Langsung ke konten utama

Rute Menuju Hutan Pinus Mangunan yang Makin Cantik

Hutan Pinus Mangunan di kecamatan Dlingo yang terletak di kabupaten Bantul, Yogyakarta ini  memang makin populer seiring berjalannya waktu. 

Jika dulu hanya dikenal oleh mereka para pencinta olahraga sepeda karena rute dan akses jalannya yang sangat mudah, kini sejak maraknya berbagai akun media sosial seperti instagram, hutan pinus ini makin ramai dikunjungi baik untuk lokasi hunting foto, camping, hingga pre-wedding. Deretan pohon pinus yang tumbuh subur teratur juga membuatnya sering digunakan untuk kegiatan hammocking.

Tirai selamat datang di Hutan Pinus Mangunan 
yang dibuat dari akar tanaman

Pernah saya dan teman-teman mengikuti salah satu kegiatan hammock camp di lokasi hutan pinus ini dan ternyata super seru ! Udaranya sejuk, fasilitasnya lengkap, dan juga lokasinya bersih. Bagi yang belum pernah kalian kudu nyobain buat camping disini.

Foto saya dan teman-teman ketikahammock camp 
di hutan pinus Mangunan

Waktu terbaik untuk mengunjungi hutan pinus ini adalah pada pagi hari karena selain dapat merasakan hawa yang sejuk, pada pagi hari pemandangan alam yang ada di sana sangatlah memukau dan indah. Jika kalian berkesempatan datang bahkan sebelum matahari terbit, kabut tipis yang ada diantara pohon-pohon pinus menimbulkan efek magis tersendiri. Terasa misterius dan sepi.

Keindahan dan keunikan dari hutan pinus inilah yang membuat hutan pinus Mangunan ini menjadi tempat hunting foto menarik di Jogja yang cukup populer. Bahkan beberapa stasiun televisi sering menjadikan hutan pinus ini sebagai lokasi syuting. Pokdarwis setempat yang sadar bahwa lokasi ini memiliki potensi wisata yang besar, membangun banyak fasilitas dan menciptakan berbagai spot khusus yang dapat digunakan sebagai lokasi foto. Fasilitas yang tersedia di lokasi ini pun cukup lengkap mulai dari kamar mandi umum yang bersih, mushola, tempat parkir motor yang diberi atap, tempat parkir mobil yang luas, dan warung-warung sederhana pun telah di bangun di kawasan wisata ini.

Untuk menunjang “hasrat narsis” anak-anak muda saat ini, mereka juga membangun banyak gardu pandang dari yang pendek hingga bertingkat, panggung pertunjukan yang menyatu dengan alam yang dikenal dengan “panggung alam”, hingga persewaan hammock bagi mereka yang ingin berayun manja dan menikmati sejuknya udara di hutan pinus ini.

Udara yang sejuk + hammock = mager

Sekedar informasi, kalau kalian kesini bukan di hari libur, biasanya tidak akan ada persewaan hammock. Karena memang relatif sepi di hari-hari biasa. Jadi kalau mau ayunan di hammock pas weekday paling aman ya bawa hammock sendiri. Katanya kalau nyewa, harga sewanya sekitar 10.000 per buah. Tak jauh dari pintu masuk, kita akan menemui gardu pandang yang pertama. Tidak terlalu tinggi, tapi dari sini kalian bisa melihat sebagian hutan pinus dan juga jalan masuk serta parkiran kendaraan.

Gardu pandang pertama yang terlihat dari pintu masuk. 
Tenang, masih ada lagi gardu pandang 
jika kalian mau berjalan jauh ke dalam hutan.
Gardu pandang bertingkat yang tak boleh dilewatkan 
karena pemandangan dari atas sini sangat cantik. 
Buat menuju kesini 
kalian harus jalan sedikit ke dalam.

Untuk gardu pandang kedua ini, pengelola sudah memberi batasan, untuk lantai atas maksimal 3 orang dan untuk lantai bawah maksimal 5 orang. Tapi kalau yang naik berat badannya agak “berlebih”, kita kira-kira sendiri ya jumlah orang yang naik. Pengelola juga membatasi waktu bagi yang menaiki gardu pandang hanya terbatas maksimal 10 menit. Biar semua kebagian menikmati view dari atas gardu pandang tersebut.
Ada  semacam kotak sumbangan di setiap gardu pandang. Naiknya memang gratis, namun kotak ini ditujukan untuk mengumpulkan dana bagi perawatan gardu. Nggak ada salahnya kan menyumbang selembar dua lembar , toh kita sudah menggunakan fasilitas tersebut.
Akhir-akhir ini jika kita sering mengamati, banyak beredar foto panggung terbuka di lokasi hutan pinus Mangunan. Bahkan fotonya muncul di 9gag loh. Meski foto panggung alam ini sudah banyak beredar di media sosial, ternyata masih banyak yang tidak tahu letak lokasi ini. Ya, memang panggung ini letaknya bukan di lokasi hutan pinus yang sering dipakai orang foto-foto, tapi di seberangnya. Kalau kalian dari parkiran, biasanya akan langsung menyeberang jalan untuk menuju ke lokasi hutan pinus. Nah, kalau mau ke panggung ini kalian jangan menyebrang dulu. Dari parkir motor/ mobil akan terlihat bangunan Mushola, disebelahnya ada jaaln setapak. Ikuti jalan tersebut dan nanti panggungnya udah kelihatan kok. Kalau masih bingung, paling aman tanya tukang parkir atau pengelola lokasi ini. Jangan sampai udah jauh-jauh datang kalian tidak explore hutan pinus ini sepuasnya.

Panggung alam yang lokasinya tidak jauh dari tempat parkir. 
Sepertinya mengadakan pertunjukan musik disini bakalan seru ya!
Kursi penonton yang ditata rapi melingkari panggung.
Mau foto di panggung pas sepi begini ? 
Jangan datang pas hari libur

Oh ya, tak banyak pula yang tahu jika ternyata ada filosofi menarik tentang pohon pinus sebagai lambang cinta orang Korea. Menurut mereka, pohon pinus yang berbatang tegak lurus adalah simbol cinta yang lurus dan tidak bercabang-cabang. Sedangkan daun pinus yang selalu hijau diibaratkan sebagai cinta yang tak pernah berakhir atau Everlasting Love. Menarik bukan?

Kawasan Hutan Pinus Mangunan

Sekedar informasi, Hutan Pinus Mangunan ini berada di kawasan RPH (Resort Pengelolaan Hutan) Mangunan yang ditumbuhi tanaman Pinus merkusii. Lokasinya searah dengan situs makam Raja-Raja Imogiri sehingga banyak orang salah menyebutnya menjadi Hutan Pinus Imogiri, terutama wisatawan yang berasal dari luar Jogja. Padahal jika dilihat secara administratif hutan pinus ini tidak termasuk kawasan Imogiri.
Oh ya, bagi kalian yang merokok sebaiknya berhati-hati dalam membuang puntung rokok ataupun batang korek api. Karena jika lalai dalam mematikannya dapat memicu terjadinya kebakaran hutan. Namun alangkah baiknya ketika mengunjungi wisata ini kalian tidak merokok ya. Karena kawasan ini tidak dilewati oleh kendaraan umum, seperti angkot dan lainnya, maka sebaiknya ketika kemari kalian menggunakan kendaraan pribadi. Mengingat jalannya cukup menanjak sebaiknya kalian berhati-hati dalam berkendara agar tidak terjadi sesuatu yang tak diinginkan dan pastikan kendaraan kalian dalam kondisi yang prima. Jangan khawatir, di pertigaan terakhir sebelum menanjak ada bengkel kendaraan untuk jaga-jaga.

Tuh sampe dibikinin tulisan. Dilarang Main Api !

Rute Perjalanan
Bagi kalian yang tertarik untuk datang ke tempat ini, ini rute perjalanan yang bisa kalian tempuh:
Kota Jogja - Jl. Imogiri Timur - kawasan Imogiri - pertigaan Imogiri belok kiri ke arah Makam Raja-raja Imogiri – ketemu pertigaan belok kanan ke arah Mangunan - pertigaan Mangunan belok kiri atau jalan yang menanjak ke arah hutan pinus – tiba di Hutan Pinus Mangunan.

Jam buka Hutan Pinus Mangunan
Tidak seperti tempat wisata lainnya, di tempat wisata ini tidak ada jam buka. Sehingga para pengunjung bebas mau mengunjungi wisata ini.

Harga tiket
Untuk bisa masuk ke hutan pinus Mangunan ini masih GRATIS alias tidak dipungut biaya karena memang belum ada loket masuknya.
Akan tetapi kalian tetap harus membayar biaya parkir kendaraan, yaitu

Sepeda Motor :
Rp 3000

Mobil :
Rp 10.000

Sementara jika kalian mau ke area panggung alam, ada kotak infaq yang disediakan dengan jumlah minimal per orang Rp 2.500.

Bus :
Rp 20.000

Pre wedding :
Rp 50.000

Sewa hammock :
Rp 10.000 sepuasnya.


Selamat berwisata !

Masih penasaran tentang Hutan Pinus Mangunan? Dapat bertanya jawab kepada penulis / via komentar. Terimakasih.

Penulis
Instagram : @jetrani.rd , @rezadiasjetrani

Editor
Tim viapendaki
Official ig @mountnesia

Komentar

Postingan populer dari blog ini

52 Tanaman Liar Yang Bisa Dimakan di Hutan

Berikut adalah 52 jenis tanaman liar yang bisa dimakan ketika tersesat di hutan atau pendakian gunung untuk bertahan hidup. Sangat penting mengetahui tentang tanaman liar sebelum mengkonsumsinya. Dikutip dari wakingtimes.com, ada beberapa jenis tanaman yang bisa kita makan di hutan. Kita semua tahu mana sayuran dan buah-buahan yang aman untuk makan, tapi bagaimana dengan tumbuhan liar lainnya? Jika Anda tersesat, mungkin tanaman liar ini bisa dijadikan makanan untuk survival Anda : 1. Blackberry - Rubus fruticosus Banyak buah liar yang tidak aman dikonsumsi, yang terbaik adalah untuk menjauh dari mereka. Tapi blackberry liar adalah 100% aman untuk dimakan dan mudah untuk dikenali. Mereka memiliki cabang merah yang memiliki duri panjang yang mirip dengan mawar, daun hijaunya yang lebar dan bergerigi. Gampang ditemukan pada musim semi saat bunga putih mekar, mereka berkerumun di sekitar semak-semak. Buah matang sekitar Agustus sampai September. 2. Dandelion Yang paling

Kisah Mistis Pendakian Argapura Part 2

Part 2 : Langkah Kaki dan Suara Wanita Misterius di Gunung Argopuro Baca dari part 1 biar lebih lengkap, klik disini Hari Jumat pagi, kami bersiap sarapan dan packing untuk melanjutkan perjalanan. Pagi harinya kami dihibur dengan obrolan santai yang kocak dari guyonan para mahasiswa Jogjakarta. Ditengah obrolan, Irfan lalu menanyakan siapa yang keluar tenda malam-malam. "Jam segitu siapa yang keluar malam-malam ya," tanya si Irfan. "Kalau kami sudah tidur mas," ucap Andi sembari memakan sarapan mie gorengnya. "Iya mas, ngapain malam-malam gitu kami keluar tenda, dingin tau," sahut Kaka, pendaki dari Depok. "Lah, terus siapa dong yang jalan malem-malem diluar tenda? mas dari Surabaya kali ya," tanya irfan lagi. "Gak ah, kami tidur pulas semalaman," ujar si Soni. "Yaudahlah, gak usah dibahas lagi. Habis ini kita langsung packing ya. Karena kita akan menginap di Taman Hidup Argapura. Jangan sampai kita kemaleman d

Kisah Mistis Pendakian Gunung Argopuro Via Baderan

Berikut ini adalah Kisah Mistis Pendakian Gunung Argopuro Via Jalur Baderan Saya (Ryu) dan kedua teman saya, Dian dan Soni yang berangkat dari Surabaya ke Probolinggo pada Selasa malam dan sampai di pendakian jalur pos Baderan sekitar pukul 07.00 WIB. Karena saya sedang ada tugas kantor untuk mencari tahu tentang sejarah Gunung Argopuro dan Dewi Rengganis, jadi ketika sebelum melakukan pendakian, saya dan Dian singgah ke rumah tokoh masyarakat yang ada disana (nanti akan diceritakan tentang sejarah Gunung Argopuro dan Dewi Rengganis dari buku lama sesepuh). Sekira pukul 10.00 WIB, kami bertiga kemudian memulai pendakian dari jalur Baderan. Saat di pos Baderan, kami bertemu dengan sepasang kekasih yang merupakan mahasiswa dari Semarang, karena mereka baru perdana melakukan pendakian ke gunung argopuro, jadi mereka ikut barengan mendaki bersama dengan kami. Ditengah perjalanan, kami bertemu dengan satu tim lagi, yaitu mahasiswa berasal dari Jogjakarta. Lima orang mahasiswa jogja