Cerita tentang Gunung Merapi Oleh Warga Sekitaran Lerengnya

FOLLOW official instagram pendaki gunung >>> @MOUNTNESIA


Letusan freatik Gunung Merapi, adalah cara Merapi memproklamasikan tentang haknya. Pun saat Balai Penyelidikan & Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) kemudian menganalisa letusan susulan & menyimpulkan bila ada unsur magmatik, itupun penegasan bahwa gn. Merapi memiliki hak hidup.
Warga dusun Keningar & Tutup Duwur di Kecamatan Dukun Kabupaten Magelang, setidaknya memperlakukan gn. Merapi dengan kedudukan yang sama dengan warga. Gunung Merapi memiliki hak untuk apapun, begitu pula warga juga memiliki hak untuk menyikapinya.
Kepala Dusun Tutup Duwur, Sumarjono menyebutkan bahwa Merapi memiliki hak untuk erupsi. Erupsi jenis apapun.
"Kalau mbah Rono menyebutkan Merapi berhak menyandang gelar Waspada / Siaga. Kami mengatakan gn. Merapi berhak memberi kesejahteraan kepada manusia melalui letusan apapun itu. Freatik, Efusif, ataupun Eksplosif sekalipun," kata mbah Jon, sapaan akrabnya.
Pagi hari di bawah kawah gn. Merapi dengan jarak kurang yang dari 5 km barangkali akan menggetarkan bagi orang luar. Bagi warga Keningar & Tutup nDuwur, ada mekanisme alam yang dapat dijadikan patokan ketika Merapi sudah dalam tahap yang membahayakan.
"Kami lahir, besar, juga tumbuh di tempat ini. Setiap pagi kami selalu naik mendekati puncak. Mencari rerumputan untuk ternak. Kami dihidupi oleh Merapi," kata Sumarjono.
Penghormatan kepada gunung Merapi adalah sebuah keniscayaan. Ini bukan soal mistik, juga bukan soal sirik. Ini harmoni hidup dengan alam.

Seorang petani dusun Tutup Duwur Kecamatan Dukun Magelang sedang membajak sawahnya di kaki Merapi dengan kerbaunya. (foto : Liputan6.com / edhie prayitno ige)Seorang petani dusun Tutup Duwur Kecamatan Dukun Magelang sedang membajak sawahnya di kaki Merapi dengan kerbaunya. (foto : Liputan6.com / edhie prayitno ige)
2 of 3

Jinak-jinak Merapi

Pagi hari selalu disambut warga kaki Merapi dengan giat bekerja, kabut tak menghalangi mereka. (foto : Liputan6.com / danu/ edhie prayitno ige)Pagi hari selalu disambut warga kaki Merapi dengan giat bekerja, kabut tak menghalangi mereka. (foto : Liputan6.com / danu/ edhie prayitno ige)
Pada pagi hari, warga dusun biasanya bangun sebelum matahari muncul. Mereka menikmati apapun yang disajikan Merapi & semesta yang melingkupinya. Ketika matahari terbit, suara binatang-binatang, gemuruh dari kawah, hingga komposisi asapnya dan awan yang mampu berubah warna menyesuaikan ketinggian matahari.
Bias cahaya oleh embun & juga air di sekitar puncak, tidak hanya menyajikan warna jingga sebagaimana pagi. Merapi itu menawarkan lebih. Ada ungu, ada biru, ada hitam, bermacam warna bercampur.
"Bagi warga, gunung Merapi tak pernah ingkar janji. Ia selalu memberi kode jika hendak memuntahkan isi perutnya. Tidak pernah Merapi mencelakai warga tanpa isyarat. Bahkan gunung Merapi memberi penghiburan dengan warna-warna yang unik," kata Sumarjono.
Letusan freatik yang mengawali heboh di Mei tahun 2018 ini, sebelumnya juga pernah terjadi pada tahun 1889, 1878, 1807. 1906, 1924, 1990. Kemudian beberapa kali di tahun 2012, 2013, 2014. Letusan Freatik dikenal juga sebagai letusan minor atau letusan abu.
Letusan lain yaitu letusan efusif. Pernah terjadi di tahun 1883, 1885, 1888, 1905, 1908, 1909, 1915, 1920, 1922, 1986 dan puluhan kali selama kurun waktu 1939-2006.  Letusan efusif disebabkan adanya pertumbuhan kubah lava. Kubah lava lama terdorong oleh tumbuhnya kubah lava baru dan longsor ke bawah. Longsoran ini menghasilkan awan panas.

Yang paling besar adalah saat letusan jenis eksplosif. Letusan yang disebabkan pergolakan magma dalam perut gunung. Tekanan besar menyebabkan keluarnya magma menjadi eksplosif. Terakhir letusan eksplosif terjadi pada tahun 2010.
"Nggak bisa kalau dibilang ada siklus letusan. Contohnya yang eksplosif itu, sebelumnya terjadi di tahun 1996, kemudian 2010. Padahal sepanjang tahun 1930-1933 juga meletus eksplosif hingga tiga kali. Yang jelas bagi kami Merapi tak pernah ingkar janji," kata Sumarjono.
Sementara itu, bagi Jatmiko aktivis Forum Merapi-Merbabu Hijau, erupsi Merapi tak mengurangi semangatnya menghijaukan lereng Merapi. Ia tak pernah merasa sia-sia jika tanamannya akan hangus oleh terjangan awan panas erupsi Merapi.
"Nggak ada kaitan antara letusan dan penghijauan yang kami lakukan. Kami semata-mata ingin menjaga alam Merapi dan Merbabu tetap hijau. Itu saja, sederhana. Jangan tanya manfaat atau motivasi lain," kata Jatmiko suatu hari.
Jinak-jinak Merapi. Barangkali frasa itu lebih pas. Merapi sangat jinak, bagi warga dan siapapun yang memang mengutamakan harmoni dengan lingkungan. Namun sejinak apapun, Merapi tetaplah Merapi yang memiliki hak untuk meletus.
Hak Merapi akan diimbangi dengan hak warga untuk menentukan apakah mereka perlu mengungsi ataukah tidak. Dua hak yang saling berpilin namun memiliki kemerdekaan sendiri-sendiri.
Sumber : liputan6.com/regional/read/3539782/jinak-jinak-merpati-gunung-merapi

Artikel Terkait


EmoticonEmoticon