Kisah Nyata Hilang di Semeru Selama 5 Hari

FOLLOW official instagram pendaki gunung >>> @MOUNTNESIA

Berikut adalah pengalaman hilang di Semeru selama 5 hari dari salah satu rekan @yanuari_rico, yaitu Dian Susanto, berikut kisahnya:

Tgl 18 november 2006

Saya (Dian Suanto) yang biasa dipanggil stempel dan hnya ingin berbagi cerita karena teman yang kadang bertanya tentang perjalanan sya. Tanggal 18 November 2006 saya dan windarto yg biasa dipanggil metehek adalah anggota Mahapala D3 FE Unej Jember sudah merencanakan untuk melakukan perjalanan ke gunung semeru setelah akhir ujian semester. Kami berdua mengajak teman yg juga mahasiswa FE Unej yaitu Fuad Haditya dan Sholeh hanafi. Kami mempersiapkan segala kebutuhan dan bekal untuk ke gunung semeru.

Tgl 19 november 2006

Pagi hari itu kami berempat dari jember menuju lumajang dengan menggunakan dua sepeda motor, firasat tidak baik sempat terbesit saat salah satu motor kami mengalami kerusakan pada rantai sepeda motor, tetapi kami buang jauh-jauh pikiran tersebut. Dari lumajang kami mampir ke pasar senduro utk melengkapi perlengkapan perbekalan terutama logistik. Dari pasar senduro kami lanjutkan ke ranu pane sekitar pukul 11 siang. Sampai di ranu pane kami titipkan sepeda motor di rumah Pak Tumari. Disana kami sempat bertemu dengan Tim OPA Janagiri dari Jogja. Tim kami melewati jalur watu rejeng, sementara tim janagiri melewati jalur ayak-ayak. Sore hari kami bertemu kembali di ranu kumbolo, selama perjalanan hari pertama fuad diare, tp bisa teratasi dengan minum obat. Di ranu kumbolo kami mendirikan tenda dan memasak makanan.

Tgl 20 november

Perjalanan dilanjutkan dari ranu kumbolo ke kalimati stelah mengambil air di sumber mani, kami lanjutkan perjalanan ke arcopodo & mendirikan tenda di sana. Pada malam hari Windarto(metehek) mengalami sesak nafas karena asmanya kambuh & obat yang biasanya disemprotkan ke mulutnya habis. Kondisi fisik kawan-kawan saat itu kurang baik & mereka memutuskan untuk tidak muncak esok hari, & saya pun mngurungkan niat untuk menuju puncak melihat kondisi fisik kawan-kawan.

Tgl 21 november (hari pertama hilang)

Sekitar jam 3 pagi rombongan janagiri yang mendirikan tenda di kalimati rupanya mulai menuju puncak & melewati tenda kami di arcopodo. Mereka menawarkan bantuan oksigen dan mengajak kami untuk ke puncak mahameru. Setelah kami berkoordinasi akhirnya saya & tim janagiri menuju puncak, sementara 3 teman menunggu di tenda karena kondisi fisik yg tidak memungkinkan ke puncak mahameru. Sekitar pukul setengah 6 pagi sya mencapai puncak & berfoto bersama rombongan janagiri. Sementara ada satu teman janagiri yang bernama kolap diantarkan ke tenda kami di arcopodo karena kondisi fisiknya yg kurang bagus, dan saya juga mendapat kabar bahwa kondisi windarto jg kurang baik, karena itu saya memutuskan turun lebih dulu ke arcopodo untuk melihat kondisi teman saya itu. Karena asyiknya turun dengan medan yg lebih ringan daripada ketika menuju puncak akhirnya saya terlalu ke kanan dari jalur yg seharusnya menuju ke cemoro tunggal yaitu jalan menuju arcopodo. Saya lihat banyak pohon cemara dan saya teruskan ke bawah mengikuti jalan lahar yg saya pikir akan tembus ke arcopodo atau kalimati, sampai saya terjatuh ke jurang yg tingginya sekitar 14 meter & kaki kiri saya cidera sehingga terpaksa saya seret untuk berjalan. Dengan kaki kiri yg sakit saya terus berjalan ternyata sampai sore hari saya sudah di bibir tebing curam dan dalam yg dikatakan orang blank 75 dan saya tersadar bahwa saya tersesat, nama blank 75 adalah tempat biasanya ditemukan survivor yg tersesat / meninggal / tempat survivor ditemukan selamat dibibir jurang, itu saya ketahui setelah sya selamat. Saya naiki punggungan agar tidak terikut air saat hujan krena gerimis saat sore itu dan saya membuat bivak sekedarnya dari tanaman disekitar punggungan itu. Sementara perlengkapan yg saya bawa hanya tas daypack, kamera, tempat minum & jaket serta pakaian yg melekat di badan. Mlm hari sangat gelap sampai sy tidak bisa melihat apapun & tidak bisa membuat perapian karena hujan & tidak membawa korek. Situasi psikologi seperti tak percaya bahwa saya tersesat, masih berharap ini hanya mimpi. Perasaan campur aduk jadi satu antara cemas, takut akan serangan binatang buas dll, dan tak percaya bahwa saya tersesat.

Tgl 22 november (hari kedua survival)

Pada saat matahari mulai terbit saya berjalan & mencari puncak yg tinggi untuk mencari jalan keluar dan menghangatkan tubuh dengan cara berjalan. Tak seperti yg dibayangkan, pada saat saya menaiki punggungan yang saya rasa tinggi dan bisa melihat sekeliling ternyata masih banyak lagi punggungan yg lebih tinggi & banyak jurang disekitarnya. Siang hari kepala saya rasanya pusing rupanya karena sudah dua hari saya tidak makan. Mulailah saya ber-survival dengan mencari daun yg bisa dimakan dan banyak tersedia di sana sesuai dengan ilmu diklatsar survival yang saya pelajari di MAHAPALA mengenai ciri tumbuhan yang bisa dimakan. Awalnya sempat muntah juga karena perut tidak terbiasa. Selama perjalanan saya juga memakan bunga anggrek dan buah murbei yg saya jumpai di punggungan gunungan atau pinggir jurang. Untuk air saya gali di pasir bekas hujan semalam , endapkan airnya dan saya masukkan ke tempat air minum. Sampai sore hari saya belum menemukan jalan keluar, hujan mulai deras sementara saya ada dipinggir jalan lahar, saya perhatikan air semakin tinggi dan terjadi longsor, lalu saya cari tempat yang agak tinggi. Tidak sempat membuat bivak, saya tidur melingkar di pohon besar agar tidak jatuh ke jalan lahar dan di sapu oleh air dari atas. Malam hari saya berfikir, saya pernah melihat peta countur semeru bahwa di sebelah timur adalah tempat yang landai dan biasanya di sanalah letak perkampungan. Saya putuskan besok saya harus ke arah timur dengan kompas alami yaitu matahari.

Tgl 23 november (hari ketiga Survival)

Pagi hari setelah melihat sinar matahari saya langsung berangkat berjalan ke arah timur menaiki punggungan yg kadang terjal dan terjatuh saat berpegangan ke semak-semak yg tidak terlalu kuat atau terjatuh terguling-guling terpeleset saat menuruni jurang. Uniknya ada suatu lokasi yang datar, setelah saya injak saya terjatuh kedalam, rupanya dataran tersebut adalah anyaman alami dari akar2 pohon. Siang hari saya melewati celah pepohonan dan ada lubang yg dalam diantara pohon tersebut, sepertinya jika terjatuh kesana sulit untuk bisa selamat krn lubang vertical yg sangat dalam. Selama perjalanan saya tetap memakan dedaunan yang bisa dimakan dan mengambil air dari ceruk-ceruk di bebatuan sisa air hujan semalam. Sampai sore hari saya menggali tanah di lereng di bawah akar pohon besar untuk saya gunakan tidur. Malam hari terdengar suara dentuman beberapa kali sepertinya semeru sedang aktif karena malam-malam sebelumnya tidak terdengar suara sekeras itu. Selama saya tersesat yang paling berat adalah saat hari mulai gelap, malam serasa panjang sekali dan keadaan jiwa juga gak nyaman. Entah kalau saya bikin api apakah perasaan itu sedikit reda, sayangnya hampir setiap malam turun gerimis atau hujan yg agak deras. Ditambah lagi tidak ada korek api. Ini hnya pkiran saya, jika sya memaksa membuat api dg kondisi kayu yg basah & tdk berhasil, hny akan melemahkan mental saya & menguras tenaga, sekali lagi ini hanya pemikiran saya pribadi & mungkin bertentangan dg prinsip survival.

Tgl 24 november (hari ke empat survival)

Masih tetap sendiri menuju ke arah timur, sempat putus asa juga karena seperti di kepung oleh bukit-bukit yg tak ada ujung jalan keluarnya. Saya menghibur diri dengan cara bernyanyi dan berusaha berbicara dengan diri saya sendiri. Saya menciptakan teman yg fiktif untuk diajak berbicara agar kejiwaan & semangat tetap terjaga. Di punggungan gunung sy sempat melihat kotoran binatang yg besar, saya pikir itu adalah kotoran binatang buas dan saya cepat berlari untuk menghindari hal yg tak diinginkan. Cukup berat untuk melewati hutan yg mungkin belum pernah dilewati oleh manusia, vegetasinya sangat rapat sehingga sulit sekali untuk dilewati dan sy tak membawa pisau tebas untuk membuka jalan. Hampir menjelang malam sya melihat ada bekas potongan pohon, hati sangat gembira, seperti ada harapan jalan keluar. Saya lihat di sekitar tapi tak ada jalan hingga malam dtg dan saya membuat bivak dari bekas potongan kayu2 tsb. Sepanjang malam sy berdoa agar esok bisa menemukan jalan keluar karena sy yakin bekas potongan kayu ini menandakan pernah ada orang yg ke sini.

Tgl 25 november (hari ke lima Survival)

Pagi hari sy sangat senang karena setelah mencari di sekitar potongan pohon, akhirnya sy menemukan jalan tikus(jalan setapak) menuju arah barat hingga mentok jalannya buntu, berbalik arah ke timur sy ikuti jalan ini terus sampai sy lelah dan beristirahat sejenak. Kaget rasanya setelah sekian hari untuk pertama kalinya bertemu dengan manusia, org tersebut adlh pak suwadi & pak tamin. Rupanya mereka sedang mencari rotan di hutan. Orang tsb mengatakan jika saya terus mengikuti jalan tikus ini akan sampai di hutan bambu & perkampungan, tp saya tidak mau mengambil resiko akhirnya sy menunggu dua orang tsb menyelesaikan pekerjaannya mencari rotan sampai esok hari baru mereka turun, sy pun tidur di gubuk mereka di hutan, sudah lumayan perut terisi & air gula hangat yang diberikan oleh mereka.

Tgl 26 november

Setelah dua orang tsb mendapatkan rotan yg mereka inginkan akhirnya mereka turun melewati hutan bambu dan sy mengikuti dari belakang sehingga sampai di sungai kampung sumbermujur desa candipuro. Di pinggir sungai sy melihat air sangat jernih, saya minum karena sy beberapa hari hanya minum air keruh campur pasir. Ada seorang pria yg akan mandi di sungai menanyakan sy mau kemana kok membawa tas & memakai sepatu serta celana yg sudah sobek compang camping di beberapa bagian, rupanya hal yg tak lazim di kampung. Pria tsb bernama pak Tohari, sy jawab bahwa sy tersesat di gunung semeru. Dia bertanya kembali apakah sy yg diberitakan hilang di koran, televisi dan radio, sy jawab tidak tau karena selama sy hilang, sy tidak tau keadaan di luar, lalu org tsb membawa sy ke rumahnya, entah siapa yg memberi kabar, di sana sudah banyak orang kampung, setelah mandi di sungai sy diberikan pakaian ganti, makan, minum dan dipinjami HP untuk menghubungi sekretariat Mahapala. Awalnya teman di sekretariat tidak percaya kalau yg menelepon adalah sy, mereka meminta ciri-ciri pakaian yg sy kenakan. Setelah mereka percaya karena pakaian yg sy kenakan sesuai dengan ciri-ciri pakaian yang terakhir sy gunakan, mereka menghubungi tim SAR yg ada di semeru dan saya di jemput oleh tim SAR gabungan lumajang. Setelah dibawa ke RSUD Lumajang, saya dibawa ke skretariat PA32, keesokannya dibawa kembali ke ranupane dan bertemu dengan teman SAR kabupaten lumajang, TNBTS, teman SAR OPA dan yg lainnya yg tidak bisa saya sebut satu persatu. Sy sangat berterimaksih kepada mereka yg meluangkan waktu untuk menjadi TIM SAR. Mungkin itu yg bisa saya ceritakan dari kisah saya di semeru. Sekedar pesan saya, bahwa kita hanya manusia biasa yg tidak bisa melawan alam. Dan kita adalah makhluk yg kecil dihadapan Tuhan.

Dian Susanto

MHPL NIA 0520363, jangan lupa untuk komen pendapat dan kesan kalian di instagram @mountnesia. Terimakasih dan semoga bermanfaat untuk dunia pendakian Indonesia 😊.

Artikel Terkait


EmoticonEmoticon