Pengalaman 3 Hari Hilang di Gunung Merapi

Tags
FOLLOW official instagram pendaki gunung >>> @MOUNTNESIA

Berikut adalah pengalaman true story hilang selama 3 hari di gunung merapi jawa tengah dari instagram @yanuari_rico yang dibagikan kepada @mountnesia

             Sekarang tanggal 9 di Bulan Desember 2013...jam 10.15 , terbangun tadi pagi ada yang ngasih tau kalo pasar Bubrah , Merapi sedang dibicarakan misterinya di Kompas TV. MERAPI??? Mendengarnya Aku langsung teringat 36 hari yang lalu, tepatnya tanggal 3 November 2013.

Setelah packing pada Malam hari tanggal 2 November 2013, yang sejak bulan lalu temen2 udah pada ngrencanain dan udah pada nyamain hari libur buat berangkat ke Merapi, Merbabu. Siang hari sampai sore hari aku dan Panji menyiapkan Logistik dan perlengkapan yang akan kami gunakan untuk berangkat kesana. Setelah Selesai, Aku,Afi,Panji, Jamal Berangkat ke Terminal

              Tepat pada pukul 18.00 Waktu Indonesia Bagian Jam Tanganku, kami tiba di Terminal Purabaya (Bungurasih). Sambil menunggu kedatangan teman teman kami , Mas Danis dan Andik (Bukan Vermansyah ya), kami mengisi perut dulu. Sejam kemudian masih ga ada tanda tandanya kemunculan 2 sosok itu. Pada akhirnya, tepat  pukul 19.15(Udah ngantuk,capek,bahkan ada yg abis BAB), datanglah Mas Danis, tetapi Andik baru dateng 15 menit setelahnya dan ternyata dia mengajak temannya, Mas Sigit. Mungkin karena long week-end (pas libur aga panjang), jadi lama juga baru dapet bus. Tepat jam 20.15 kami naek Bus M*RA ke SOLO.

                Wahai ketika, aku terbangun, rupanya hari pun sudah pagi (pukul 03.00), hingga tiada aku sadari, aku lah tiba di Kota Solo(mirip lyricnya kereta malam, hehehe). Di Tirtonadi Solo, kami istirahat 15 menit dan melanjutkan perjalanan selama 30 menit ke Boyolali. Di terminal itu, kami istirahat lagi untuk melaksanakan ibadah subuh, yah walaupun sempat kesulitan buka kunci Mushola. Hmmm kurang amal Ibadah kali ya??? Di sini kami ketemu temen baru Mbak Al, dan Mas YAYAN.

              OK laa..udah jam 05.10, saat nya berangkat ke pasar Cepogo, dapet harga yang murah sih, tapi kok mobilnya ga kuat nanjak,dan hasilnya kami harus berjalan kurang lebih 1 km ke Ps.Cepogo!!!. udah nyampek pasar, udah dapet bis ke Selo, eh Nunggu jam 7 baru berangkat. 53 menit kemudian, sampailah kami di Selo, yah lagi lagu jalan ke New Selo..ga apa2,,,itung2 pemanasan..

Jam 08.15, di New Selo. Di Tulisan ala Holywood itu kami berada saat itu untuk melengkapi logistik, dan ada diantara kami yang sarapan disini termasuk aku ,heheheheh. Jam 09.20 kami berangkat deh , pastinya gak Lupa buat berdoa dulu... 0:)

                Well,perjalanan dimulai (tanpa kepikiran kalo ini awal petualanganku jadi survivor,hahaha). Setelah melewati perkebunan warga, Jam 10 udah tiba di Gapura “Welcome To Merapi Mount National Park”. Hm.. gak terasa 2 jam berjalan Aku, Afi, Al, dan yayan(Yang lain tertinggal 30 menit,karena ada 2 diantara kami fisiknya perlu perhatian khusus) berhenti sejenak karena rintik2 air turun membasahi, dan kami akhirnya memutuskan untuk melanjutkan perjalanan dan berencana untuk berhenti di POS I. 1 jam berlalu,belum juga bertemu POS I, tapi kami menemukan tempat yang sangat indah untuk foto,,,hehehe

                Setelah Mas Yayan ngabisin sebatang rokoknya, ternyata sudah gak gerimis lagi. Dan kami lalu melanjutkan lagi perjalanan menuju POS I. Sepanjang perjalanan banyak pendaki yg turun dan mengingatkan kami bhwa di atas pasar burah sedang dilanda badai. 1 jam berlalu lagi, dan kami sempat putus asa, krena POS I aja belum ketemu, gimana puncaknya? Jangan2 sejenis Argopuro nih Gunung Merapi. Gak tahan juga sih, akhirnya saya tnya orang aja. “Pak, POS I masih jauh ga?”. Eh ga taunya si bapak ngejawabnya “Lhah!udah jauh dibawah tadi mas, 10 menit lagi aja udah pos II”. What!! Ternyata tempat kami berhenti tadi waktu gerimis itu di dekat POS I.hehehe

                Nyampe di Pos II kami memutuskan untuk menunggu teman temn yang lain dan lagi2 sempatkan waktu untuk berfoto...heheheheh Wajib tu hukumnya. 30 menit, belum dateng juga, sampe si Afi udah terlelap dan mimpi nyampek puncak.hahah. 15 menit kemudian dateng lah Mas Danis, Andik(bukan Vermansyah), dan Sigit udah nyampek, tapi Panji?Jamal? belum keliatan juga ujung pusernya...tapi Mas Danis Bilang “Gak apa2,kita tunggu di pasar bubrah aja”. OK 5 menit kemudian kami melanjutkan lagi ke Pasar Bubrah, sepanjang perjalanan sampe di atas Watu Gajah, ada sekelompok pendaki lain mengingatkan kami, “di Atas Badai Mas...”. “OK,makasih...badai pasti berlalu” kataku. Benar juga katanya, belum juga nyampek pasar Bubrah, angin bener2 ga seperti yang kami kira. Sebelumnya juga saya pernah merasakan tiupan angin kencang di Gn. Arjuno, tapi tidak sekencang ini, ini adalah angin terkencang yang pernah saya rasakan. 30 menit kemudian kami sampai di Batu In Memoriam Pelajar PA SMA 4 Yogyakarta. Setelah mengheningkan cipta sejenak kami mencari tempat istirahat untuk memasak dan menunggu teman2 yang lain.

                Lama juga kami menunggu teman2 sambil kami menyalakan kompor Gasmate kami dan memasak di atas nesting, tak jauh dari tempat persembahan masyarakat sekitar untuk Gn Merapi. Ada Tengkorak Kerbau di balut dengan kain Putih tak jauh dari tempat kami. Di sebelah kami juga ada tempat menyalakan dupa, yang sempat tersenggol olehku. Sekitar pukul 14.45 datang lah Mas Danis disusul oleh Panji dan Jamal. Bravo Kawan!!!kalian sanggup sampai disini.

             Sekitar jam 15.05, itu adalah Terakhir kali saya melihat Jam, karena setelah itu HP kumasukkan ke dalam tas kecil. Tak lupa Victorinox kesayanganku (hadiah dari temanku ketika dia di Eropa). Kugantungkan di pergelangan tanganku dan kumasukkan ke dalam saku celana seragam abu-abuku dulu yang selalu menemaniku ke Pucak Gunung.  Botol Air mineral 600ml yang sudah kumodifikasi tutupnya kuberi selang, jadi aku ga perlu repot2 buka tutup. Semua barang2 bawaan kami tinggal di Pasar Bubrah,untuk meringankan beban kami

Kabut dan badai sudah mereda, kami melanjutkan perjalanan menuju puncak merapi. Namun di tengah perjalanan, kabut mulai nampak lagi, dan angin mulai kencang, tapi tanggung sudah setengah perjalanan pikir kami. Sudah sejauh ini, sangat sayang apabila kami gagal. Hingga akhirnya setelah jalan pasir, batu kami lalui kami sampai juga di Puncak Merapi pada pukul 16.00. lagi2 kami harus menunggu panji dan jamal untuk sampai diatas. 15 menit kemudian, mereka sampai juga di Puncak Merapi. SELAMAT KAWAN!!!

              Tak lama , tiba2 hujan mengguyur kami, tepat jam 16.30 kami memutuskan turun. Sekarang giliranku dan mas Danis yang memBack-up panji dan Jamal. Mereka berlima turun lebih dulu. Hujan yang begitu deras memaksaku untuk menitipkan Tas yang aku bawa ke Mas Danis, karena didalamnya ada Beberapa HP yang dititipkan kepadaku. Aku  berada di depan jamal untuk mencarikan jalur yang aman untuk dilalui. “Lewat kanan ae !dalane enak!”(lewat kanan saja,jalannya enak). Itu adalah kata2 terakhirku sebelum akhirnya ada badai yang menghempasku jatuh.

                Jatuh!ya aku jatuh tersungkur dan terperosok pasir dan kerikil. Mungkin kurang lebih sama dengan  Ian (Saykoji) waktu jatuh di film 5 cm. Lama juga aku terjatuh hingga aku sempat ling lung, pusing. Aku melihat ke belakang, hanya kabut yang aku lihat, jarak pandangku tak lebih dari 2m!!!. Aku teriak Mas Danis, namun tak lebih kencang untuk mengalahkan suara angin kala itu!. Aku jongkok, untuk melihat jalanan (terhalang kabut). Aku kira aku tetap berada di jalur yang benar, namun aku tertinggal karena tadi sempat terjatuh. Dan aku ingin bergegas sampai pasar bubrah sebelum petang! Aku berdiri, ternyata sandal gunung eig*rku sebelah kiri putus. Kulepas dan kutinggalkan ditempatku kala itu, aku berjalan cepat. Namun sial, lagi2 aku ga bisa menjaga keseimbanganku yang terhempas angin, Lagi2 aku jatuh, aku terkejut kala itu karena angin benar2 kencang, membawa terbang batu2 seukuran lebih besar dari kelapa. Aku putuskan tidak berdiri karena beresiko terkena batu2 itu. Hingga akhirnya batu berukuran lebih dari 2x ukuran bola basket mengenai punggungku. Alhamdulillah, aku bersyukur sekali batu itu tidak kena Kepalaku.

                Ya ALLAH!!!aku tersesat!!ya aku tersesat, Sendirian, di gunung Merapi. Aku berlari ke bawah menghindari batu2 yang terbang itu. Hingga akhirnya aku sampai  di tempat yang mirip pasar Bubrah. Mirip? Ya Mirip sekali, namun aku hanya berputar2 ditempat itu. Dan aku sadari!itu bukan Pasar Bubrah!!!Seolah2 tidak ada jalan. Aku duduk di sebuah batu, menenangkan diri, berpikir bagaimana aku bisa keluar dari sini dan kembali ke Rumah di Surabaya.

                Aku melihat kala itu ada jalur seperti sungai, namun gak ada air sama sekali, sepertinya bekas sungai. Ya!pikirku kala itu, Jalur sungai pasti ujungnya ada pemukiman/perkebunan warga. BISMILLAH! Aku akan memilih jalur itu. Berbekal Victorinox, Botol Air Mineral 600ml (isinya hanya 1/4nya saja), sandal eig*r sebelah kanan saja, sarung yang kulilitkan di kepala(Mirip jaman kecil kita dulu main Ninja2an...). pakaian yang kupakai kala itu adalah kaos batik, bergambar plesetan wayang yang bermain gitar, Celana SMA, dan Baju Almamater HISTALA-7(Himpunan Siswa Pecinta Alam SMAN 7 Surabaya) organisasi yang aku cintai sampai sekarang ini meskipun sudah 6th jadi alumni.

                Praktikum Survival dimulai, aku lalui jalan berbatu yang benar2 sangat tajam terasa menusuk telapak kaki kiriku. Mungkin saat itu sekitar pukul 5.30an, saya tidak tahu pasti. Yang jelas matahari mulai menghilang, berganti shift kerja dengan sang Rembulan. Ak sampai pada ujung jalan! Ya ternyata dibawahku ini tebing, meskipun Cuma sekitar 5m(ga tau pastinya,GELAP), tapi benar2 extrim bagiku dimana gak ada safety apapun, penerangan saat itu hanya cahaya dari ang pencipta, terima kasih Bulan. Aku turuni tebing itu dengan segenap tenaga dan kemampuanku, yap aku sampai dibawah dengan selamat, namun, yang gak selamat adalah sandal eig*rku yang kanan!(lain kali aku beli di toko Resminya aja deh :p).

                Ya lagi2 menelusuri jalur bekas air ini, namun sekarang tanpa alas kaki apapun. Saat itu, aku merasa ada yang mengikutiku, namun saat kulirik betapa terkejutnya aku. Sepertinya aku melihat batu kerikil yang melayang di dasar tebing tadi...ah,mungkin hanya perasaanku saja. Aku melanjutkan langkah kakiku. Tuhan! Cobaan apalagi sekarang, hawa dingin benar2 terasa saat itu ditambah rintik2 air kini ikut menemani perjalananku...

                Jalan, terus berjalan saat itu,,,,tanpa makanan....ya! terakhir makan adalah jam 8.30 tadi pagi. Minum pun tinggal ¼ botol...Letih, di tambah medan yg sangat sulit dilalui dengan kondisi cahaya seperti ini, aku melihat ada batu besar sekali dan ada cekungan dibawahnya dan ada batu yang lebih kecil seolah mengganjalnya agar tak jatuh. Aku rasa aku bisa istirahat didalamnya. Dengan resiko batu itu kapanpun bisa saja jatuh. Istirahat, itulah yang kudapatkan ketika dulu mendapat ilmu tentang survival. Aku harus menyimpan tenaga untuk melanjutkan perjalanan di hari esok.

                Menangis!!ya aku akui aku menangis sekencang kencang nya kala itu, Mama, keluarga, semua teman2 yang ikut tadi, Afi,Panji, Danis, Andik,Sigit,Al,Yayan. Aku sayang kalian!!! Aku ga mau kalian menangis karena aku. Jadi aku harus selamat!!! Setelah aku mamu menenangkan pikiran dan hatiku, aku minta kepada Allah,,,ya Allah, sampaikan kepada ibuku,mama aku tidak apa – apa. Aku akan selamat sampai Surabaya! Hingga akhirnya akupun terlelap

                Paginya aku terbangun oleh cahaya matahari. Aku tidur sengaja menghadap timur biar bisa bangun ketika matahari kembali menggantikan shift sang bulan. Yah dengan doa aku melanjutkan perjalanan. Sebelumnya, aku minum sisa air yang tinggal 2 tutup botol kala itu, dan akhirnya aku memutuskan untuk menampung (maaf) air seniku untuk bertahan hidup, karena saat itu tidak ada air tanah sama sekali, batu2 pun tidak menampung sedikitpun air.

                Saat itu aku putuskan coba naik lagi ke puncak merapi, setelah batu2 an yang benar2 tajam dan tebing yang benar2 ga bisa aku lalui untuk kembali turun ke Jalur Selo. Saat itu juga aku putuskan untuk kembali ke jalur antah – berantah tadi. Aku coba untuk memakan vegetasi yang ada di sekitar batuan , namun sial hanya gatal yang aku dapat di lidah. Sesuai dengan yang aku pelajari dulu, bahwa jika dilidah gatal = beracun, ya sudah aku tidak melanjutkan. Hanya minum yang ada di botol ini selama perjalanan.

                Sedih, bingung, sedikit rasa takut yang menemaniku sepanjang perjalanan. Kakiku mulai perih siang itu, darah mengalir daritelapak kaki aku usap dengan sarungku. Terlintas ide untuk merusak sarungku menjadi alas kaki. Tidak ada lagi rasa eman(sayang) meskipun setiap jumat sarung ini yang kugunakan :( . Meskipun sedih, takut dll, namun jujur saja . aku sangat takjub saat itu melihat jurang dan tebing yang benar2 luar biasa. Allah, sungguh Indah ciptaan engkau... Ah sayang tidak ada kamera / hp yang aku gunakan untuk mengabadaikan moment ini.

                Sore mulai menjelang, seperti mendapat “Jackpot” aku melihat ada genangan air di atas batu, yang cukup untuk 3 teguk. Alhamdulillah, terima kasih Allah untuk Air ini. Mohon maaf ya teman2 hewan yang minum ini, sekarang aku benar2 butuh. Lagi2 aku melajutkan perjalanan ke Timur ini dan ,,,,,, Subhanallah, aku melihat pemukiman warga,meskipun masih jauh tapi aku bersyukur.

Yah, saat hari udah mulai sore, aku lagi2 terpesona dengan keindahan batuan di tebing2 Merapi... melewatinya dan bersyukur banyak air melimpah di bebatuan yang menampungnya. Namun itu semua teralihkan saat aku melihat sesosok berbulu putih seukuran itik hinggap di batu yang berjarak kurang lebih 50m dari tempatku mengumpulkan air. Apakah elang yang ada dihadapanku?. Benar,itu Elang Jawa rupanya. Pikiranku yang kala itu di kendalikan oleh perut, benar2 gelap mata dan mengendap2 dibelakangnya. Aku buka victorinoxku, pikirku paling tidak aku harus dapatkan telurnya!.

              Semakin dekat dan mendekatlah aku pada sarang itu, namun aku benar2 terkejut, ternyata sang Elang Putih itu sedang menyuapi anak2nya, ALLAH, aku benar luluh...gak tega , bener2 ga tega melihat keluarga bahagia itu, aku tutup kembali victorinoxku, namun aku lagi2 takjub akan alam merapi, ternyata si Induk melihat keberadaanku dengan jarak sekitar 10 – 5 m, namun bukan seperti yang aku bayangkan si Induk akan marah kepadaku dan menyerangku, malah dia seolah membiarkan ku melihat keindahan Bulunya. Oh Tuhan terima kasih, seandainya aku membawa kamera/ hp aku bisa berbagi dengan semua.

           Lalu seolah aku lupa waktu karena melihatinya, aku teringat bahwa aku sedang tersesat. Aku harus kembali berjalan. Sampai jumpa kawan : )   semoga kau dan anak2 mu sehat selalu dan tetap berada di alam tanpa gangguan manusia yang tidak bertanggung jawab. Aku melihat ke atas, seolah2 ada jalan setapak, aku gembira sekali ternyata sudah bertemu dengan jalur manusia, aku usaha semampunya untuk kesana, namun aku benar2 terkejut, jalur ini bukanlah jalur manusia...jejaknya jejak binatang. Oh tuhan, jika aku kesana hanya dua pilihannya aku yang memakan hewan2 itu, atau aku yang menjadi santapannya. Aku putuskan kembali ke jalur yang tadi.

        Aku harus bersiap karena sebentar lagi Bulan akan menggantikan matahari. Aku harus mencari tempat berteduh, bertahan hidup malam ini, istirahat untuk menyimpan tenaga. Aku menemukan batu namun tidak sebesar kemarin,dan hanya bisa menampung badanku saja,jadi kakiku tetap diluar, ah tidak apa, tidak mendung cuacanya, tapi alam berkalta lain. Malam itu hujan benar2 deras, cukup lama juga aku bertahan dalam keadaan basah dan dingin. Oh tuhan, cobaan apa lagi ini, aku seolah melihat kabut tebal,namun berbentuk manusia melayang ke arahku....ak hanya bisa berdoa....Setelah itu aku tertidur karena terlalu letih.

Di dalam tenda, aku , Afi, Danis, dan Andik baru bangun. Dan seperti biasa Andik menyuruhku membuat sarapan untuk kami. Mereka tersenyum padaku. Dan aku membuka nesting dan memasak nasi dan telur untuk sarapan. Ketika aku makan, keadaan berubah!aku terbangun karena saat itu aku muntah berkali – kali. Dan aku sadari baru saja aku terbangun dari mimpi yang benar2 Indah...Istighfar,,,hanya itu yang aku mampu kala itu. Dan aku memaksa tubuhku untuk mampu terlelap lagi dengan keadaan yang ada.

             Paginya aku bangun, “ah...ini saatnya aku melanjutkan” pikirku. Namun sebelumnya ak mengumpulkan air dari hujan yang mengguyurku semalam. “ ada hikmahnya juga “, gumamku sambil tersenyum. Berbicara sendiri, menyanyi dan seolah berbicara dan memohon kepada Allah itu adalah hiburan yang ada saat itu. Benar kata orang yang mengalami nasib sama denganku saat sendiri dan tersesat di hutan, kita akan merasa sangat butuh berkomunikasi, atau kita akan mengalami gangguan mental.

              Setelah botol terisi dengan air ,walaupun tidak sampai penuh. Aku melanjutkan lagi perjalanan. Hingga aku dihadapkan dengan tebing yang sangat amat curam dibanding tebing2 kemarin. Kedalamannya mungkin antara 100-150m. Oh tuhan, aku tidak sanggup. Aku orientasi medan saat itu mencari jalan lain untuk sampai di dasar tebing itu. Setelah beberapa menit perjalanan aku istirahat, kebetulan aku melihat WALANG(bahasa jawa=belalang). Dan aku menangkapnya. Meminta maaf padanya dan mematahkan kaki dan kepalanya(sadis ya?). dan aku telan mentah2. Lumayan lah, dan aku mencari lagi dan mendapat 1 ekor lagi.

Setelah sarapan walang itu, aku mendengar ada gemuruh kaki beberapa orang dan ada yang berbicara, ya! Aku yakin itu manusia. Aku berteriak sekuat tenaga. “TOLOOOOOOONG!!”, kataku. Dan mereka menjawab “Rico?”, tanya mereka mengonfirmasi apakah itu benar2 aku.ternyata teman2ku sudah lapor ke TIM SAR. “Ya Pak.”,jawabku. “cari tempat terbuka dan Lambaikan Kain ke arah Utara”,  salah satu dari mereka menyuruhku.     Setelah mereka mendapat posisiku, aku disuruhnya untuk mencari tempat berteduh dan tidur, menunggu mereka untuk menjangkau tempatku, karena mereka berada di atas ketinggian sekitar 100-150m diatas tempatku berada.

                Setelah aku tertidur, aku sayup2 mendengar suaraku dipanggil oleh tim SAR yang sekarang aku kenal dengan sebutan Mbah Gondrong, Agus Santosa adalah nama Aslinya. Mereka datang dan memberiku air minum dan Roti isi Coklat. Namun tubuhku ga mampu menerimanya . aku muntah berkali2. Namun kata mereka teruskan saja sampai tubuhmu nerima makanan, Berarti kamu sudah siap melanjutkan perjalanan. Jam 1 siang, mereka menanyaiku, apakah sudah siap. “OK”,jawabku. Sebelumnya ayo kita foto dulu, kata TIM SAR lain yang aku kenal sekarang, namanya mas Misdi. Setelah aku ganti celana SMAku(ancur) dengan celana RAIN COAT yg dibawa TIM SAR, aku memakai full body harness, dan dikaitkan pada beberapa webbing yang disambung2.

             Aku dan Tim SAR naik ke atas, dimana mereka pertama kali menemukanku, dan setelah aki sampai atas aku baru tau ternyata itu adalah jalur pendakian merapi via Deles. Di dekat pos 2 deles. Aku naik dengan segala sisa tenagaku. ditambah denga hujan yang lagi lagi mengguyurku dan TIM SAR, aku diberikan RAINCOAT oleh salah satu dari mereka. Sungguh perjalanan yang meletihkan. Sepanjang perjalanan aku dihibur oleh TIM SAR dengan saling bercanda. Namun ditengah perjalanan ketika kami break sejenak, aku terkejut di beri tahukan oleh TIM SAR, bahwa aku adalah korban ke 3 yang selamat dari tempatku ditemukan tadi, yang lainnya meninggal dunia. Innalillahi....

                Sekitar jam 2 aku sampai di jalur pendakian deles. Di sana aku dirawat oleh TIM SAR, ganti baju, diberi minyak gandapura, dan diberi Mie Instan dan Air Hangat, “Terima Kasih “,ucapku lemah. Kami lalu melanjutkan perjalanan ke POS Deles. Akhirnya pada pukul 8malam kurang lebih, kami tiba di POS Deles dan sudah ada Mobil Ambulance dan Afi yang menungguku. Kamipun langsung menuju Rumah Sakit Cakra Husada Klaten.Setelah itu di RS, aku dirawat. Tak lama kemudian aku mendengar suara ibuku. Ternyata keluargaku menyusul ke klaten. Tangis haru menyelimuti Kakak, Paman dan teman2 ku. Hanya ibuku yang tersenyum dan memelukku sambil berkata, “Mama yakin kamu selamat”. Dan setelah infusku habis, kami berpamitan dengan TIM SAR yang berbaik hati dan tulus menolong tanpa mengharapkan apapun. Kami pun pulang ke Surabaya.
Kalau blm percaya,... Dibawah ini video beritanya,

                MERAPI....terima kasih atas pengalaman yang luar biasa ini. Aku tidak akan melupakan nya seumur hidupku. Terima kasih TIM SAR Boyolali dan KLATEN. Terima kasih pada TNI yang bekerja sama dengan Tim SAR. Terima Kasih WALANG. Matur Nuwun Sanget Mbah Gondrong, Mas Misdi, Mas Gimar. Dan semua yang telah menolongku. Aku ga akan melupakan jasa2 kalian. SEKALI LAGI, TERIMA KASIH MERAPI...SAMPAI JUMPA LAGI.....

Aku, (foto diatas, sedang jongkok) Rico Yanuari alias Walang. 15 Menit Sebelum kejadian

Jangan lupa untuk like, komen dan tag temen2mu di instagram @mountnesia ya guys.




Artikel Terkait


EmoticonEmoticon