Kisah Mistis Pendakian Argapura Part 2

FOLLOW official instagram pendaki gunung >>> @MOUNTNESIA



Part 2 : Langkah Kaki dan Suara Wanita Misterius di Gunung Argopuro

Baca dari part 1 biar lebih lengkap, klik disini

Hari Jumat pagi, kami bersiap sarapan dan packing untuk melanjutkan perjalanan. Pagi harinya kami dihibur dengan obrolan santai yang kocak dari guyonan para mahasiswa Jogjakarta. Ditengah obrolan, Irfan lalu menanyakan siapa yang keluar tenda malam-malam.

"Jam segitu siapa yang keluar malam-malam ya," tanya si Irfan.

"Kalau kami sudah tidur mas," ucap Andi sembari memakan sarapan mie gorengnya.

"Iya mas, ngapain malam-malam gitu kami keluar tenda, dingin tau," sahut Kaka, pendaki dari Depok.

"Lah, terus siapa dong yang jalan malem-malem diluar tenda? mas dari Surabaya kali ya," tanya irfan lagi.

"Gak ah, kami tidur pulas semalaman," ujar si Soni.

"Yaudahlah, gak usah dibahas lagi. Habis ini kita langsung packing ya. Karena kita akan menginap di Taman Hidup Argapura. Jangan sampai kita kemaleman dijalan, apalagi pas lewat hutan ke Taman Hidup," lanjut Soni.

Sepertinya, pukul 10.00 WIB menjadi waktu yang pas bagi kami untuk memulai lagi pendakian. Perjalanan ke Taman Hidup cukup melelahkan, karena melewati berbagai bukit yang menanjak. Sekitar pukul 17.00 WIB, kami akhirnya sampai ke pelataran Taman Hidup. Karena waktu itu musim hujan, jadi kami tidak bisa mendirikan tenda didekat bibir danau dan memilih nge-camp di pelataran Taman Hidup didalam hutan.

Karena Jumat malam adalah malam terakhir kami berada di gunung bersama-sama, akhirnya Soni, Irfan dan kelima mahasiswa Jogjakarta memilih untuk menikmati malam didepan tenda sambil bercerita-cerita. Saya dan Dian memilih tinggal didalam tenda sambil bercerita-cerita. Tiba-tiba saja, Dian memanggil nama Soni.

Mereka ngobrol didepan tenda mahasiswa Jogja yang jaraknya diujung kiri pelataran, sedangkan tenda saya ada diujung kanan pelataran. Tepat disamping kayu pohon yang tumbang.

"Son, Soni.. kamu ya,?" ucap Dian disela perbincangan kami.

"Lah kan mas Soni lagi diluar ngobrol sama teman-teman," ucapku.

"Emang kenapa mas, panggil-panggil nama mas Soni," tanyaku penasaran.

"Aku barusan denger suara langkah kaki disebelah tenda kita," kata Dian.

"Oh, mungkin suara hewan aja kali," jawabku. Aku ndak mau suasana didalam tenda menjadi beda kalau percakapan itu dilanjutkan. Lalu kami kembali melanjutkan perbincangan lain soal masa-masa pendakian gunung pada saat kuliah.

Sementara itu, si Soni dan teman - teman sedang asyik ngobrol dan ketawa cekikikan karena cerita konyol dari salah satu mahasiswa Jogjakarta. Tiba-tiba mereka mendengar ada langkah kaki berlari dari danau yang masuk ke hutan. Mereka langsung terdiam dan saling melirik satu sama lain.

"Hewan kali itu," ucap Soni.

Dan semua menjadi hening. Agar suasana tidak kaku, Soni kembali melanjutkan obrolan dan cerita serunya tentang hal-hal lucu.

Karena malam semakin larut, mereka akhirnya memilih kembali ke tenda masing-masing.

Irfan, yang letak tendanya tepat berada didepan tendaku, langsung berjalan kearah tendanya. Saat dia berjalan mendekati tendanya, dia merasakan ada seseorang yang berjalan dibelakangnya. Namun, ketika ia menoleh ke belakang, tidak ada siapapun dibelakangnya. Teman-teman yang lain sudah masuk ke tenda masing-masing. Irfan pun bergegas kembali berjalan ke tendanya, tetapi lagi-lagi dia merasakan ada seseorang dibelakangnya. Karena merasa takut, Irfan berjalan cepat dan langsung membuka resleting tendanya.


Sialnya, resleting tendanya saat itu macet dan suara langkah kaki yang berada dibelakangnya semakin dekat dengan dirinya. Irfan pun merasakan ketakutan yang amat luar biasa. Saat suara langkah kaki itu hampir dekat darinya, resleting tenda akhirnya terbuka dan Irfan langsung meloncat kedalam tenda tanpa membuka alas kakinya. Irfan langsung menutup resleting tenda tanpa berani untuk melihat keluar tenda. Setelah ia melepas sendal dan meletakkan disudut tenda, Irfan langsung masuk ke sleeping bag, sedangkan Irma sejak tadi sudah tidur pulas.

.......

"Mas..mas,, bangun mas.., "suara seorang wanita yang langsung membangunkan Irfan dari tidurnya.

Irfan pun langsung bangun karena mendengar Irma membangunkannya. Saat badannya sudah duduk, ia melihat Irma sedang tertidur pulas disampingnya, bahkan menghadap membelakangi Irfan.

"Ma, kenapa kamu bangunin aku," kata Irfan setengah mengantuk. Irfan lalu melirik jam di tangannya, sudah pukul 02.00 WIB dini hari.

Namun, Irma tetap saja tidak bergeming dan masih tidur dengan terlelap. Irfan pun menggoyangkan badan Irma untuk membangunkannya, namun Irma masih tidur dengan pulasnya.

Karena melihat Irma yang tidak bangun-bangun, Irfan pun kembali untuk melanjutkan tidurnya. Belum sampai 30 menit dia memejamkan mata, suara wanita itu kembali membangunkannya.

"Mas.. mas.. bangun mas, "suara si wanita.

Irfan pun bangun kembali dengan perasaan kesal. Kenapa Irma kembali membangunkannya. Saat sudah terbangun dan kembali melihat Irma, juga tidak ada respon apapun. Posisi Irma malah tidak berubah seperti saat pertama kali Irfan terbangun tadi. Seketika bulu kuduk Irfan menjadi berdiri karena suara itu ternyata bukan berasal dari Irma. Ketakutan Irfan semakin menjadi saat dia melihat ada bayangan berdiri didepan tendanya yang kemudian berjalan menjauh. Irfan segera membaringkan tubuhnya dan masuk kedalam sleeping bag.

Dibelakang tendanya, dia mendengar ada banyak langkah kaki terdengar jelas dan riuh. Irfan pun ketakutan didalam sleeping bag-nya. Dia berusaha untuk memejamkan matanya agar ia bisa tertidur. Namun, suara berisik dibelakang masih saja terdengar. Tak lama kemudian, suara berisik tersebut hilang. Irfan pun lega dan kembali tertidur pulas.

Belum lama ia tertidur, suara wanita itu malah kembali terdengar dan membangunkannya. Irfan kembali merasakan ketakutan, kali ini ketakutannya menjadi luar biasa. Karena suara itu jelas sekali terdengar dari sampingnya. Irfan membaca seluruh ayat - ayat pendek yang ia ingat berulang kali, sampai akhirnya ia bisa tertidur pulas.

........

Pada hari Sabtu pagi, kami semua sudah memulai aktivitas diluar tenda. Namun hanya Irfan yang belum menampakkan hidungnya.

"Irma, Irfan masih tidur ya,?" tanyaku.

"Iya, dia tidurnya pulas banget. Udah kubangunin tapi masih aja molor, ngorok tuh dia," jawab Irma.


Tidak lama kemudian, Irfan keluar dari tenda dengan mata yang masih terlihat sembab. Ia kemudian mengambil makanan yang sudah disediakan Irma. Satu jam kemudian kami segera bersiap untuk turun dari gunung melewati jalur Bremi.

Sekitar tiga jam perjalanan ditempuh, kami sampai ke Pos Bremi. Setelah semuanya membersihkan diri dan berganti baju, kami pun saling bercerita tentang serunya pendakian.

"Wah, gila.. semalam saya dibangunin wanita. Kirain itu suara Irma, gak taunya bukan. Suaranya juga beda, Saya sampai gak bisa tidur, mungkin baru jam 5 subuh bisa tidur," ucap di Irfan.

"Ah yang bener fan? Waktu di Taman Hidup ya?, "tanya si Andi.

"Iya, pas kita bubar habis ngobrol didepan tendamu. Waktu ke tenda saja, saya diikutin dari belakang. Pas noleh ke belakang gak ada siapapun. Apesnya lagi horor gitu, resleting tenda macet lagi. Mana tambah cemas saya, "lanjut si Irfan.

Mendengar itu, semuanya langsung tertawa saja.

---
Saat menaiki mobil cateran menuju ke kota Situbondo, saya dan Dian memilih untuk duduk di kursi depan, tepat berada disamping sopir taksi. Nama pak sopirnya adalah Pak Alim (nama samaran). Kami berdua bercerita tentang kisah mistis saat pendakian, pak Alim malah langsung senyum-senyum mendengar cerita kami. Menurutnya, apa yang kami alami selama pendakian belum apa-apa dibandingkan dengan cerita pendaki sebelumnya.

"Kamu masih mending suara musiknya mati aja. Lah, ada pendaki lain gitu juga, malah lebih serem lagu. Waktu mendengar musik dari handphonenya, tiba-tiba musiknya mati. Lalu lagunya hidup lagi, tapi bukan musik di handphone-nya, namun lagu sinden jawa gitu yang gak ada di handphone-nya," ucap Pak Alim.

"Sama juga, pendaki itu mendengarkan musik di Cisentor waktu magrib. Makanya kalau lagi magrib atau sendirian, jangan dengerin musik, nanti bisa terdenger lagu lain,hihihi," lanjut Pak Alim.

"Kalau suara perempuan itu, yaa mungkin aja temenmu dibangunin sama Dewi Rengganis," kata Pak Alim.

"Tapi saya emang ngerasa pak, di hutan menuju ke Taman Hidup itu auranya beda," kataku.

"Ya, asal kita gak macem-macem aja selama pendakian, Insyaallah gak akan terjadi hal aneh. Kalau dengar2 gitu aja, ya sebagai pengalaman kalian aja. Asal bisa pulang dengan selamat," lanjutnya,

(Lanjut Ke Part 3 KLIK untuk Cerita Sang Sopir tentang Gunung Argopuro dan Dewi Rengganis)

Artikel Terkait


EmoticonEmoticon