Langsung ke konten utama

Dataran Tinggi Dieng, Wisata, Kebudayaan dan Oleh - Oleh Khas

Dataran tinggi dieng adalah kawasan gunung berapi vulkanik raksasa dengan beberapa kepunden. Disana menawarkan banyak wisata seperti kawah.  Apa saja wisata di Dieng? Berikut ini adalah beberapa wisata, kebudayaan, dan makanan khas di Dieng.

Kawah
Yang akan kita bahas pertama kali disini adalah kawah candra dimuka. Jika kesana kita akan menuruni anak tangga dan melewati asap kawah vulkanik yang bau. Ada beberapa kawah disana dan yang terbesar adalah kawah candra dimuka. Disinlah mitosnya gatot kaca yang masuk ke kawah candra dimuka dan menjadikan tubuhnya sangat kuat dan sakti. Ketika sampai di kawah akan ada penghalang. Disana kita tidak boleh mandi di kawah yang mendidih. Ada pemandian khusus disana yang bisa sebagai terapi, yaitu mandi di air hangat belerang yang dapat menyembuhkan kita dari gatal – gatal. Ada beberapa lubang kawah disana, semuanya mengeluarkan air panas dan disana juga ada sumber air tawar yang airnya cukup dingin. Airnya bisa diminum langsung dan menurut hasil penelitian, airnya tidak mengandung zat berbahaya. Mitosnya adalah air tersebut dapat menjadaikan kita awet muda jika meminumnya.
Kawah Candra Dimuka




Sumur Jalatundra
Tidak jauh dari kawah candra dimuka ada wisata unik yaitu sumur jalatundra yang dibentuk dari letusan dahsyat ribuan tahun silam. Sumur ini juga mempunyai mitos. Menurut legenda, di tempat ini tinggalah putri jahat yang menyembah dewa ular. Mitosnya kalau ada yang dapat melempar batu hingga ke ujung sebrang sumur, maka segala keinginannya akan terkabul. Disana juga telah disediakan batu untuk melempar.



Dataran tinggi dieng ini sangat memesona, disana juga terdapat makanan khas dieng yang bisa kamu jadikan sebagai oleh – oleh. Apa saja oleh – oleh khas dieng? Salah satunya adalah carica, yaitu minuman manisan dari buah carica yang sangat manis dan airnya segar. Buah carica mengandung enzim, vitamin dan mineral yang bermanfaat untuk tubuh manusia.

Dieng Culture
Setiap tahunnya di dieng diadakan festival kebudayaan, festival kebudayaan yang terbesar di Indonesia yaitu dieng culture. Adalah acara tahunan yang digelar masyarakat deing. Apa saja acaranya?
  • ·         Ada pemotongan rambut anak gimbal yang sudah menjadi cirikhas disana.  Anak – anak berambut gimbal ini katanya adalah keturunan dari pendiri dieng.
  • ·         Pada festival juga disediakan minuman purwaceng. Purwaceng adalah minuman khas yang ada di banjar negara di kawasan dieng. Istilahnya, jika di korea disebut gingseng.
  • ·         Tari topeng diiringi dengan musik gambang, saron, gong dan lainnya dengan iringan musik tradisional. Yang menari yaitu laki dan perempuan dengan pakaian tradisional.
  • ·         Ada tarian kuda lumping. Mereka membawa kuda luming yang terbuat dari kepang atau anyaman bambu. Diiringi dengan alat musik tradisional. Tarian ini dipimpin oleh seorang ketua yang membawa cambuk.






Dieng Culture Festival ini tidak hanya dibanjiri masyarakat dieng, melainkan wisatawan dari berbagai daerah dan turis asing.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

52 Tanaman Liar Yang Bisa Dimakan di Hutan

Berikut adalah 52 jenis tanaman liar yang bisa dimakan ketika tersesat di hutan atau pendakian gunung untuk bertahan hidup. Sangat penting mengetahui tentang tanaman liar sebelum mengkonsumsinya. Dikutip dari wakingtimes.com, ada beberapa jenis tanaman yang bisa kita makan di hutan. Kita semua tahu mana sayuran dan buah-buahan yang aman untuk makan, tapi bagaimana dengan tumbuhan liar lainnya? Jika Anda tersesat, mungkin tanaman liar ini bisa dijadikan makanan untuk survival Anda : 1. Blackberry - Rubus fruticosus Banyak buah liar yang tidak aman dikonsumsi, yang terbaik adalah untuk menjauh dari mereka. Tapi blackberry liar adalah 100% aman untuk dimakan dan mudah untuk dikenali. Mereka memiliki cabang merah yang memiliki duri panjang yang mirip dengan mawar, daun hijaunya yang lebar dan bergerigi. Gampang ditemukan pada musim semi saat bunga putih mekar, mereka berkerumun di sekitar semak-semak. Buah matang sekitar Agustus sampai September. 2. Dandelion Yang paling

Kisah Mistis Pendakian Argapura Part 2

Part 2 : Langkah Kaki dan Suara Wanita Misterius di Gunung Argopuro Baca dari part 1 biar lebih lengkap, klik disini Hari Jumat pagi, kami bersiap sarapan dan packing untuk melanjutkan perjalanan. Pagi harinya kami dihibur dengan obrolan santai yang kocak dari guyonan para mahasiswa Jogjakarta. Ditengah obrolan, Irfan lalu menanyakan siapa yang keluar tenda malam-malam. "Jam segitu siapa yang keluar malam-malam ya," tanya si Irfan. "Kalau kami sudah tidur mas," ucap Andi sembari memakan sarapan mie gorengnya. "Iya mas, ngapain malam-malam gitu kami keluar tenda, dingin tau," sahut Kaka, pendaki dari Depok. "Lah, terus siapa dong yang jalan malem-malem diluar tenda? mas dari Surabaya kali ya," tanya irfan lagi. "Gak ah, kami tidur pulas semalaman," ujar si Soni. "Yaudahlah, gak usah dibahas lagi. Habis ini kita langsung packing ya. Karena kita akan menginap di Taman Hidup Argapura. Jangan sampai kita kemaleman d

Kisah Mistis Pendakian Gunung Argopuro Via Baderan

Berikut ini adalah Kisah Mistis Pendakian Gunung Argopuro Via Jalur Baderan Saya (Ryu) dan kedua teman saya, Dian dan Soni yang berangkat dari Surabaya ke Probolinggo pada Selasa malam dan sampai di pendakian jalur pos Baderan sekitar pukul 07.00 WIB. Karena saya sedang ada tugas kantor untuk mencari tahu tentang sejarah Gunung Argopuro dan Dewi Rengganis, jadi ketika sebelum melakukan pendakian, saya dan Dian singgah ke rumah tokoh masyarakat yang ada disana (nanti akan diceritakan tentang sejarah Gunung Argopuro dan Dewi Rengganis dari buku lama sesepuh). Sekira pukul 10.00 WIB, kami bertiga kemudian memulai pendakian dari jalur Baderan. Saat di pos Baderan, kami bertemu dengan sepasang kekasih yang merupakan mahasiswa dari Semarang, karena mereka baru perdana melakukan pendakian ke gunung argopuro, jadi mereka ikut barengan mendaki bersama dengan kami. Ditengah perjalanan, kami bertemu dengan satu tim lagi, yaitu mahasiswa berasal dari Jogjakarta. Lima orang mahasiswa jogja