Langsung ke konten utama

Gereja Ayam dan Bukit Rhema, Magelang, Jawa Tengah


Ke magelang? Yuk datang ke Gereja Ayam, salah satu tempat wisata yang wajib dikunjungi ketika berada di kabupaten Magelang adalah Bukit Rhema dan Gereja Ayam yang terletak di sebuah bukit bernama Bukit Rhema di daerah Borobudur, Magelang, Jawa Tengah. Gereja ayam ini adalah sebuah bangunan Gereja berbentuk seperti ayam yang tengah duduk di tanah dimana bagian kepalanya terdapat sebuah mahkota. Tau nggak? Ini pernah menjadi tempat shyuting untuk film AADC Ana Apa Dengan Cinta :v

Film AADC 2 (Ada Apa dengan Cinta 2) ini sudah meraup 1 juta penonton dalam waktu lima hari saja sejak dirilis. Buat kalian yang sudah nonton film yang dibintangi oleh Dian Sastro sebagai Cinta dan Nicholas Saputra sebagai Rangga ini, pasti sudah tahu bahwa Gereja Ayam di Magelang dijadikan sebagai lokasi syuting. Banyak yang kagum dengan Gereja ini dan bilang bentuknya mirip ayam, makanya disebut Gereja Ayam, padahal bukan.



Apa Saja Bagian – Bagian Gereja Ayam?


  • Tingkat Pertama,

yang merupakan Langit-langit Gereja. Disini para pengunjung dapat menyaksikan secara keseluruhan ruangan yang berada di gereja ayam, dengan beberapa pilar di sudut bagian ekor dan jendela-jendela berbentuk bunga yang ada di tiap sisinya. Kalau jeli, pengunjung dapat menyaksikan motif salib yang berada pada langit-langit bangunan.


  • Bagian Tingkat Kedua, Leher Ayam

Pada tingkatan ini, pengunjung dapat menyaksikan pemandangan melalui jendela-jendela kecil berbentuk jajar genjang yang terpasang di leher . Termasuk pemandangan alam yang berpadu dengan badan hingga ekor si ayam yang disaksikan dari posisi leher ayam.



  • Tingkat Ketiga, Paruh Ayam

Naik ke atas lagi, berupa bagian paruh ayam yang bergincu, yaitu berwarna merah merekah. Pada bagian ini juga terdapat sarana untuk menyaksikan pemandangan dari paruh ayam, tetapi terdapat sebuah blokade yang dibuat dari bambu.


  • Bagian Tingkat Keempat, Mahkota Ayam

Apabila muat, disana pengunjung juga dapat mendaki tangga menuju mahkota ayam yaitu dengan melewati lubang kecil seukuran tubuh orang dewasa Indonesia umumnya. Pemandangan dari mahkota ayam ini luar biasa indahnya.



Kisah dan Sejarah Gereja Ayam

Awal mulanya pada tahun 1989, seorang  bernama Daniel Alamsjah berasal dari Bandar Lampung mendapat panggilan Illahi untuk berdoa semalaman di atas sebuah bukit di daerah Borobudur. Hasil dari doanya semalaman Ia mendapatkan sebuah firman-Nya, Tawarikh 28:10, lalu Ia menafsirkan ayat ini adalah perintah baginya untuk membangun sebuah Rumah Doa untuk segala bangsa serta untuk semua agama.

Melalui doa yang cukup lama, banyak mukjizat yang terjadi dalam pembebasan tanah, di awal tahun 1992 dimulai pembangunannya dan kini bangunan tersebut berbentuk burung merpati seperti ayam, meski belum sempurna, pengunjung dari berbagai suku bangsa datang melihat bangunan ini karena bentuk dan kontruksinya yang unik berbentuk merpati yang terbesar di dunia, dan dari puncak crownnya kita dapat memandang keindahan alam yang berada di sekitar candi Borobudur dan dikelilingi oleh gunung – gunung, Sumbing, Merbabu, Merapi,Tidar, dan Puncak Suroloyo yang sangat menakjubkan. Di basement terdapat ruang kamar – kamar berbentuk gua yang dapat kita gunakan untuk berdoa pribadi maupun kelompok. Dari bintang.com, Gereja Ayam ini juga sempat jadi lokasi beribadah warga sekitar dari berbagai agama, seperti Islam, Buddha, dan Kristen dengan cara mereka sendiri. Selain itu, bangunan ini juga pernah digunakan sebagai pusat rehabilitasi untuk anak-anak pecandu narkoba, cacat, dan orang gila.

Walapun Gereja Ayam sudah lama bangunannya terbengkalai, tidak terurus, dan sudah banyak ditumbuhi oleh tumbuh-tumbuhan, tetapi bangunan ini masih berdiri dengan megah dan unik. Banyak dari mereka yang mengunjungi Gereja Ayam karena tertarik akan keindahan dan keunikannya. Cukup banyak dari mereka yang menggunakan tempat ini sebagai lokasi untuk hunting foto. Lama-lama, pengunjung Gereja Ayam  semakin mendunia dan menjadi sorotan para travelers dunia yang mengunggah fotonya di media sosial. Bukan hanya sekadar ingin berkunjung dan menikmati keunikannya, banyak juga pengunjung yang ingin melakukan foto pre wedding, bahkan menikah di sana. Karena gereja ini sudah terkenal di luar negeri, sebutan untuk bangunan gereja ini juga makin banyak, diantaranya yaitu  Gereja Bird, Gereja Chicken, Pigeon Hill, Gereja Dove, dan lain-lain.

Dulu salah satu teman VIApendaki, instagram @lukmankhakim16 juga pernah kesana sebelum terkenal. Awalnya hanya jalan - jalan saja cari spot menarik di daerah Magelang. Namun ia tertarik ketika melihat bangunan tersebut dan kebetulan disana ada sang pemilik. Lalu pemilik gereja tersebut bercerita kalau sebenarnya gereja tersebut sudah hendak dijual sampai 3 kali  lebih dan selalu gagal saat hendak terjadi persetujuan. Siapa sangka sekarang menjadi terkenal seperti ini?

Lokasi :
Bukit Rhema berada di 2,5 Km sebelah barat Candi Borobudur. Tepatnya beralamat di Dusun Gombong, Desa Kembanglimus, Kec. Borobudur, Kab. Magelang, Jawa Tengah – Indonesia.


HTM Tarif Masuk Bukit Rhema dan Gereja Ayam
Harga Tiket Bukit Rhema dan Gereja Ayam. Untuk masuk ke Gereja Ayam kita bisa memberi sumbangan sebesar

  • Parkir : 2.000
  • Wisatawan Lokal : 5.000
  • Turis : 10.000


Dari Bukit Rhema ini kita juga dapat menikmati keindahan sunrise dengan view berupa puncak Borobudur, gunung Merapi, Merbabu. sedangkan untuk Gereja Ayam hanya melayani sunrise pada hari sabtu dan minggu saja.

Konon katanya, tempat - tempat penginapan yang ada di daerah gereja ini juga menjadi ramai setelah tempat ini dijadikan lokasi syuting AADC.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

52 Tanaman Liar Yang Bisa Dimakan di Hutan

Berikut adalah 52 jenis tanaman liar yang bisa dimakan ketika tersesat di hutan atau pendakian gunung untuk bertahan hidup. Sangat penting mengetahui tentang tanaman liar sebelum mengkonsumsinya. Dikutip dari wakingtimes.com, ada beberapa jenis tanaman yang bisa kita makan di hutan. Kita semua tahu mana sayuran dan buah-buahan yang aman untuk makan, tapi bagaimana dengan tumbuhan liar lainnya? Jika Anda tersesat, mungkin tanaman liar ini bisa dijadikan makanan untuk survival Anda : 1. Blackberry - Rubus fruticosus Banyak buah liar yang tidak aman dikonsumsi, yang terbaik adalah untuk menjauh dari mereka. Tapi blackberry liar adalah 100% aman untuk dimakan dan mudah untuk dikenali. Mereka memiliki cabang merah yang memiliki duri panjang yang mirip dengan mawar, daun hijaunya yang lebar dan bergerigi. Gampang ditemukan pada musim semi saat bunga putih mekar, mereka berkerumun di sekitar semak-semak. Buah matang sekitar Agustus sampai September. 2. Dandelion Yang paling

Kisah Mistis Pendakian Argapura Part 2

Part 2 : Langkah Kaki dan Suara Wanita Misterius di Gunung Argopuro Baca dari part 1 biar lebih lengkap, klik disini Hari Jumat pagi, kami bersiap sarapan dan packing untuk melanjutkan perjalanan. Pagi harinya kami dihibur dengan obrolan santai yang kocak dari guyonan para mahasiswa Jogjakarta. Ditengah obrolan, Irfan lalu menanyakan siapa yang keluar tenda malam-malam. "Jam segitu siapa yang keluar malam-malam ya," tanya si Irfan. "Kalau kami sudah tidur mas," ucap Andi sembari memakan sarapan mie gorengnya. "Iya mas, ngapain malam-malam gitu kami keluar tenda, dingin tau," sahut Kaka, pendaki dari Depok. "Lah, terus siapa dong yang jalan malem-malem diluar tenda? mas dari Surabaya kali ya," tanya irfan lagi. "Gak ah, kami tidur pulas semalaman," ujar si Soni. "Yaudahlah, gak usah dibahas lagi. Habis ini kita langsung packing ya. Karena kita akan menginap di Taman Hidup Argapura. Jangan sampai kita kemaleman d

Kisah Mistis Pendakian Gunung Argopuro Via Baderan

Berikut ini adalah Kisah Mistis Pendakian Gunung Argopuro Via Jalur Baderan Saya (Ryu) dan kedua teman saya, Dian dan Soni yang berangkat dari Surabaya ke Probolinggo pada Selasa malam dan sampai di pendakian jalur pos Baderan sekitar pukul 07.00 WIB. Karena saya sedang ada tugas kantor untuk mencari tahu tentang sejarah Gunung Argopuro dan Dewi Rengganis, jadi ketika sebelum melakukan pendakian, saya dan Dian singgah ke rumah tokoh masyarakat yang ada disana (nanti akan diceritakan tentang sejarah Gunung Argopuro dan Dewi Rengganis dari buku lama sesepuh). Sekira pukul 10.00 WIB, kami bertiga kemudian memulai pendakian dari jalur Baderan. Saat di pos Baderan, kami bertemu dengan sepasang kekasih yang merupakan mahasiswa dari Semarang, karena mereka baru perdana melakukan pendakian ke gunung argopuro, jadi mereka ikut barengan mendaki bersama dengan kami. Ditengah perjalanan, kami bertemu dengan satu tim lagi, yaitu mahasiswa berasal dari Jogjakarta. Lima orang mahasiswa jogja