Sejarah Gunung Dempo

Tags
FOLLOW official instagram pendaki gunung >>> @MOUNTNESIA


Gunung Dempo (3159 mdpl) berada di perbatasan provinsi Sumatera Selatan dan provinsi Bengkulu tepatnya adalah di kota dingin penghasil kopi robusta yang terkenal enak, yakni Kota Pagaralam. Gunung Dempo terletak di kota Pagaralam, dengan jarak yang dapat di tempuh menggunakan transportasi darat sekitar 7 jam dari Palembang, ibukota provinsi Sumatera Selatan.

Kota Pagaralam dikelilingi oleh pegunungan Bukit Barisan dan yang tertinggi adalah Gunung Dempo.

Ada seorang pendaki Gunung Dempo yang dikabarkan jatuh ke dalam kawah dan dinyatakan tewas.

Dilansir dari Tribun Manado, Rabu (11/3/2015), setelah sekian lama berlalu, jasad pencinta alam yang tak disebutkan identitasnya itu masih terlihat utuh mengapung di permukaan kawah.

Menurut kabarnya, pada 2013 silam, korban bersama teman-temannya melakukan pendakian. Korban terpisah dari rombongan dan dinyatakan hilang.

Setelah melakukan pencarian selama tiga hari, dikabarkan tim SAR menemukan jasad pemuda tersebut mengapung di dalam kawah gunung yang kedalamannya hampir 2 kilometer.

Kemudian tim pencari dikabarkan menghadapi kesulitan untuk mengangkat jasad pemuda itu karena jarak dari puncak gunung hingga ke bibir kawah cukup jauh, yakni mencapai 1 kilometer. Belum lagi ada kekhawatiran mengenai ancaman gas beracun yang keluar dari dalam kawah.

Sampai saat ini, dikabarkan, jasad pemuda itu masih mengapung di dalam air kawah gunung yang berwarna kehijauan, tanpa mengalami kerusakan sedikit pun. Ini diduga akibat kondisi air kawah yang mengandung berbagai macam zat yang memungkinkan jasad tetap utuh.

SEJARAH LETUSAN


Bagaimana dengan sejarah letusannya? Gunung ini masih aktif dan masuk dalam gunung api aktif yang berbahaya di Indonesia.

Letusan G.Dempo yang tercatat dalam sejarah menurut Neumann Van Padang (1951) dan Stehn (1934 dan 1940)


  • Tahun 1818

Tidak ada keterangan tanggal terjadinya, letusan ini mengakibatkan sebagian hutan rusak, puncaknya gundul dan kering, pohon-pohon kayu sebagian terbakar dan roboh.


  • Tahun 1839

Tidak ada keterangan tanggal terjadinya.
Kronologi : Dari kawah tampak nyala sinar api disertai suara gemuruh. Cabang kayu besar yang berada dibagian puncak patah-patah dan terbakar.


  • Tahun 1853

Letusan terjadi pada 1 Januari dan keterangan lebih lanjut tidak diketahui.


  • Tahun 1879

Pada 18 Mei di daerah Pasumah terdengar suara letusan selama kurang lebih 10 detik. Kemudian seketika terlihat sebuah kepulan asap berwarna hitam.


  • Letusan Tahun 1880

Kejadian terjadi di bulan Mei.


  • Tahun 1881

Pada 16 Pebruari telah terjadi getaran tanah yang ringan, terdengar suara gemuruh. Dalam Desember tampak tiang asap membumbung dari kawah.


  • Tahun 1884

Dentuman seperti suara tembakan meriam terdengar di bulan Juni dari arah G. Dempo. Di bulan Juli berulang-ulang awan asap membumbung dari kawah.


  • Tahun 1895

Pada 2 Juli mengepul sebuah kepulan asap, sedikitnya terjadi hujan abu jatuh di sekitarnya. Pada 30 September ada dua kali letusan yang menghasilkan abu dan Lumpur, dentuman terdengar satu kali.


  • Tahun 1900

4 Juni terdengar dentuman seperti tembakan meriam dari arah G.dempo, dan membumbung kepulan asap tinggi. Kegiatan ini terjadi lagi pada 26 dan 27 Oktober.


  • Tahun 1905

Tidak ada keterangan waktu terjadi letusan. Setiap 20 menit terjadi bualan di air kawah danau, semburan air berbentuk kerucut mencapai ketinggian kurang lebih 12 m.


  • Tahun 1908

Pada 16 dan 17 Pebruari terjadi letusan air abu dan lumpur yang kemudian sungai Betung tidak lama sesudahnya menjadi sepet.


  • Tahun 1921

Di April, Japing mengunjungi kawah Dempo. Permukaan air danau naik berangsur-angsur seluruhnya ke atas. Kemudian timbullah sebuah gumpalanuap tinggi yang menembus air. Setelah itu permukaan air danau turun kembali ke permukaan asalnya. Menurut Stehn (1934, p.23), ini sama dengan kegiatan vulkanis gunung api bawah laut, yaitu G.Krakatau di 1927-1930. Karena tembakan langsung dari semburan uap, sejumlah air naik tinggi.


  • Tahun 1922

Pada 19 dan 20 Mei ada letusan kecil yang terjadi sekitar ½ - 1 menit lamanya. Awan uap besar mengepul.


  • Tahun 1926

Pada 22 April G. Dempo terjadi aktivitas vulkanis.

Pada 23 April terdengar suara gaduh (suara air jatuh). Di letusan ini mungkin sebagaian air danau kawah ikut terlemparkan. Tanggal 24 April Pasirah Bumiagung mengunjungi kawah Gunung Dempo dan dilihatnya bahwa dari dalam kawah muncul uap dan tiap lima menit terdengar suara gaduh air mendidih, banyak batu dilemparkan.


  • Tahun 1934

Pada tanggal 24 Januari siang hari di Perkebunan the Gunung Dempo terjadi hujan abu yang menyebabkan daun teh ampak seperti kena tetesan air kapur yang kemudian mengering. Pada tanggal 20 dan 21 februari terjadi lagi hujan abu. Hujan abu yang terjadi dimalam hari tanggal 24-25 April menyebabkan kerusakan pada daun teh.


  • Tahun 1936

Di malam hari 26-27 November terjadi hujan abu dan berlumpur di kebun teh sebelah barat laut. Hujan belerang selama lebih dari ½ jam dan didahului suara gemuruh skitar 3 kali.


  • Tahun 1939

Letusan abu terjadi malam hari tanggal 18-19 Juli. Abu jatuh disebelah utara perkebunan teh Gunung Dempo. Tebal lapisan abu sekitar ½ - 2 mm, daun teh terlihat bercak - bercak abu karenanya. Di siang harinya nampak beberapa kali awan asap keluar dari kawah. Pada tanggal 21 Juli diperkebunan terjadi hujan lumpur tipis. Pada tanggal 25 Juli terjadi letusan yang agak kuat yaitu dari pukul 08.25 sampai pukul 08.40, sebuah gumpalan hitam terlihat kemudian jatuh, hujan Lumpur mencapai kebun teh. Pada tanggal 27 Juli Krol mengunjungi kawahnya, dilihatnya ada bekas lemparan air danau kawah melalui pinggir sebelah baratdaya, barat dan utara. Lumpur berwarna putih melintas batu lava hitam di lereng luar kawah. Jadi air danau dilemparkan dan masuk kedalam jurang A. Bayau Kegiatan terakhir tahun ini terjadi pada 19 Desember sekitar pukul 10, yang menimbulkan hujan abu tipis di Perkebunan Teh Gunung Dempo sebelah utara.


  • Tahun 1940

Pada tanggal 30 Januari pukul 09.30 terdengar suara terus menerus dari Gunung Dempo dan terlihat cahaya kilat diatasnya. Pada pukul 10.15 turun hujan abu. Banjir Lumpur terjadi didalam jalur antara A. Lintangkanan dan Lintangkiri. Marga Babatan, Muaradanau, dan Muarapinang yang dilalui A Bayau sampai beberapa ratus meter kiri-kanannya ditutupi oleh lumpur yang mengandung belerang, ada juga batu dan pohon kayu yang dihanyutkan dari atas. Di beberapa tempat, Lumpurnya mempunyai tebal sampai 50 cm, menimbun sawah, ladang dan kebun kopi. Pada tanggal 7 Februari petang hari terdengar gemuruh dua kali. Di tanggal 8 februari pukul 07.30 tampak gumpalan asap membumbung. Malam harinya turun hujan abu dan terasa gempa ringan. Tanggal 12 Februari sering terjadi gumpalan asap dengan tekanan lemah. Tanggal 4 Februari, Stehn melakukan pemeriksaan puncak. Makin tinggi mendaki, lapisan abu makin tebal, tumbuhan yang rusak semakin banyak, pohon kayu banyak yang patah. Kulit kayu dari jenis tanaman ‘Viccinium”terkelupas. Kayu yang terbakar sampai jadi arang tidak terdapat. Lapisan lumpur tebalnya 15-25 cm. Pada pukul 09.50 di danau kawah terjadi letusan lumpur, mencapai ketinggian kurang lebih 60 m. Setelah itu keluar awan uap tebal yang perlahan-lahan membumbung tinggi. Letusan tersebut terjadi secara berulang-ulang dari pukul 09.50 hingga pukul 12.28. Sebelum terlihat letusan, terlebih dahulu terdengar suara yang gaduh. Gelombang letusan terjadi di danau dan memukul tepinya,  beberapa menit kemudian permukaan danau tenang kembali. Batu yang terlempar tidak terlihat. Menurut Stehn (1940,p13), letusan ini sama dengan letusan kecil Gunung Anak Karkatau dan dengan letusan Kawah Ijen dalam bulan November 1936. Pada beberapa hari berikutnya dari tempat sekitar Dempo sering tampak awan letusan lagi. Jatuhnya abu atau Lumpur tampak sebagi tabir kelabu. Aktivitas vulkanis berakhir pada tanggal 21 Februari.


  • Tahun 1974

Hujan belereng dari Kawah G.Dempo, Harian Gala 1974, p.2 (Bandung).


  • Mei 2009

terjadi letusan freatik, Hari Kamis (21/5) pukul 15.59 dengan amplitude 49, berlangsung selama 300 detik, sampai Senin (25/5) terus terjadi gempa tremor. Kekuatan gempa tremor mencapai 16 milimeter.


  • 2015

Terjadi aktivitas vulkanis yang cukup tinggi.

Karakter Letusan Gunung Dempo

Letusan preatik danau kawah yang diiringi dengan banjir lumpur atau lahar letusan, dan hujan.

Artikel Terkait


EmoticonEmoticon