Langsung ke konten utama

Gunung Pangonan, Dieng


Gunung Pangonan adalah pendakian gunung di kawasan Dieng, Jawa Tengah yang sekarang telah kembali dibuka untuk umum. Kawasan Dieng yang telah dikenal sebagai kawasan wisata unggulan ini, juga dikenal dengan wisata gunungnya.

Gunung yang populer di telinga penggiat alam biasanya adalah Gunung Prau, Bukit Sikunir, dan Gunung Pakuwajan. Srkarang, ada gunung baru lagi yang patut Anda coba. Namanya adalah Gunung Pangonan.

Gunung ini bisa menjadi kita coba untuk di daki, karena pos pendakian atau bascamp Gunung berketinggian 2300 mdpl ini sudah resmi dibuka sejak tanggal 18 Februari 2016 kemarin oleh Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, diikuti dengan perayaan Tawur Agung Umat Hindu di Kawah Sikidang.

Bagaimana Basecamp Pendakiannya?
Untuk basecamp pendakian Gunung Pangonan ini berada di Desa Karangtengah, Kecamatan Batur, Kabupaten Banjarnegara. Posnya ditandai dengan bangunan rumah kayu permanen, disertai tempat parkir kendaraan yang amat luas, lokasinya berada tepat di awal jalur pendakian.

Basecmp ini cocok menjadi tempat persiapan naik ke gunung Pangonan, serta melepas dahaga sejenak perjalanan dari rumah. Menurut Suyudi, salah seorang pengelola basecamp pangonan mengatakan bahwa Gunung Pangonan cocok untuk semua pendaki.


Para pendaki pemula pun juga dapat menaikinya lantaran rute perjalanan yang dilalui tidak cukup terjal dan waktunya pun cukup singkat. Jika cuaca terang, puncak gunung juga telah kelihatan dari pos pertama.

Suyadi juga mengatakan kalau dirinya dapat naik ke puncak dengan waktu tempuh cuma 20 menit saja, ditanyai ketika di sela pembukaan pos pendakian, tengah pekan ini.

Namun jarak tempuh ini bisa berbeda jauh tergantung dengan kondisi pendaki itu sendiri. Gunung Pangonan ini, kata dia, mempunyai keunikan dibanding gunung lain yang ada di Dieng.

Apabila Gunung Prau bisa menikmati puncak yang luas dan panorama yang sangat indah, sementara Sikunir bisa menikmati pemandangan sunrise yang cantik, Gunung Pangonan akan menawarkan pengalaman yang berbeda.

Selain dapat menikmati sunrise dan sunset di atas puncak gunung Pangonan, Anda juga dapat menikmati sebuah pemandangan panjang, yaitu berupa padang sabana. Seperti lazimnya padang, di atas Gunung Pangonan, rumput-rumput banyak tumbuh liar nan luas yang menyelimuti gunung.

Cocok di Musim Kemarau
Apabila saat musim kemarau tiba, rumputnya akan terlihat makin indah karena makin menguning. Pemandangan rumput kuning ini tambah menarik ketika diabadikan dalam foto, bahkan tidak sedikit para pengunjung yang berfoto "selfie" di padang sabana ini.


Jika Anda sedang berhalangan mengunjungi Gunung Semeru yang ada padang sabana terkenalnya itu, cukuplah Anda lihat panorama sabana dari gunung ini dahulu.

Di atas gunung juga ada temuan candi. Jadi bisa melihat, tapi lokasinya berbeda, ada di salah satu bukit di belakang jalur awal pendakian Pangonan.

Gunung Pangonan lokasinya tepat berada di atas kompleks wisata Candi Arjuna. Saat Anda beberapa langkah menaiki gunung, Anda akan dapat melihat dengan jelas candi legendaris warisan umat Hindu tersebut.

Bahkan, ketika turun dari pendakian, Anda juga akan dimanjakan dengan panorama alam Kawah Sikidang. Apakah Anda tertarik? Silahkan coba mendaki.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

52 Tanaman Liar Yang Bisa Dimakan di Hutan

Berikut adalah 52 jenis tanaman liar yang bisa dimakan ketika tersesat di hutan atau pendakian gunung untuk bertahan hidup. Sangat penting mengetahui tentang tanaman liar sebelum mengkonsumsinya. Dikutip dari wakingtimes.com, ada beberapa jenis tanaman yang bisa kita makan di hutan. Kita semua tahu mana sayuran dan buah-buahan yang aman untuk makan, tapi bagaimana dengan tumbuhan liar lainnya? Jika Anda tersesat, mungkin tanaman liar ini bisa dijadikan makanan untuk survival Anda : 1. Blackberry - Rubus fruticosus Banyak buah liar yang tidak aman dikonsumsi, yang terbaik adalah untuk menjauh dari mereka. Tapi blackberry liar adalah 100% aman untuk dimakan dan mudah untuk dikenali. Mereka memiliki cabang merah yang memiliki duri panjang yang mirip dengan mawar, daun hijaunya yang lebar dan bergerigi. Gampang ditemukan pada musim semi saat bunga putih mekar, mereka berkerumun di sekitar semak-semak. Buah matang sekitar Agustus sampai September. 2. Dandelion Yang paling

Kisah Mistis Pendakian Argapura Part 2

Part 2 : Langkah Kaki dan Suara Wanita Misterius di Gunung Argopuro Baca dari part 1 biar lebih lengkap, klik disini Hari Jumat pagi, kami bersiap sarapan dan packing untuk melanjutkan perjalanan. Pagi harinya kami dihibur dengan obrolan santai yang kocak dari guyonan para mahasiswa Jogjakarta. Ditengah obrolan, Irfan lalu menanyakan siapa yang keluar tenda malam-malam. "Jam segitu siapa yang keluar malam-malam ya," tanya si Irfan. "Kalau kami sudah tidur mas," ucap Andi sembari memakan sarapan mie gorengnya. "Iya mas, ngapain malam-malam gitu kami keluar tenda, dingin tau," sahut Kaka, pendaki dari Depok. "Lah, terus siapa dong yang jalan malem-malem diluar tenda? mas dari Surabaya kali ya," tanya irfan lagi. "Gak ah, kami tidur pulas semalaman," ujar si Soni. "Yaudahlah, gak usah dibahas lagi. Habis ini kita langsung packing ya. Karena kita akan menginap di Taman Hidup Argapura. Jangan sampai kita kemaleman d

Kisah Mistis Pendakian Gunung Argopuro Via Baderan

Berikut ini adalah Kisah Mistis Pendakian Gunung Argopuro Via Jalur Baderan Saya (Ryu) dan kedua teman saya, Dian dan Soni yang berangkat dari Surabaya ke Probolinggo pada Selasa malam dan sampai di pendakian jalur pos Baderan sekitar pukul 07.00 WIB. Karena saya sedang ada tugas kantor untuk mencari tahu tentang sejarah Gunung Argopuro dan Dewi Rengganis, jadi ketika sebelum melakukan pendakian, saya dan Dian singgah ke rumah tokoh masyarakat yang ada disana (nanti akan diceritakan tentang sejarah Gunung Argopuro dan Dewi Rengganis dari buku lama sesepuh). Sekira pukul 10.00 WIB, kami bertiga kemudian memulai pendakian dari jalur Baderan. Saat di pos Baderan, kami bertemu dengan sepasang kekasih yang merupakan mahasiswa dari Semarang, karena mereka baru perdana melakukan pendakian ke gunung argopuro, jadi mereka ikut barengan mendaki bersama dengan kami. Ditengah perjalanan, kami bertemu dengan satu tim lagi, yaitu mahasiswa berasal dari Jogjakarta. Lima orang mahasiswa jogja