Langsung ke konten utama

Merbabu Via Jalur Suwanting

Berikut ini adalah perjalanan mendaki gunung merbabu via suwanting. Belum mendaki gunung merbabu apabila belum lewat jalur suwanting. Sekiranya itu kata yang tepat untuk mengawali cerita saya.

Foto refrensi dari pendaki merbabu via suwanting
Jalur suwanting merupakan jalur yang tergolong baru. Ada beberapa rute untuk bisa menuju kesana. Jika dari arah jogja/magelang bisa lewat ketep pass. Jika dari arah semarang/salatiga bisa melewati daerah kopeng-ketep pass. Jika dari arah boyolali bisa ke arah selo langsung ke suwanting. Waktu itu, Tgl 15 juni 2016. Sambutan hujan deras mengantar kita berangkat dari semarang pakai roda dua. Suasana hati tak karuan antara ragu untuk mendaki apa tidak. Apalagi bulan puasa. Waktu iu kita lewat jalur boyolali, Karena kita terbiasa lewat jalur selo. Dan ternyata rute ini terlalu lama karena mengitari gunung. Perjalanan dari semarang memakan waktu lebih kurang 3 jam. 


Setelah sampai kita istirahat di basecamp, dan diberi briefing langsung oleh ketua basecamp untuk menjelaskan rute dan peta. Untuk biaya registrasi kita dikenakan Rp 15.000 per orang dan parkir Rp 5000 per motor.



Start pendakian 

Setelah persiapan selesai. Kita berjalan kaki dari basecamp ke pos 1. Tertera panjang keseluruhan jalur suwanting ini 4800 meter, Sampai puncak. Perjalanan kami mulai pukul 21.30 WIB. Mengingat bulan puasa kami sepakat untuk mendaki malam hari. Basecamp sampai dengan pos 1 merupakan kawasan hutan pinus. Tak ada masalah berarti, walaupun track langsung nanjak trus. Setelah pos 1 ada pos air. di jalur suwanting ini ada 3 pos air, jadi tak usah membawa bekal air berlebih. Karena akan menambah beban carrier. Setelah pos air pertama kita mulai memasuki lembah-lembah. Ada lembah gosong. Lembah cemara dll. Jalur lembah ini merupakan hutan vegetasi bebas. Tenang saja, jalurnya masih nanjak trus. Keunggulan dari jalur ini ialah tak melewati medan yang banyak jurang. Jadi relatif aman. Namun dengan kemiringan yang relatif lumayan tinggi. Membuat stamina cepat terkuras. Basecamp-pos 45 menit. Perjalanan dari pos 1 ke pos 2 lumayan. Lebih kurang 2-2.5 jam. Sebelum pos 2 ada pos air 2 jadi bisa masak air atau minum susu sejenak. Setelah pos 2 kita akan melewati lembah manding. Disini kita disarankan mengucapkan salam ke alam, entah itu gunung atau makhluk lain yang menghuninya. Lembah ini sering disebut lembah putus asa. Karena tracknya yang nanjak dan relatif panjang. Selang beberapa saat kami memasuki hutan manding, kami memutuskan untuk mendirikan tenda. Karena angin yang kencang dan sudah  pukul 01.30 WIB. Setelah mendirikan tenda dan menata peralatan. Kami memutuskan untuk memasak untuk sahur, menu pagi itu sangatlah bervariasi. Mulai dari sayur sop kentang, Omelet telur, telur dadar, nugget ayam, tempe goreng. Buah melon ditemani susu hangat dan kopi. Pokoknya nutrisi itu penting. Terlebih bulan puasa.


Setelah sahur, kami memutuskan rehat sejenak untuk sholat kemudian tidur. Kami tidak terlalu mengejar sunrise karena sudah sering melihatnya jadi kami putuskan untuk menikmati perjalanan saja 😁✌. Namun anggota kami juga ada yang bangun untuk melihat sunrise dari sabana 1. Walaupun terhalang.


Pagi nya pun kami melanjutkan perjalanan menuju pos 3. Carrier dan peralatan yang tk dibutuhkan ditinggal ditenda. Suasana jelas berubah. Kabut dan panas matahari memengaruhi suasana tenggorokan ini. Apalagi melewati lembah manding yang ada beberapa titik kita dibantu menggunakan tali karena terlalu curam. Setelah kami berjalan, tepat sebelum pos 3 ada pos air 3. Jadi kita bisa cuci muka agar lebih fresh. Setelah itu tak lama tetep nanjak trus. Ketemu lah kita dengan pos 3. Dari sinilah kita mulai istirahat sejenak dan foto-foto. Setelah itu kita naik ke sabana 1, 2, 3 kemudian puncak suwanting. Dari pos 3 ke puncak memakan waktu 2 jam ( tempo santai ).


Setelah puas foto-foto dan menikmati panorama, akhirnya kita memutuskan untuk turun. Mulai dari sinilah ujian kita dimulai. Tengah hari yang panas, puasa. Sangat disarankan untuk tidak mendaki apabila berpuasa. Karena efek untuk kesehatan juga tidak baik. Namun kita tetep nekat berpuasa. Setelah sampai ke tenda. Mulai dari pukul 15.00 WIB kita selesai berkemas dan merapikan tenda di lembah mamding. Setelah itu badan lemas kami melanjutkan perjalanan turun. Dehidrasi membuat tempo jalan kami menjadi lambat. Sehingga sampai pukul 17. 36 kami baru sampai di pos air satu dan memutuskan untuk berbuka disana. Dengan memasak air kemudian membuat agar-agar dan susu hangat serta kopi. Setelah perut terisi dan istirahat sholat kami melanjutkan perjalanan. Dimana hanya tinggal sebentar saja sudah tiba dibasecamp. Efek sudah buka jadi jalannya lebih cepat.


Setelah kami sampai basecamp, dan istirahat sejenak. Kami langsung pulang menuju semarang via kopeng. Dan sampai rumah dengan selamat.

Capeknya kerasa dobel. Tapi pengalaman ndaki waktu puasa juga pelajaran yang berharga.

Terima kasih


Berikut dokumentasi pendakiannya









Yuk follow instagram kami kalau kamu mau berbagi foto - foto pendakianmu atau sekedar melihat - lihat foto pendakian gunung Indonesia di @mountnesia 😄

Penulis:

Ig @hadi_nurcahyono

Editor :

Tim Viapendaki
Official ig @mountnesia

Komentar

Postingan populer dari blog ini

52 Tanaman Liar Yang Bisa Dimakan di Hutan

Berikut adalah 52 jenis tanaman liar yang bisa dimakan ketika tersesat di hutan atau pendakian gunung untuk bertahan hidup. Sangat penting mengetahui tentang tanaman liar sebelum mengkonsumsinya. Dikutip dari wakingtimes.com, ada beberapa jenis tanaman yang bisa kita makan di hutan. Kita semua tahu mana sayuran dan buah-buahan yang aman untuk makan, tapi bagaimana dengan tumbuhan liar lainnya? Jika Anda tersesat, mungkin tanaman liar ini bisa dijadikan makanan untuk survival Anda : 1. Blackberry - Rubus fruticosus Banyak buah liar yang tidak aman dikonsumsi, yang terbaik adalah untuk menjauh dari mereka. Tapi blackberry liar adalah 100% aman untuk dimakan dan mudah untuk dikenali. Mereka memiliki cabang merah yang memiliki duri panjang yang mirip dengan mawar, daun hijaunya yang lebar dan bergerigi. Gampang ditemukan pada musim semi saat bunga putih mekar, mereka berkerumun di sekitar semak-semak. Buah matang sekitar Agustus sampai September. 2. Dandelion Yang paling

Kisah Mistis Pendakian Argapura Part 2

Part 2 : Langkah Kaki dan Suara Wanita Misterius di Gunung Argopuro Baca dari part 1 biar lebih lengkap, klik disini Hari Jumat pagi, kami bersiap sarapan dan packing untuk melanjutkan perjalanan. Pagi harinya kami dihibur dengan obrolan santai yang kocak dari guyonan para mahasiswa Jogjakarta. Ditengah obrolan, Irfan lalu menanyakan siapa yang keluar tenda malam-malam. "Jam segitu siapa yang keluar malam-malam ya," tanya si Irfan. "Kalau kami sudah tidur mas," ucap Andi sembari memakan sarapan mie gorengnya. "Iya mas, ngapain malam-malam gitu kami keluar tenda, dingin tau," sahut Kaka, pendaki dari Depok. "Lah, terus siapa dong yang jalan malem-malem diluar tenda? mas dari Surabaya kali ya," tanya irfan lagi. "Gak ah, kami tidur pulas semalaman," ujar si Soni. "Yaudahlah, gak usah dibahas lagi. Habis ini kita langsung packing ya. Karena kita akan menginap di Taman Hidup Argapura. Jangan sampai kita kemaleman d

Kisah Mistis Pendakian Gunung Argopuro Via Baderan

Berikut ini adalah Kisah Mistis Pendakian Gunung Argopuro Via Jalur Baderan Saya (Ryu) dan kedua teman saya, Dian dan Soni yang berangkat dari Surabaya ke Probolinggo pada Selasa malam dan sampai di pendakian jalur pos Baderan sekitar pukul 07.00 WIB. Karena saya sedang ada tugas kantor untuk mencari tahu tentang sejarah Gunung Argopuro dan Dewi Rengganis, jadi ketika sebelum melakukan pendakian, saya dan Dian singgah ke rumah tokoh masyarakat yang ada disana (nanti akan diceritakan tentang sejarah Gunung Argopuro dan Dewi Rengganis dari buku lama sesepuh). Sekira pukul 10.00 WIB, kami bertiga kemudian memulai pendakian dari jalur Baderan. Saat di pos Baderan, kami bertemu dengan sepasang kekasih yang merupakan mahasiswa dari Semarang, karena mereka baru perdana melakukan pendakian ke gunung argopuro, jadi mereka ikut barengan mendaki bersama dengan kami. Ditengah perjalanan, kami bertemu dengan satu tim lagi, yaitu mahasiswa berasal dari Jogjakarta. Lima orang mahasiswa jogja