Cerita Hipotermia di Rinjani dan Mie Ayam

FOLLOW official instagram pendaki gunung >>> @MOUNTNESIA



Kiriman dari @atibull kepada @mountnesia. Berikut ceritanya :

Setelah 6 tahun berlalu, dengan tak sengaja saya menemukan foto bersejarah ini. Saat nyawa hampir melayang karena hipotermia di gunung Rinjani, dan Atin terkenal dengan panggilan "mie ayam" oleh para pendaki di 1 Rinjani kala itu.

Cerita sebelum hipotermia, berawal dari 14 agustus 2013, aku berangkat ke Rinjani untuk memperingati hari kemerdekaan RI. Berbekal pengalaman 2 kali naik dan 1 kali summit attack di Rinjani, naiklah aku dengan mengajak beberapa teman dan bergabung dengan kelompok adikku sehingga kami berjumlah 13 orang dalam 1 tim dan aku sendiri perempuan.

16 agustus siang kami sampai di pelawangan gunung rinjani dan langsung mendirikan camp sebelum malamnya kami akan summit attack rencana jam 2 pagi. Malam itu terjadi badai, aku sempat ragu untuk ikut teman2ku untuk summit attack ke puncak rinjani, karena perlengkapan yg ku pakai kurang safety. Karena saat summit attack pertama dahulu saat bulan november cuaca tenang dan tak terlalu dingin sehingga membuatku agak meremehkan summit attack yg kedua ini. Tapi karena temanku banyak, akupun tetap melakukan summit attack.

jam 2 pagi kami bangun, melakukan sedikit persiapan dan berangkatlah kami menuju puncak gunung rinjani. Badai sudah agak berkurang, tapi udara tetap sangat dingin. Aku tak dapat menikmati sunrise dipuncak karena aku sampai puncak jam 7.30. Saat itu dipuncak rinjani sudah ramai para pendaki berfoto. Tak sampai setengah jam, aku ingin turun karena tak tahan dengan udara puncak yg sangat2 menggigit tubuhku karena suhu saat itu sekitar -3 derajat celcius. Ku ajak salah 1 teman untuk turun. Baru sebentar turun dari puncak, aku meminta izin untuk duduk istirahat sebentar kepada temanku. Begitu pantatku menyentuh bebatuan, tubuhku langsung jatuh ke samping seperti pingsan walau sebenarnya aku masih sadar. Temanku disampingku langsung kaget dan panik, begitu juga dengan orang2 disekitar yg melihatku pingsan. Tangan dan tubuhku bergetar menggigil hebat, inilah gejala hipotermia. Aku merasakan orang2 langsung memberikan pertolongan kepadaku. Ada yang menyelimutiku dengan thermal blanket dan jaket tebal, ada yg memberikan oksigen, kemudian memijat tanganku sampai sakit agar aku tak hilang kesadaran.

Lalu kenapa 1 Rinjani kala itu memanggil saya mie ayam?
Jadi ketika teman saya menyuapi saya dengan kurma dan makanan lainnya, saya selalu menggeleng sembari berkata:"makanannya ga bisa masuk". Lalu dia bertanya:"Trus mau makan apa?". Dan saya dengan manja ekeknya menjawab:"mau mie ayam 😳". Mereka yg berkumpul menolong saya langsung ngomel2 bilang kalo hypotermia saya kurang ajar.

Setelahnya aku dibopong turun ramai2 oleh para pendaki baik hati, tujuan mereka mencari dataran agak rendah yg suhunya jauh lebih hangat.

Bersyukur saat itu matahari sudah memancar agak hangat. Setelah mendapat posisi yang pas, aku diturunkan kembali, kebetulan saat itu aku sudah bisa membuka mata dan bernapas teratur. Aku langsung disuapi berbagai macam makanan yg diberikan oleh tiap pendaki yg lewat, baik itu pendaki lokal, pendaki luar lombok atau luar negri, mereka sangat baik hati. Ada yg memberikan coklat, biskuit, kurma, bahkan vodka agar tubuhku bisa hangat. Setelah agak baikan, aku kembali di gendong turun oleh salah 1 teman. Tak lama, sekitar 1 jam dengan medan berat, karena aku kasihan dengan temanku, akhirnya aku meminta untuk turun dengan berjalan sendiri saja. Alhamdulillah, karena udara memang sudah hangat, badanku kembali normal, tidak hipothermia lagi dan aku turun sampai tempat camp dalam keadaan baik.

Foto diatas adalah moment saat saya dalam gejala hipotermia dan digendong turun selama di Leter E, entah siapa yg mengabadikan. Nanjak paling manja, karena sendiri cewek diantara 12 cowok dalam 1 team. Nanjak yg paling bikin alm. ibu saya bangga, sampe cerita ke tetangga2nya kalo anak ceweknya bakalan naik gunung upacara 17an ngibarin bendera dipuncak, yg biasanya tiap izin mau naik selalu diomel pake ancaman bakalan dicoret dari kartu keluarga. Nanjak yg membuat saya mendapat kesimpulan, kalo nanjaknya diam ga pake izin ortu alhamdulillah ga ada kejadian apa, tapi kalo izin malah kena macam2 digunung, tapi tentu aja ini kesimpulan yg salah. Tapi 1 hal yg pasti yg selalu saya ingat dari kejadian ini, saat saya lolos dari maut, adalah Allah masih sayang sama saya, masih memberikan kesempatan untuk saya berbuat baik walau sifat saya menyebalkan kata teman2, masih diberikan kesempatan menikmati hidup dan bertemu orang2 baru yg memberikan banyak pelajaran hidup pada saya. Alhamdulillah, Allah masih kasi hidup


Ini juga jadi pelajaran buatku agar tak meremehkan kegiatan di alam bebas. Dan berapa kalipun naik gunung, kalau masih bersikap takabur, tak menjamin keselamatanmu digunung. Salam lestari!

Artikel Terkait

This Is The Newest Post


EmoticonEmoticon