Pendakian Gn. Gede via Jalur Cibodas

Tags
FOLLOW official instagram pendaki gunung >>> @MOUNTNESIA

Alun - Alun Suryakencana
Hallo para pecandu ketinggian hehe, selamat bersantai dan menikmati akhir pekannya ya. Kali ini buat nemenin waktu bersantai teman-teman, saya akan sedikit bercerita tentang perjalanan ke Gn.Gede sebelum bulan Ramadhan kali ini.   Sebelumnya perkenalkan dulu nama saya Mutiara Annissa Oktapiani (IG:mutiaraao). Saya bersama Bang Diki (IG:dikiaqj) merencanakan untuk membuka bulan ramadhan kali ini dengan muncak bareng ke Gn.Gede. Bagi saya Bang Diki ini selain jadi partner nanjak, dia juga udah jadi kakak sekaligus ayah kalau lagi muncak bareng, maklum kalau sudah bt pasti mood manja gw keluar “maafkan adikmu yang selalu menyusahkan ini bang hehe”. Kita berdua berdua berasal dari satu daerah yang sama dengan si doi Gede ini haha, yap dari Cianjur men hihi, dan karena inilah menjadi salah satu penyebab serunya kisah kita kali ini, haha.

Sebelumnya kita berdua sudah merencanakan plan ini sejak jauh-jauh hari, dan sempat ngobrol-ngobrol dengan teman-teman yang punya satu hobi yang sama ini untuk muncak bareng. tapi, karena kita gak serius dan Cuma bicara-bicara saja, yah karena ngerasa deket dan tuh gunung gak bakalan kemana-kemana akhirnya rencana kita pun terbengkalai bekitu saja. Sampai H-7 sebelum ramadhan ini plan belum juga terealisasikan juga, hmm. Karena waktu yang semakin mepet, dan kaki udah gak nahan buat di ajak nanjak akhirnya kita memutuskan untuk muncak juga “haha akhirnya”. Walaupun sempat ada kendala dengan logistik yang belum memadai tuh, dan karena acaranya dadakan meskipun sudah di rencanakan sebelumnya so pasti gak ada temen, yah akhirnya kita sibuk chat sana sisni ngajak yang mau di ajak, dan hasilnya nihil hadeuhh-, dan ini artinya memaksa kami untuk mau tidak mau terpaksa muncak berdua aja ‘bukan so romantis loh yah haha”.

Jumat (27/5) kami memutuskan untuk berangkat dan rest di basecamp terdekat. Kita mengambil jalur via Cibodas. Perlu di ketahui nih gengs, perjalanan dari Cianjur ke Cibodas cukup dekat hanya perlu waktu tempuh sekitar 30 menit saja, bisa di tempuh dengan kendaraan roda dua ataupun roda tiga “haha ngaco” angkutan umum pun banyak banyak yang nganter sampai Cibodas/area basecamp. Lokasi Cibodas ada di kabupaten Cianjur,  Jawa Barat.  Untuk menuju basecamp Cibodas atau pintu masuk pendakian Cibodas aksesnya cukup mudah yakni tinggal menuju kebun Raya Cibodas karena sudah satu arah menuju basecampnya. Nah loh walaupun udah nyampe sebenernya tetep galau nih. Pertama, kita yakin gak yakin buat muncak berdua dengan keadaan logistik yang bisa di bilang yaa gitu deh “Hahah”. Kedua, sebenarnya hari Senin (30/5) saya harus berperang dengan soal soal UAS “namanya juga masih anak sekolah mas hikss’.

Tiket  masuk menuju Gede-Pangrango Rp.35.000/orang. Pendaftaran untuk pendakian Gn.Gede-Pangrango di lakukan 30 hari sebelum pendakian. Booking online bisa dilakukan via website resmi TNGGP di http://booking.gedepangrango.org. Start awal pendakian kita harus melakukan registrasi ulang pada pos pendaftaran.

Sabtu (28/5) pagi (04.00) akhirnya kami bersiap-siap untuk memulai pendakian, karena kami Cuma berdua akhirnya kami ikut tim lain walaupun di jalan akhirnya berpisah juga, hhfffftt nasib. Foto ini di ambil pada saat perjalanan turun, inilah tim lain yang sempat bersama kami itu, “kasian Bang Dicky jadi juru foto hehe”


Pintu masuk

Awal perjalanan kita lalui dengan jalan setapak yang sudah berbatu (area taman wisata menuju curug cibereum) 30 menit perjalanan awal kita sampai di di sumber air atau telaga kecil yang dinamakan  Telaga Biru, saat itu kami sampai pada waktu subuh, sehingga kami menunaikan ibadah solat subuh terlebih dahulu “ngambil wudhu disana airnya suegerr banget”. Treknya belum terlalu berat dan hanya di dominasi oleh pohonan yang tidak terlalu padat.

Trek pendakian


20 menit berselang kita akan menjumpai pos panyangcangan/rawa panyangcangan yakni percabangan antara jalur pendakian jalur kiri dan lurus curug cibereum. Disana juga kami sempat istirahat untuk mengambil nafas, yah karena pagi-pagi campur ngantuk jadi nafas kami lumayan terasa tersengal-sengal. Setelah merasa cuukup mengambil nafas, kami pun melanjutkan perjalanan kembali.
Pos Panyangcangan


Selanjutnya dari percabangan rawa Panyangcangan kita akan melewati jalan rawa yaitu Rawa Denok yang sudah dibuat sedemikian rupa, sehingga nyaman untuk di lalui, jalan tersebut dibuat dari beton, namun sayangnya sudah banyak beton yang mulai keropos sehingga menyebabkan banyak jalanan yang berlubang “untung bukan hatinya yang berlubang haha” intinya kita tetap harus hati-hati yah guys. Sampai disini udara dingin pun mulai hilang karena mentari mulai sudi menghangatkan tubuh kami berdua. Setelah itu kami menjumpai beberapa pos yang sama, dan selepas dari jalan rawa kita akan bertemu dengan jalan bebatuan dan mulai terjal, memutar, menanjak, dan yang pasti mulai dari sini perjalanan naik gunung sebenarnya di mulai.

Jembatan Rawa Denok


Dua jam berselang akhirnya kami sampai juga di shelter air panas, ya mata air panas yang ada di jalur pendakian Gn.Gede, treknya pun cukup ekstreem, jalannya berbatu licin dan hanya di bantu oleh seutas tali saja. Kami pun disini sempat mengambil air untuk minum, kapan lagi nemu air panas d jalur pendakian hehe. Berlama lama disini rasanya sudah seperti di pemandian air panas saja haha.

Sumber mata air panas


Perjalanan pun kami lanjutkan kembali, dan setelah 1 jam menembus hutan belantara “ haha biar dramatis dikit” akhirnya kami sampai di kandang batu, cukup lega juga karena sedari tadi perut nagih minta diisi, kami berhenti sejenak dan membuka bekal disini. Pos kandang batu adalah tempat yang cukup luas  dan mampu menampung beberapa tenda. Dan tak jauh dari sini kita menemui air terjun kecil, yaitu air terjun Panca Weleuh 

Air Terjun Panca Weleuh


Selanjutnya 1 jam perjalanan lagi, kami sampai di pos Kandang Badak. Nah, di pos inilah menjadi pos pavorit para pendaki untuk mendirikan tenda dan bermalam, sebabnya karena tempatnya strategis yakni persimpangan antara ke jalur Gede dan Pangrango,dan sumber air yang melimpah. Kami sempat beristirahat disini, tapi kami tidak bermalam disini, dan kami tetap melanjutkan perjalanan. Disini juga kami sempat menunggu kakak2 dari Karawang yang sempat berbarengan dengan kami (berfoto di papan welcome) namun mereka memutuskan untuk bermalam di kandang Badak “yahhh berdua lagi deh Bang Diki”. 

Pos Kandang Badak


Nah, perjalanan mendaki puncak dari Kandang Badak memakan waktu yang cukup lama, yakni 2 jam perjalanan masing-masing menuju puncak Gede atau Pangrango. Dalam perjalanan menuju puncak Gede kita akan bertemu dengan jalan yang bercabang, satu jalan memutar/alternatif, dan satunya lagi via tanjakan yang mendunia haha siapa tak kenal dengan tanjakan setan. Jika ingin dua duanya kita bisa melalui jalur pertama saat berangkat iya si setan itu hahah, dan pulangnya lewat alternatif. Khusus kali ini saya dan Bang Dicky melalui tanjakan setan “biar macu adrenalin haha” . 

Tanjakan Setan


Setelah selesai melewati tanjakan setan, akhirnya kami memasuki tanjakan Rante Gunung Gede, yakni trek terakhir menuju puncak Gede. Treknya di dominasi oleh pohonan khas dataran tinggi dan batuan. Kurang lebih 8 jam perjalanan kami lalui, karena waktu itu saya sempat melihat jam di handphone, dan menunjukan pukul 13.15, akhirnya dengan penuh kegembiraan dan hanya bersorak-sorak berdua saja “miris banget kita bang hahah” dengan wajah yang lusuh dan badan yang pegal pegal kita sampai puncak juga yeeeahhh senengnya haha.

Puncak Gn. Gede (28/05)


Sesampainya di puncak, kami sempat beristirahat kembali dan mendokumentasikan beberapa moment hihi, dan kami memutuskan untuk bermalam di Alun-alun Suryakencana. Untuk bisa sampai di Suryakencana kami butuh waktu tempuh sekitar 20 menit. Sampai disana kami buru buru mendirikan tenda, makan, dan bersih-bersih pakaian. Tidak terasa langit Gede pun mulai gelap dan brushhhh hujan pun seketika mengguyur tenda imut kami, sehingga semalaman kami kebanjiran dan plus gabisa tidur “lengkap sudah cerita kita mas hikss:’( niatnya piknik eh malah panik hahha, tapi kami tetap menikmatinya. Malam itu terasa berbeda sekalidi suryakencana, selain hujan yang setia menemani kami, todak jauh dari camp kami terdengar para pendaki lain yang sedang bersolawat, sehingga malam kami pun tidak kesepian dan kami merasa senang karena merasa lebih tenang dan nyaman meski berada di tengah hutan seperti ini “jarang2 yah, terharu hihi” . Keesokan harinya pun kami tidak sempat ikut summit seperti yang lain, emm kenapa? yap karena kita berdua kesiangan-,- entah jam berapa kami mulai memejamkan mata hehe, mungkin terlalu lelah menjaga kolam lele kami maksudnya tenda kami “hayati lelah bang”.

Alun - Alun Suryakencana

Cuaca pagi itu pun tidak secerah yang kami harapkan, awannya mendung, kabutnya tebal dan udaranya superdingin, yang membuat perut kami nagih di isi yang anget anget “etdahhh kompornya mati” mungkin karena malam kehjanan kali yaa. Akhirnya kami sarapan seadanya aja, sembari menunggu matahari yang sudi menghangatkan kompor kami hahah. Untuk mengobati kebosanan kami akhirnya kami jalan-jalan keluar sembari menikmati udara pagi, aku dan Bng Diki punya misi untuk terlihat happy walaupun cuma berdua “haha fake smile”, tapi jujur kami menikmati suasana pagi itu dan kami pun take picture di sana-sini. Dan memang ada beberapa spot di Suryakencana yang menurut kami bagus untuk diabadikan. 

Spot Alun - Alun Suryakencana
Alun - alun suryakencana
https://www.instagram.com/13arie/

Setelah puas bermain-main dengan hamparan bunga edelwies yang cantik, jam 11 pagi (29/5) akhirnya kami memutuskan untuk turun, dan kami harus lewat Cibodas lagi karena kendaraan kami simpan di Cibodas, sebenarnya dalam hati ingin sekali via putri hehe:”) yah u know lah via putri Cuma butuh waktu tempuh 4 jam saja. Setelah packing kami pun berjalan beriringan dengan para pendaki lain yang sama-sama mau pulang “cie rindu rumah haha”, 30 menitan kami pun sampai kembali di puncak Gede, di atas kami di suguhi kabut yang tebal dan jarak pandang kami pun sangat terbatas sehingga harus ekstra hati-hati.

Puncak Gn. Gede (29/5)
Puncak Gn Gede
https://www.instagram.com/13arie/

Setelah melewati jalur yang sama, dan dalam perjalanan turun kami kembali lagi bertemu dengan kakak2 dari Karawang itu, sehingga kami bareng sampai basecamp “hehe ada temen juga” pukul 16.00 kita sudah sampai di basecamp, “buru-buru ambil nasi karena laper” hiksss, Alhamdulilah kita sampai dengan selamat, dan tidak ada kejadian yang aneh-aneh “ngeri juga yah kalo ada” meski perjalanan kami lewati dengan berdua saja dan kesepian haha, tapi kami sangat menikmatinya dan pasti perjalanan ini terasa sangat menyedihkan sayang kau tak duduk di sampingku kawan “loh ko jadi nyanyi haha” enggak itu ekspektasi saja, justru perjalan kami sangat indah dan tidak akan terlupakan sampai tujuh turunan hahah.

Oh iya foto yang kami ambil kebanyakan pada hari kedua, yaitu saat turun, karena pada hari pertama kami melakukan pendakian pada pagi hari jadi yah spotnya kurang terlihat sehingga tidak sempat berfoto deh hehe.  


Penulis
Mutiara Annissa Oktapiani (IG:mutiaraao)

Editor 
Tim VIApendaki, ig official @mountnesia

Artikel Terkait


EmoticonEmoticon