Langsung ke konten utama

Badan Sakit Setelah Mendaki Gunung, Mengapa?


Setelah mendaki gunung biasanya badan kita akan terasa sakit. Semua otot di tubuh rasanya sakit, tetapi rasa sakit tersebut muncul setelah beberapa jam ketika selesai melakukan pendakian. Memang awalnya ketika dalam pendakian naik dan turun ke gunung kita tidak akan merasakannya. Kadang rasa pegal dahulu yang akan muncul terutama setelah melakukan perjalanan turun dari pendakian. Biasanya kaki kita akan terasa lemas dan susah untuk jalan jika kita sewaktu turun dari pendakian dengan cara berlari kemudian malah berjalan. Jika berlari terus ya lari supaya kaki kita tidak lemas. Lalu apa hal yang membuat badan terasa sakit setelah pendakian gunung?

Itu disebut dengan DOMS, kepanjangannya  Delayed Onset Muscle Sorenes. Lalu seperti apa doms itu?

1. DOMS adalah sebuah respon normal terhadap otot rangka yang disebabkan oleh aktifitas berlebih. Semua orang pasti akan merasakannya baik mereka yang merupakan atlet pendaki maupun pendaki profesional, maupun orang - orang biasa yang melakukan aktifitas berlebih semisal kita jarang bermain badminton lalu kita main sampai lama (berlebih) lalu akan mengalami DOMS. Namun intensitas juga durasi DOMS mereka berbeda. Yang sudah sering melakukan aktifitas seperti pendakian, olahraga ataupun lainnya,  maka intensitas maupun durasi dari DOMS sendiri akan akan lebih ringan juga lebih cepat.

2. DOMS ini adalah respon dari tubuh kita yang menandakan kalau otot kita sedang beradaptasi dengan intensitas aktifitas yang lebih berat, tidak seperti hari - hari biasa. Jadi ketika kita menghadapi intensitas aktifitas sejenis lagi, maka otot kita sudah siap karena pernah mengalaminya. Tidak heran ketika kalian melakukan pendakian gunung pertama kalinya, badan kalian akan merasa sakit dan sangat kelelahan. Namun ketika dalam pendakian selanjutnya, kalian akan sudah terbiasa dan yang dirasakan tidak terlalu sakit maupun terlalu lelah seperti sebelumnya.

3. Untuk soreness sendiri berbeda dengan pain. Namun soreness juga merasakan sakit, tetapi kalian masih mampu untuk melakukan aktifitas sehari - hari, walaupun otot - otot kita terasa sakit dan kurang nyaman. Rasa sakit dan pegal ini biasanya akan menghilang dengan sendirinya walaupun kita beristirahat tanpa menggunakan obat sekitar  3 sampai 5 hari atau lebih.

Pengobatan DOMS jika perlu
Jika kalian ingin mempercepat penyembuhan rasa pegal tersebut, kalian bisa melakukan yang disebut ACTIVE REST. Yaitu mengatur jadwal tidur maupun konsumsi makanan yang dilakukan dengan benar - benar teratur.
Seperti apa prosesnya?

~Lakukan konsumsi makanan teratur 3 kali sehari pada pagi, siang dan malam.

~Cukupkan dengan 2.5 liter air putih setiap harinya

~Saat mandi, gunakanlah air hangat sekali sehari, ini mampu memaksimalkan proses penyembuhan

~Tidur 8 hingga 10 jam setiap hari

~Melakukan jalan santai pada pagi hari sekitar 30-45 menit.

Itulah sedikit ulasan mengapa kalian sering sakit setelah pendakian dan juga cara pemercepat proses penyembuhannya

Semoga bermanfaat. Jangan lupa follow ig official kami @mountnesia untuk mendapatkan info - info seputar pendakian. Terimakasih


By instagram : dokter petualang
Ditulis ulang oleh Tim VIApendaki, official ig @mountnesia

Komentar

Postingan populer dari blog ini

52 Tanaman Liar Yang Bisa Dimakan di Hutan

Berikut adalah 52 jenis tanaman liar yang bisa dimakan ketika tersesat di hutan atau pendakian gunung untuk bertahan hidup. Sangat penting mengetahui tentang tanaman liar sebelum mengkonsumsinya. Dikutip dari wakingtimes.com, ada beberapa jenis tanaman yang bisa kita makan di hutan. Kita semua tahu mana sayuran dan buah-buahan yang aman untuk makan, tapi bagaimana dengan tumbuhan liar lainnya? Jika Anda tersesat, mungkin tanaman liar ini bisa dijadikan makanan untuk survival Anda : 1. Blackberry - Rubus fruticosus Banyak buah liar yang tidak aman dikonsumsi, yang terbaik adalah untuk menjauh dari mereka. Tapi blackberry liar adalah 100% aman untuk dimakan dan mudah untuk dikenali. Mereka memiliki cabang merah yang memiliki duri panjang yang mirip dengan mawar, daun hijaunya yang lebar dan bergerigi. Gampang ditemukan pada musim semi saat bunga putih mekar, mereka berkerumun di sekitar semak-semak. Buah matang sekitar Agustus sampai September. 2. Dandelion Yang paling

Kisah Mistis Pendakian Argapura Part 2

Part 2 : Langkah Kaki dan Suara Wanita Misterius di Gunung Argopuro Baca dari part 1 biar lebih lengkap, klik disini Hari Jumat pagi, kami bersiap sarapan dan packing untuk melanjutkan perjalanan. Pagi harinya kami dihibur dengan obrolan santai yang kocak dari guyonan para mahasiswa Jogjakarta. Ditengah obrolan, Irfan lalu menanyakan siapa yang keluar tenda malam-malam. "Jam segitu siapa yang keluar malam-malam ya," tanya si Irfan. "Kalau kami sudah tidur mas," ucap Andi sembari memakan sarapan mie gorengnya. "Iya mas, ngapain malam-malam gitu kami keluar tenda, dingin tau," sahut Kaka, pendaki dari Depok. "Lah, terus siapa dong yang jalan malem-malem diluar tenda? mas dari Surabaya kali ya," tanya irfan lagi. "Gak ah, kami tidur pulas semalaman," ujar si Soni. "Yaudahlah, gak usah dibahas lagi. Habis ini kita langsung packing ya. Karena kita akan menginap di Taman Hidup Argapura. Jangan sampai kita kemaleman d

Kisah Mistis Pendakian Gunung Argopuro Via Baderan

Berikut ini adalah Kisah Mistis Pendakian Gunung Argopuro Via Jalur Baderan Saya (Ryu) dan kedua teman saya, Dian dan Soni yang berangkat dari Surabaya ke Probolinggo pada Selasa malam dan sampai di pendakian jalur pos Baderan sekitar pukul 07.00 WIB. Karena saya sedang ada tugas kantor untuk mencari tahu tentang sejarah Gunung Argopuro dan Dewi Rengganis, jadi ketika sebelum melakukan pendakian, saya dan Dian singgah ke rumah tokoh masyarakat yang ada disana (nanti akan diceritakan tentang sejarah Gunung Argopuro dan Dewi Rengganis dari buku lama sesepuh). Sekira pukul 10.00 WIB, kami bertiga kemudian memulai pendakian dari jalur Baderan. Saat di pos Baderan, kami bertemu dengan sepasang kekasih yang merupakan mahasiswa dari Semarang, karena mereka baru perdana melakukan pendakian ke gunung argopuro, jadi mereka ikut barengan mendaki bersama dengan kami. Ditengah perjalanan, kami bertemu dengan satu tim lagi, yaitu mahasiswa berasal dari Jogjakarta. Lima orang mahasiswa jogja