNI yang bekerja sama dengan Tim SAR. Terima Kasih WALANG. Matur Nuwun Sanget Mbah Gondrong, Mas Misdi, Mas Gimar. Dan semua yang telah menolongku. Aku ga akan melupakan jasa2 kalian. SEKALI LAGI, TERIMA KASIH MERAPI...SAMPAI JUMPA LAGI.....

Aku, (foto diatas, sedang jongkok) Rico Yanuari alias Walang. 15 Menit Sebelum kejadian

Jangan lupa untuk like, komen dan tag temen2mu di instagram @mountnesia ya guys.




Pengalaman Kejadian Berbahaya bertemu Pendaki Pemula

Mohon ijin share
Pendakian Gn.slamet tgl 14-16 April 2017.
Ada kejadian berbahaya yang patut kita ambil pelajaran mengenai pendaki pemula..
Berawal dari pendakian yang kami lakukan sebanyak 10 orang. Sabtu pagi antara pos 1 dan pos 2 via jalur Bambangan Purbalingga kami menolong 1 pendaki yang cidera karena kakinya kram.. kami berusaha
menolong dengan batas kemampuan yg kami punya... Pendaki bernama Ferry Dermawan Sihotang asal Kali  deres, Jakarta Barat ini melakukan pendakian seorang diri dengan gear yang minimalis tanpa membawa
tenda.

Setelah carrier ferry kami backup sampai pos 2, kami menawarkan apakah kuat melanjutkan perjalanan,
ferry mengaku kuat tapi tidak sanggup membawa barang bawaannya, dan karena perjalanan menuju pos 7  masih panjang saya menawarkan ferry unt menyewa porter berhubung kami semua masing2 membawa carrier. Ferry mengaku membawa logistik, dan mengaku tidak sanggup menyewa porter dengan biaya
175rb...
Akhirnya saya putuskan untuk patungan, dan porterpun membawa carrier terberat di kelompok kami... Sabtu
malam hari kami memutuskan mendirikan tenda antara pos 6 dan pos 7, di venue camp itulah kami baru tau
bahwa ferry tdk membawa logistik sama sekali, tdk tau cara melipat sleeping bag dan matrass bahkan lucunya tidak tau dmn pintu tenda

Minggu pagi kami melakukan summit attack bersama, sampailah kami di puncak gn. Slamet, kami sarapan
bersama dengan menu biskuit dan energen.

Di puncak ini, persediaan air minum kami tersisa 1/2 botol aqua ukuran 1,5 lt, sampai 1/2 perjalanan turun
menuju camp, air kami habis dan kami pun makan daun cantigi untuk mengganjal perut serta dahaga...
Dengan tenaga yg tersisa kami pelan2 dan hati2 kembali ke camp sambil me-monitoring satu sama lain
tetap aman dan sehat.

Ternyata ferry tdk bisa menjaga diri serta mengandalkan orang lain untuk menjaga dirinya.. ferry sampai di
camp 30menit lebih lambat dari kami. Setibanya di camp ferry marah2 karena ditinggal dan mengarang
cerita tidak dikasi makanan kepada pendaki lain.. akhirnya ferry memutuskan untuk turun ke basecamp
bareng pendaki lain karena dia harus mengejar waktu.. setelah kami selesai masak dan makan siang
bersama ferry, dia langsung melanjutkan perjalanan menuju basecamp karena kami sudah punya rencana
extend 1 malam di pos 2.

Ditengah perjalanan turun kami menyalip ferry yg telah di backup oleh kelompok pendaki lain dari bekasi...
Akhirnya kami memutuskan tdk extend dan melanjutkan perjalanan sampai basecamp dan tiba pukul 11
malam.

Setelah laporan di pos simaksi kami cek ternyata ferry tdk melakukan simaksi.. pendaki nekat ini tdk tau
caranya simaksi serta tdk paham apa itu logistik dan gear.. rekan2 pendaki dari bekasi yg backup ferry
sampai di basecamp, tapi Ferry tdk mau turun dan dengan keras kepala stay di pos 1, terpaksa 1 rekan
pendaki dari bekasi menemani di pos 1 tanpa logistik dan gear, kami bersama rekan pendaki bekasi serta
pendaki2 lain musyawarah untuk mengirim logistik ke pos 1. Ferry pun sampai di basecamp senin pagi dan
diberi sanksi tegas oleh petugas basecamp Bambangan.
Saya share pengalaman ini semoga bisa dijadikan pelajaran untuk kita semua bahwa gunung bukan lah
tempat refreshing santai, perlu gear, skill serta aturan. Semoga bisa dijadikan pelajaran agar tidak ada
kecelakaan lg yang berakibat fatal.

Sumber : Fb Oktaviana Amartanie

Tag temenmu biar lebih bermanfaat
@mountnesia #mountnesia

Dilarang Ortu, Wanita Cantik ini Curi Waktu untuk Mendaki Gunung

Sempat Tak Direstui, Wilda Curi-curi Waktu Untuk Mendaki Gunung

Dikutip dari SURYA.co.id | GRESIK, Kecintaannya pada aktivitas outdoor membawa Wilda Sahliyah (20) mengenal dunia pecinta alam seperti pendakian gunung.

Gadis cantik asal Tanah Giri Jalan Sunan Prapen Nomer XIII ini sepakat jika dunia pendakian bukan hanya diperuntukkan kaum adam saja. Melainkan, wanita pun juga boleh mempunyai hobi mendaki gunung.

Akantetapi bungsu dari lima bersudara ini sempat tidak mendapat restu dari ibundanya untuk menggeluti hobi pecinta alam yang sudah tertanam pada dirinya sejak kecil itu.

Tentunya, hal inilah yang sempat membuatnya kecewa berat. Kemudian dia pun curi-curi waktu untuk melampiaskan hasratnya mendaki gunung.

Ketika orang tuanya tidak ada di rumah, dia pergi bersama teman-teman pecinta alam Pamtasi (Pencinta Alam MTS Ma'arif Sidomukti) untuk menuju ke Puncak Welirang 3.156 DPL yang ada di balik punggung Gunung Arjuna 3.339 DPL.

Sepulang dirinya dari pendakian, dia baru cerita ke ibunya kalau dari Puncak Welirang. Sontak, wanita berhijab ini pastinya sempat kena marah karena tidak izin saat mendaki gunung.

“Bukannya aku mau jadi anak yang gak patuh sama orang tua, cuma aku seperti itu ingin menunjukan ke ortu kalau di gunung itu gak seburuk yang dipikirkan. Di mana aku merasakan kenyamanan dan kagum sama ciptaan yang kuasa. Selain menikmati Alam kita juga menjaga Alam tersebut,” ujar Wilda kepada SURYA, Jumat (14/4/2017).

Mahasiswi Universitas Gresik Prodi FKIP ini memberikan pengertian tentang safety pendakian dan memberikan pengertian kepada ibunya jika di dunia petualangan seperti mendaki gunung sesuai rule serta rute pendakian akan terbukti aman.

“Cara untuk meyakinkan ortu, aku menunjukkan ke mereka kalau aku bisa. Aku mandiri, dan bertanggung jawab sama apa yang saya lakukan. Terkadang aku memberikan penjelasan atau pandangan ke mereka tentang gunung. Meskipun ortu gak langsung yakin namun saya tetap berusaha sampai ortu benar-benar mengizinkan. Sekarang sudah bebas mau mendaki ke gunung-gunung manapun sudah diperbolehkan,” ungkapnya.

Wilda yang sekarang ini menjadi Pembina Pamtasi sangat menyadari apa yang dilakukan oleh orang tuanya. Ia sadar restu ortu itu sangat berharga karena apapun yang dilakukan atas restu ortu maka akan terasa nyaman dan selalu dimudahkan segala urusannya.

“Ya namanya ortu kan pasti was-was, apalagi aku perempuan dan anak bungsu pula. Wajar kalau ortu sempat melarang karena khawatir terhadap anaknya,” imbuhnya.

Sumber : surya.co.id