Ritual Haji ke Gunung Bawakareng, Apakah Benar?

FOLLOW official instagram pendaki gunung >>> @MOUNTNESIA


Lebaran haji dilaksanakan tiap tahunnya oleh umat Islam di seluruh dunia, tapi bagi masyarakat Sulawesi Selatan memiliki cerita dan kepercayaan tersendiri. Cerita itu adalah tentang fakta adanya kelompok masyarakat tertentu yang mempercayai tentang ritual naik haji di puncak Gunung Bawakareng. Bahkan di setiap tahunnya pemerintah daerah disibukkan dengan menjaga keselamatan warga yang naik ke Bawakareng dengan tujuan naik haji. Namun belakangan ini sudah mulai ada peringatan yang melarang masyarakat agar tak naik haji ke Bawakaraeng, tetapi tetap saja beberapa orang atau kelompok masyarakat tertentu masih bersikeras untuk naik ke Bawakaraeng dengan tujuan berhaji. Padahal sebenarnya naik haji itu hanya dilaksanakan di Tanah Suci Mekah sesuai ajaran agama Islam.

Asal Mula Sejarah Haji ke Puncak Bawakaraeng

Ada dua versi cerita tentang asal mula haji di puncak Bawakaraeng ini. Menurut berbagai cerita oleh kalangan masyarakat di sekitar gunung Bawakaraeng, diketahui jika pada zaman kerajaan Gowa, terdapat seorang tokoh agama yang pergi haji ke tanah suci dari puncak gunung Bawa Karaeng dengan dibantu oleh malaikat. Prosesnya adalah dengan cara tokoh agama ini naik ke puncak Bawakaraeng melakukan ritual, kemudian secara halus dia terbang ke Tanah Suci Mekah untuk menunaikan ibadah haji. Hanya saja tidak dijelaskan apakah raga tokoh agama ini juga tiba di Mekah ataukah yang tiba hanyalah rohnya saja.

Ada pula versi lain yang menjelaskan bahwa pada masa lampau ada seseorang yang sangat ingin naik haji, kemudian dia mendapatkan bisikan gaib agar mendaki ke puncak Bawakaraeng sebagai ganti ibadah hajinya.

Versi cerita yang terakhir inilah yang malah melegenda sehingga menjadi keyakinan dan dijadikan tradisi pada sebagian masyarakat Sulawesi Selatan, hingga saat ini masih banyak orang yang berkehendak untuk pergi naik haji ke puncak Gunung Bawakaraeng,  yang biasanya dilakukan bertepatan pada bulan haji.

Ritual Turun Temurun

Fenomena ritual Haji Bawakaraeng ini telah dilakukan turun-temurun yang kemudian dipandang oleh masyarakat awam menjadi  sebuah ritual tahunan seiring dengan perayaan Idul Adha. Adapun dari pelaksanaan tradisi ritual ini masih terjaga dan tetap dilakukan secara berkala oleh masyarakat Sulawesi Selatan tertentu yang mempercayai keyakinan ini.

Untuk proses ritualnya tidak dilakukan secara serempak seperti proses haji pada umumnya, yakni tergantung dari proses yang diyakini oleh masing-masing leluhurnya. Ketika waktu ritual itu tiba, rombongan biasanya terpisah dalam kelompok-kelompok kecil yang terdiri dari orang tua, ibu-ibu bahkan hingga anak kecil. Selain penduduk sekitar di kabupaten Gowa, adapula jemaah haji Bawakaraeng yang berasal dari Kota Makassar, Pangkep, Maros, Sengkang bahkan dari daerah-daerah lain yang ada di provinsi Sulawesi Barat.

Ada pengikut ritual Haji Bawakaraeng yang berpendapat, jika ritual ini dilaksanakan sebenarnya tidak untuk menjadi “haji” semata, tetapi yang paling utama ialah untuk memohon keselamatan, rezeki serta permintaan khusus lainnya kepada Yang Maha Pencipta.

Ritual ini, dilarang dalam agama Islam karena berupa kegiatan persembahan dan pemujaan selain aturan syariat Islam. Para penganut ritual Haji Bawakaraeng ini biasanya membawa sesuatu yang sesuai dengan permohonan doa masing-masing. Ada yang mempersembahkan lontong, telur,  songkolo (beras ketan), buah-buahan, daging ayam,  ada pula yang membawa daging kambing.

Para penganut ritual ini telah mengakui bahwa pemahaman ritual tersebut tidak bisa disamakan dengan naik haji seperti lazimnya umat Islam ke Tanah Suci Mekkah. Namun gunung Bawakaraeng bagi mereka dijadikan sebagai media untuk mempertebal keyakinan kepada Sang Pencipta dan bisa lebih mendekatkan diri.

Minimnya Fasilitas Mendaki saat Ritual

Melihat dari fasilitas yang mereka gunakan untuk mendaki jelas sangat beresiko untuk melakukan sebuah perjalanan pendakian. Perlengkapan mereka hanyalah seadanya saja bahkan beberapa orang tidak menggunakan alas kaki. Tubuh mereka hanya dibungkus menggunakan kain sarung tipis untuk menahan pekatnya udara dingin gunung Bawakaraeng yang sangat menusuk tulang. Pemandangan ini cukup memprihatinkan ketika dalam kelompok itu ada seorang nenek tua yang tidak mampu berbuat apa-apa lagi, perlu digendong saat menuruni lembah-lembah yang curam. Begitu pentingnya ritual yang mereka yakini itu sehingga mereka sangat gigih untuk menantang kondisi alam pegunungan dengan perlengkapan serta fasilitas yang seadanya saja.

Banyak Korban Berjatuhan

Banyak yang meninggal ataupun kecelakaan saat mendaki. Semua kasus yang terjadi pada umumnya karena kedinginan ataupun terjatuh kedalam jurang diakibatkan tidak memadainya fasilitas dan sarana yang mereka gunakan. Dalam upaya mengantisipasi kejadian tersebut, pemerintah Sulawesi Selatan telag bekerjasama dengan aparat segera melakukan blokade penuh untuk menjaga semua jalan masuk kedalam wilayah pegunungan yang akan dilalui para penganut ritual haji itu. Walaupun begitu, masih saja ada jalan bagi para pendatang itu untuk menjalankan ritualnya dengan melalui jalan-jalan yang beresiko tinggi. Dan tentunya pasti akan terjadi lagi, korban kembali berjatuhan dengan kasus yang sama.

Penjagaan di sepanjang area Gunung Bawakaraeng mulai diperketat menjelang perayaan hari besar Islam, pemerintah melakukan koordinasi meningkatkan penjagaan di semua wilayah pegunungan Bawakaraeng dengan cara mengerahkan pasukan Brimob. Kondisi cuaca pegunungan Bawakaraeng yang terkadang “ekstrem” tak ditanggapi oleh serbuan para pendatang untuk ritual gunung Bawakaraeng. Seringkali, para pendaki yang hendak berhaji itu cukup pintar menghindari penjagaan yang ketat dan mencari alternatif jalan lain untuk masuk ke area pegunungan.

Perlunya Sosialisasi

Sebetulnya, adalah  dari pihak Departemen Agama sendiri yang sangat kompeten melakukan sosialisasi pemahaman kepada masyarakat yang masih saja ingin ke naik haji ke Bawakaraeng. Departemen ini seharusnya gencar melakukan sosialisasi dan tak membiarkan hal ini berlangsung terus-menerus, sehingga masyarakat bisa kembali ke jalan yang benar, yaitu berhaji ke Tanah Suci Mekah, dan bukannya ke gunung Bawakareng.

Artikel Terkait


EmoticonEmoticon