Kisah Mistis Pendakian Gunung Argopuro Via Baderan

FOLLOW official instagram pendaki gunung >>> @MOUNTNESIA


Berikut ini adalah Kisah Mistis Pendakian Gunung Argopuro Via Jalur Baderan

Saya (Ryu) dan kedua teman saya, Dian dan Soni yang berangkat dari Surabaya ke Probolinggo pada Selasa malam dan sampai di pendakian jalur pos Baderan sekitar pukul 07.00 WIB. Karena saya sedang ada tugas kantor untuk mencari tahu tentang sejarah Gunung Argopuro dan Dewi Rengganis, jadi ketika sebelum melakukan pendakian, saya dan Dian singgah ke rumah tokoh masyarakat yang ada disana (nanti akan diceritakan tentang sejarah Gunung Argopuro dan Dewi Rengganis dari buku lama sesepuh). Sekira pukul 10.00 WIB, kami bertiga kemudian memulai pendakian dari jalur Baderan.

Saat di pos Baderan, kami bertemu dengan sepasang kekasih yang merupakan mahasiswa dari Semarang, karena mereka baru perdana melakukan pendakian ke gunung argopuro, jadi mereka ikut barengan mendaki bersama dengan kami. Ditengah perjalanan, kami bertemu dengan satu tim lagi, yaitu mahasiswa berasal dari Jogjakarta. Lima orang mahasiswa jogja ternyata baru pertama kali mendaki gunung argopuro juga, mereka nekat mendaki gunung tanpa ada satu orang pun yang pernah mendaki gunung ini sebelumnya. Akhirnya, mereka pun juga ikut bergabung bersama kami, dengan total adalah 10 orang.

Karena beberapa teman ada yang mengalami cidera dan kondisi fisik yang kurat fit, akhirnya kami sampai di Mata Air 1 sekitar pukul 18.00 WIB. Di pelataran mata air 1, lalu kami bertemu dengan dua pendaki asal Depok yang juga baru pertama kali mendaki gunung argopuro. Kemudian kami langsung mendirikan tenda dan memasak untuk makan malam.

Waktu itu di pelataran mata air 1 penuh dengan empat tenda dari 4 kelompok masing-masing. Pada malam pertama di gunung argopuro sungguh membuat saya merasa kedinginan dikarenakan sepanjang perjalanan hujan deras dan karena bergegas ingin sampai, saya juga tidak menggunakan raincoat. Pada malam itu memang tidak ada hal-hal aneh yang terjadi dan kami menikmati malam dengan makan dan tidur untuk memulihkan tenaga melanjutkan perjalanan pada hari kedua.

Pada hari Rabu pagi, hari kedua pendakian dimulai sekitar pukul 10.00 WIB, Karena banyak orang, persiapan perjalanan juga menjadi agak molor. Kami berjalan secara beriringan, untungnya jalur dari mata air 1 ke mata air 2 hanya satu arah saja, jadi mudah bagi saya untuk jalan duluan dengan sendirian. Sekitar dua jam, akhirnya saya dan Soni sampai di Mata Air 2. Namun, lagi-lagi kami harus menunggu teman-teman lain yang ada dibelakang. Satu persatu teman-teman akhirnya sampai, hingga satu jam telah berlalu, semuanya sudah berkumpul di Mata Air 2. Kami akhirnya memutuskan makan siang di Mata Air 2 sambil mengisi bekal air minum.

Sekitar pukul 13.00 WIB, kami kembali untuk melanjutkan perjalanan. (saya sarankan kalau naik gunung jangan rame - rame, nunggunya kelamaan,hehe).Beberapa kali, kami di barisan depan harus menunggu semua teman-teman yang ada dibelakang terlihat, karena tidak ingin mereka tertinggal jauh. Hingga pada akhirnya kami sampai di pelataran Cikasur sekitar pukul 17.00 WIB. Selama perjalanan, beberapa kali hujan juga turun, kali ini saya tidak ingin basah kuyup konyol lagi dan sigap memakai raincoat. Tim kami memilih mendirikan tenda di bekas bangunan rumah yang beratap. Sedangkan untuk tiga tim lainnya mendirikan tenda di tanah kosong tak jauh dari tenda kami.

Malam hatinya pun membawa aura dingin di Cikasur. Semua pendaki pada memilih beristirahat didalam tenda masing-masing. Sekitar pukul 22.00 WIB, Andi, salah satu pendaki asal Jogjakarta mendengar ada langkah kaki yang mendekat ke tendanya.

"Mas Soni..," ucap Andi menegur orang diluar tenda.

namun tak ada sahutan dari siapapun.

"Mas Dian," Andi  memanggil kembali nama temanku.

Namun lagi-lagi juga tidak ada sahutan apapun. Andi dan keempat temannya saling pandang, namun mereka tidak ingin berpikir macam-macam. Mereka kemudian kembali melanjutkan obrolan hingga rasa kantuk menggelayuti mata mereka dan segera memilih untuk tidur.

Di keesokan paginya, Andi datang ke tenda kami dan langsung menanyakan, siapa yang semalam keluar tenda dan menuju tenda mereka.

"Loh, kami semua ditenda aja kok semalaman. Kagak ada yang keluar tenda," ujar Dian.

"Oh, kirain mas Soni atau mas Dian yang ke tenda kami. Waktu saya panggil, gak ada balasan, lalu suara langkah kaki juga gak terdengar lagi. Kalau teman-teman dekat tenda pasti saya tahu, tapi suara langkah kaki itu terdengar jauh dari tenda kami," kata Andi.

Kami pun hanya tersenyum mendengar cerita Andi dan kemudian kembali melanjutkan packing barang. Pada pukul 10.00 WIB, kami melanjutkan perjalanan. Kami menargetkan maksimal 2 jam sampai ke Cisentor, karena kami akan melanjutkan pendakian ke puncak gunung argopuro dan juga dewi rengganis pada waktu siang harinya.

Untungnya, selama perjalanan, disana tidak ada kendala apapun, sehingga sekitar pukul 12.00 WIB kami tiba di Cisentor. Setelah mendirikan tenda, ishoma siang, kami pun melanjutkan perjalanan ke puncak gunung dengan membawa perbekalan yang seadanya. Namun, dari tiga orang tidak ikut dan memilih untuk beristirahat di tenda saja. Ketiga orang tersebut adalah temanku, Dian, dan sepasang mahasiswa Semarang, Irma dan Irfan. Sepanjang perjalanan ke puncak, alhamdulillah kami ber-9 tidak mendapati halangan atau mengalami cerita mistis. Ketegangan malah dialami oleh Dian yang memilih beristirahat sendirian didalam tenda.

Jarak tenda saya dan mahasiswa Semarang dibatasi tenda mahasiswa Jogjakarta. Karena merasa bosan, Dian menghidupkan musik yang ada di handphone-nya. Dia mendengarkan musik memakai headset sambil tiduran. Lagu-lagu metal yang ia dengarkan cukup menghilangkan kejenuhannya sendirian saat ada di tenda, tetapi, memasuki lagu kelima, tiba-tiba suara musiknya perlahan mengecil, mengecil dan mati.

Dian pun kaget mengapa tiba-tiba kok musik di handphone-nya tiba-tiba mati, padahal dia sendirivmasih ingat baterai handphone-nya masih penuh. Dian pun langsung bangun mengecek handphone-nya. Saat dilihat, handphone-nya masih menyala dan musik playernya juga masih menyala. Namun, tidak ada suara apapun yang keluar dari headsetnya.

Ia lalu melepaskan headsetnya dan kembali menghidupkan musik tadi. Ternyata hidup. Karena merasa ada sesuatu yang aneh, kemudian dia memilih men-non aktifkan handphone-nya, kemudian mencabut baterainya. Dian tidak ingin nanti ada suara aneh terdengar dari handphone-nya. Dian lalu tidur untuk bisa menghilangkan rasa cemasnya. Seketika dia langsung ingat, bahwa memang saat itu sudah masuk waktu magrib.

Kami bersembilan sampai di puncak gunung dan langsung turun bergegas, karena malam sudah menyelimuti hutan. Sekitar pukul 20.00 WIB, kami sampai di Cisentor dan memilih untuk melakukan istirahat di tenda masing-masing. Sekitar pukul 02.00 dini hari, Irfan, mendengar ada langkah kaki diluar tenda. Irfan juga menegur orang yang sedang diluar tenda, tapi tidak ada sahutan apa-apa. Dia pun langsung tidur karena rasa kantuknya lebih berat dari rasa penasarannya terhadap orang yang ada diluar tenda.

Part 2 (KLIK)




Note :
Sumber artikel asli ada di part terakhir.

Artikel Terkait


EmoticonEmoticon