Kisah Mistis Gunung Arjuno yang Pantang Dilanggar

FOLLOW official instagram pendaki gunung >>> @MOUNTNESIA

Gunung Arjuno yang mempunyai ketinggian 3.339 Mdpl ini terletak di Kota Malang, Jawa Timur. Salah satu keistimewaan dari Gunung Arjuno ini adalah banyaknya peninggalan petilasan kerajaan Majapahit, dan berbagai obyek wisata alam lainnya seperti air terjun.
Foto : gresikbackpacker.blogspot.com

Namun bagi  yang akan mendaki gunung Arjuno perlu harus berhati-hati dengan misteri dan pantangan - pantangannya karena menurut cerita masyarakat setempat telah banyak pendaki yang tersesat bahkan beberapa tidak pulang kembali kerumah.

Cerita mistis pendaki gunung arjuno juga telah menyebar di kalangan para pendaki, baik via tretres maupun arjuno jalur lawang. Hal hal ini berkaitan dengan beberapa tempat seperti alas lali jiwo gunung arjuno yang angker, situs candi dan petilasan, serta pasar dieng yang penuh cerita mistis dari para pendaki.

Berikut ini adalah 5 misteri di Gunung Arjuno yang diambil dari belantaraindonesia.org.

1. Adanya Petilasan di Arjuno

Di Gunung Arjuno ada banyak situs – situs petilasan peninggalan Kerajaan Majapahit dan Singasari. Beberapa petilasan tersebut adalah, Eyang Abiyasa, petilasan Eyang Antaboga, Ayang Sekutrem,  Eyang Semar, Eyang Sakri, petilasan Eyang Sri Makutharama dan petilasan Sepilar. Akantetapi menurut mitos yang telah banyak beredar, petilasan – petilasan ini dijaga oleh Bambang Wisanggeni, adalah anak dari Arjuna dengan Bathari Dresanala. Dulunya petilasan – petilasan tersebut digunakan orang zaman dahulu untuk melakukan pertapaan.

Masyarakat sekitar percaya, bahwa orang yang melakukan pertapaan di tempat tersebut akan muksa ( menghilang dengan jasadnya ). Dan orang – orang muksa tersebut juga dipercaya masih berada di tempatnya bertapa untuk menjaga tempat tersebut hingga waktu yang tidak diketahui.

2. Alas Lali Jiwo (Hutan Lali Jiwo)

Saat mendaki, sebelum mencapai puncak Gunung Arjuno, disana terdapat tempat yang disebut oleh masyarakat sekitar dengan sebutan Alas Lali Jiwo atau yang mempunyai arti hutan lupa diri. Menurut kepercayaan warga setempat, orang yang mempunyai niat jahat, apabila melewati daerah tersebut, maka orang itu akan tersesat dan lupa diri. Menurut ahli spiritual, daerah tersebut memang sangat banyak dihuni oleh para makhluk halus seperti jin. Jika melewati alas itu, terkadang para pendakinya akan mendengar suara - suara gamelan dan kemudian menghilang. Konon jika mendengar, pendaki tersebut akan dibawa untuk dikawinkan dengan bangsa jin daerah tersebut.

Jangan Melanggar Pantangan
Menurut mitosnya pula, para pendaki juga tidak boleh melanggar beberapa larangan yang telah dipercayai sejak dahulu, adalah seperti tidak boleh memakai baju merah ( warna baju merah dominan ), pendaki tidak boleh berjumlah ganjil,  dan tidak merusak situs – situs petilasan Kerajaan Majapahit yang tersebar banyak di area pendakian Gunung Arjuna.

3. Kisah Arjuna
Kisah ini memberikan asal mula sejarah penamaan Gunung Arjuna.
Konon, Arjuna pernah melakukan sebuah ritual pertapaan di sebuah gunung dengan sangat khusyuk semala berbulan – bulan. Kemudian pada tubuhnya mengeluarkan sinar dan memiliki kekuatan yang sangat luar biasa, sampai membuat Kahyangan kacau. Kemudian kawah Condrodimuko menyemburkan laharnya, Bumi berguncang, petir menggelegar di siang hari, hujan turun dan menimbulkan banjir, dan gunung tempat Arjuna bertapa terangkat ke langit. Para Dewa yang khawatir, maka melakukan tindakan untuk menghentikan pertapaan yang dilakukan oleh Arjuna.

Batara Ismaya kemudian diturunkan ke Bumi dengan menjelma menjadi Semar. Dengan kesaktiannya, Semar dapat memotong puncak gunung tempat Arjuna bertapa dan melemparkannya ke tempat lain. Kemudian Arjuna terbangun dari pertapaannya dan mendapat nasehat dari Semar untuk tidak melakukan pertapaan lagi. Kemudian tempat pertapaan tersebut disebut dengan Gunung Arjuna, dan potongannya diberi nama Gunung Wukir.

4. Pasar Dieng

Di sebuah wilayah pendakian menuju puncak Gunung Arjuno, dipercaya terdapat Pasar Dieng atau yang biasa disebut dengan pasar hantu. Di area Pasar Dieng inilah terdapat makam para pendaki yang pernah meninggal di tempat tersebut. Wilayahnya yang cukup datar dan luas merupakan area yang sangat cocok digunakan menjadi sebuah pasar. Konon katanya, pernah ada pendaki yang membuka tenda di wilayah Pasar Dieng tersebut untuk bermalam sebelum menuju ke puncak. Pada malam harinya, ia dikejutkan dengan suasana ramai yang berada di luar tendanya, dan ia melihat sebuah pasar yang sangat ramai.

Pendaki tersebut kemudian dikabarkan berkeliling pasar dan membeli sebuah jaket. Setelah itu dia kembali ke tenda, dan besok pagi ketika ia bangun; wilayah sekitar tendanya sudah sepi dan tidak ada orang satu pun serta tidak ada bekas – bekas pasar. Jaket yang dibelinya masih ada, tapi uang kembalian yang diberikan oleh pedagang pasar tersebut telah erubah menjadi daun.

5. Acara Ngundhuh Mantu

Cerita mistis yang ada di Gunung Arjuna memang sering terdengar dan sudah menjadi bahan pembicaraan oleh masyarakat sekitar, seperti tentang adanya lantunan musik Ngundhuh Mantu. Para pendaki atau penambang belerang kadang mendengar Ngunduh Mantu, yaitu adanya suara gamelan Jawa untuk acara pernikahan.

Menurut masyarakat sekitar, jika mendengar Ngundhuh Mantu maka lebih baik tidak meneruskan pendakian ke puncak Gunung Arjuna tersebut; karena jika ia memaksa dan malah meneruskan pendakian maka si pendaki biasanya akan tersesat dan hilang.

Artikel Terkait


EmoticonEmoticon