Langsung ke konten utama

Perjalanan ke Desa Wae Rebo, NTT

Instagram.com/lesmanpasaribu

Wae Rebo adalah desa adat terpencil dan juga misterius yang terletak di Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur. Di desa adat ini hanya terdapat 7 rumah utama atau yang disebut dengan Mbaru Niang. Menurut legenda dan sejarah dari masyarakatnya, nenek moyang mereka berasal dari daerah Minangkabau, Sumatera.

Mengunjungi “kampung di atas awan” Wae Rebo letak tepatnya di desa Satar Lenda, Kec. Satarmese Barat, Kabulaten Manggarai Barat Flores adalah pengalaman yang tidak terlupakan. Budaya, adat istiadatnya serta keindahan panorama alam ditambah dengan keramahan penduduknya yang sekitar 112 KK atau 625 jiwa penduduk di kampung ini, membuat beberapa jam menginjakkan kaki di desa ini rasanya seperti pulang kampung. Meskipun letak desa ini relatif terisolir, dari Denge, kampung terakhir, kita perlu menempuh perjalanan kaki sekitar 2 hingga 4 jam untuk menyusuri hutan, menyeberang sungai dan melintasi bibir jurang yang bernahaya, para generasi muda Waerebo mulai menyadari bahwa kampung mereka semakin bertambah ramai dikunjungi. Apalagi setelah memenangkan penghargaan UNESCO, yaitu sebagai Warisan Budaya Dunia yang dinobatkan pada bulan Agustus 2012 lalu, telah menyisihkan 42 negara lainnya, kampung ini bertambah banyak pengunjungnya.

Masih gak nyangka saya bisa sampai ke sini. Setelah beberapa kali tabungan untuk biaya perjalanan ke sini malah terpakai untuk kebutuhan yang lain, akhirnya kemudian terkumpul juga dan puji Tuhan dapat menyambangi desa di atas awan, Waerebo. Sekedar berbagi, untuk sebuah perjalanan yang jauh, pasti saya telah rencanakan ini dari jauh-jauh hari. Termasuk dalam menyisihkan beberapa persen dari penghasilan saya. Karena saya sadari kalau saya sendiri bukan dari kalangan orang berada. Namun bukan berarti Indonesia tidak bisa saya jelajahi dan nikmati keindahannya. Niatan saja tidak akan cukup tanpa sebuah rencana dan usaha. Semoga masih diberi kesempatan untuk mewujudkan wishlist-wishlist yang lainnya.
Instagram.com/lesmanpasaribu

Masih inget banget waktu perjalanan ke sini yang penuh warna. Dimulai dari naik gunung hingga turun ke pesisir laut. Sampai ke "gerbang" desa untuk melanjutkan treking juga kesorean. Kurang lebih hingga jam 3 sore. Sempat bingung juga mau lanjut treking saat itu juga atau lanjut besok pagi. Karena keterbatasan waktu yang kami punya, akhirnya kami lanjut treking saat itu juga dibantu oleh ojek sampai di pos 1 yang amat sangat membantu karena trek jalanan aspalnya yang bermedan super nanjak!

Sesampainya di pos 1, kemudian kami ngebut melanjutkan pendakian karena tidak mau kemalaman di jalan. Yang berbeda dengan pos 1, kali ini treknya adalah tanah agak becek bekas hujan dengan kanan kirinya adalah jurang menganga tertutup oleh pepohonan. Jadi kita mesti berhati-hati karena licin. Beruntung saya, saat itu ketemu beberapa warga desa yang mau pulang ke atas sana. Ada dari mereka yang habis anter anak imunisasi, beli gelas dan piring dari pasar, dll. Kebayang kan mau ke pasar aja mereka mesti naik turun gunung? Kalau turun sih mending, naiknya itu yang jadi PR banget.

Keasikan ngobrol dengan mereka, gak kerasa akhirnya sampai juga di Desa Wae Rebo dengan waktu tempuh sekitar 2 jam karena kami ngebut haha. Speechless. Itulah yang pertama kali saya rasakan. Ternyata desa di balik gunung di atas awan itu memang beneran ada dan khas banget.

Sungguh ini adalah sebuah perjalanan yang penuh pelajaran yang berharga menyambangi Desa Wae Rebo sekaligus merayakan kemerdekaan RI saat itu. Bertemu juga dengan orang baru yang sampai saat ini menjadi teman baru, membaur bersama warga desa mengikuti segala proses kehidupan di sana, memperingati juga 17 Agustus dengan upacara bersama warga desa dan pengunjung lainnya, serta menyaksikan Tari Caci, dan kesenian tradisional sejenis tarian perang khas masyarakat Manggarai, hingga tak sengaja juga bertemu Teh Adita (@aditananda) dan team yang saat itu sedang liputan Jejak Petualang Trans 7. Semuanya itu tentunya menjadi momen yang tidak bisa diulang, hanya saja bisa dikenang.
Instagram.com/lesmanpasaribu

Dirgahayu HUT RI yang ke 71 dari atap rumah adat Desa Wae Rebo, Mbaru Niang. Terasa merinding, terharu, dan bersyukurnya saya yang bisa upacara bersama warga dan pengunjung lain di sini. Ahh Wae Rebo ini memang mengajarkan saya banyak hal.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

52 Tanaman Liar Yang Bisa Dimakan di Hutan

Berikut adalah 52 jenis tanaman liar yang bisa dimakan ketika tersesat di hutan atau pendakian gunung untuk bertahan hidup. Sangat penting mengetahui tentang tanaman liar sebelum mengkonsumsinya. Dikutip dari wakingtimes.com, ada beberapa jenis tanaman yang bisa kita makan di hutan. Kita semua tahu mana sayuran dan buah-buahan yang aman untuk makan, tapi bagaimana dengan tumbuhan liar lainnya? Jika Anda tersesat, mungkin tanaman liar ini bisa dijadikan makanan untuk survival Anda : 1. Blackberry - Rubus fruticosus Banyak buah liar yang tidak aman dikonsumsi, yang terbaik adalah untuk menjauh dari mereka. Tapi blackberry liar adalah 100% aman untuk dimakan dan mudah untuk dikenali. Mereka memiliki cabang merah yang memiliki duri panjang yang mirip dengan mawar, daun hijaunya yang lebar dan bergerigi. Gampang ditemukan pada musim semi saat bunga putih mekar, mereka berkerumun di sekitar semak-semak. Buah matang sekitar Agustus sampai September. 2. Dandelion Yang paling

Kisah Mistis Pendakian Argapura Part 2

Part 2 : Langkah Kaki dan Suara Wanita Misterius di Gunung Argopuro Baca dari part 1 biar lebih lengkap, klik disini Hari Jumat pagi, kami bersiap sarapan dan packing untuk melanjutkan perjalanan. Pagi harinya kami dihibur dengan obrolan santai yang kocak dari guyonan para mahasiswa Jogjakarta. Ditengah obrolan, Irfan lalu menanyakan siapa yang keluar tenda malam-malam. "Jam segitu siapa yang keluar malam-malam ya," tanya si Irfan. "Kalau kami sudah tidur mas," ucap Andi sembari memakan sarapan mie gorengnya. "Iya mas, ngapain malam-malam gitu kami keluar tenda, dingin tau," sahut Kaka, pendaki dari Depok. "Lah, terus siapa dong yang jalan malem-malem diluar tenda? mas dari Surabaya kali ya," tanya irfan lagi. "Gak ah, kami tidur pulas semalaman," ujar si Soni. "Yaudahlah, gak usah dibahas lagi. Habis ini kita langsung packing ya. Karena kita akan menginap di Taman Hidup Argapura. Jangan sampai kita kemaleman d

Logistik yang Harus Dibawa Saat Pendakian

Pendakian gunung itu perlu persiapan yang matang, apalagi tentang masalah logistik. Apa saja barang logistik yang perlu kita bawa di pendakian? Berikut logistik yang perlu kita bawa : Air Kita perlu menyiapkan air putih. Biasanya untuk satu malam pendakian, kita membawa 2 botol air putih ukuran 1,5 liter. Kebutuhan air ini untuk minuman, memasak air hangat untuk kopi, teh, wedang jahe, pipis dll. Pipis bisa pakai tisu basah saja / tayamum pakai daun. Roti Makanan ini sebagai cadangan makanan saat pendakian. Juga bisa sebagai menu di perjalanan pendakian. Bawalah roti yang banyak sebagai cadangan. Biasanya ketika muncak, kita hanya bawa logistik minuman, roti dan camilan. Lainnya ditinggal di tenda. Camilan Kita bisa bawa camilan makanan ringan seperti kacang, atau keripik. Akantetapi biasanya makanan seperti ini membuat kita cepat haus. Roti gandum Juga bisa dibawa, walaupun ukurannya kecil, tetapi memiliki kandungan karbohidrat yang tinggi. Bisa dijadikan untuk menu p