Langsung ke konten utama

Mengajak Istri Mendaki Semeru, Semangat Nafas Tua!


Duduk-duduk bareng istri menikmati keindahan pemandangan Oro-Oro Ombo dan sejuknya udara Semeru.

PENDAKIAN PALING "WAS-WAS" BAGI SAYA

Dulu, ketika masih single, salah satu impian saya adalah pengen membawa istri untuk mendaki gunung. Di bayangan saya, pasti sangatlah seru mendaki bareng istri. Dan, impian itu akhirnya kesampaian, dalam sebuah pendakian ke Gunung Semeru.

Berbekal pengalaman dua kali mendaki Semeru sebelumnya, saya yakin bisa bawa istri sampai ke Danau Ranukumbolo. Saya memang cuma membatasi sampai Danau Ranukumbolo dengan beberapa pertimbangan.

Pendakian ini adalah pendakian yang membuat saya was-was. Was-was karena kali ini saya membawa istri. Mendaki bareng teman saja kita tetap harus bertanggung jawab atas keselamatan teman, apalagi bawa istri! Beban & tanggung jawabnya lebih besar. Maklumlah, belahan jiwa  soalnya. Apalagi yang namanya suami adalah pemimpin, jadi kita mesti tanggung jawab dengan keselamatan istri. Ditambah istri memang selama ini tidak hobby untuk mendaki gunung.
Demi menjaga tanggung jawab sebagai suami & fokus menjaga istri selama pendakian, akhirnya saya memutuskan untuk menyewa porter supaya membawa barang - barang bawaan (*Alasan klise sebenarnya. Padahal memang udah gak kuat bawa keril. Maklum udah berumur..ha..ha.. :D ) .

Pendakian ternyata tidak berjalan semulus seperti yang saya perkirakan. Niat awal saya ingin memulai pendakian sepagi mungkin agar bisa santai. Tapi karena berbagai hal, jadilah kami baru memulai pendakian sekitar pukul 15.00. Kondisi semakin menantang ketika kacamata saya hilang di Musholla Ranu Pane. Persis sbelum saya & istri memulai pendakian. Ini juga salah satu faktor yang membuat pendakian menjadi molor. Dengan mata minus, tentu akan smakin challenging.

Akhirnya setelah mempertimbangkan berbagai hal, saya memutuskan untuk melanjutkan pendakian.

Alhamdulillah, meskipun memakan waktu lama, saya & istri sampai juga di danau Ranukumbolo. Dan salutnya istri saya ternyata kuat selama dalam perjalanan. Bahkan jarang sekali minum. Ini diluar dugaan saya, karena prediksi saya, istri pasti akan banyak minum karena belum terbiasa melakukan pendakian.

Mimpi saya yang selanjutnya adalah ingin membawa istri saya untuk mendaki Rinjani. Semoga bisa kesampaian.

Penulis :
Instagram @niko7l

Komentar

Postingan populer dari blog ini

52 Tanaman Liar Yang Bisa Dimakan di Hutan

Berikut adalah 52 jenis tanaman liar yang bisa dimakan ketika tersesat di hutan atau pendakian gunung untuk bertahan hidup. Sangat penting mengetahui tentang tanaman liar sebelum mengkonsumsinya. Dikutip dari wakingtimes.com, ada beberapa jenis tanaman yang bisa kita makan di hutan. Kita semua tahu mana sayuran dan buah-buahan yang aman untuk makan, tapi bagaimana dengan tumbuhan liar lainnya? Jika Anda tersesat, mungkin tanaman liar ini bisa dijadikan makanan untuk survival Anda : 1. Blackberry - Rubus fruticosus Banyak buah liar yang tidak aman dikonsumsi, yang terbaik adalah untuk menjauh dari mereka. Tapi blackberry liar adalah 100% aman untuk dimakan dan mudah untuk dikenali. Mereka memiliki cabang merah yang memiliki duri panjang yang mirip dengan mawar, daun hijaunya yang lebar dan bergerigi. Gampang ditemukan pada musim semi saat bunga putih mekar, mereka berkerumun di sekitar semak-semak. Buah matang sekitar Agustus sampai September. 2. Dandelion Yang paling

Kisah Mistis Pendakian Argapura Part 2

Part 2 : Langkah Kaki dan Suara Wanita Misterius di Gunung Argopuro Baca dari part 1 biar lebih lengkap, klik disini Hari Jumat pagi, kami bersiap sarapan dan packing untuk melanjutkan perjalanan. Pagi harinya kami dihibur dengan obrolan santai yang kocak dari guyonan para mahasiswa Jogjakarta. Ditengah obrolan, Irfan lalu menanyakan siapa yang keluar tenda malam-malam. "Jam segitu siapa yang keluar malam-malam ya," tanya si Irfan. "Kalau kami sudah tidur mas," ucap Andi sembari memakan sarapan mie gorengnya. "Iya mas, ngapain malam-malam gitu kami keluar tenda, dingin tau," sahut Kaka, pendaki dari Depok. "Lah, terus siapa dong yang jalan malem-malem diluar tenda? mas dari Surabaya kali ya," tanya irfan lagi. "Gak ah, kami tidur pulas semalaman," ujar si Soni. "Yaudahlah, gak usah dibahas lagi. Habis ini kita langsung packing ya. Karena kita akan menginap di Taman Hidup Argapura. Jangan sampai kita kemaleman d

Kisah Mistis Pendakian Gunung Argopuro Via Baderan

Berikut ini adalah Kisah Mistis Pendakian Gunung Argopuro Via Jalur Baderan Saya (Ryu) dan kedua teman saya, Dian dan Soni yang berangkat dari Surabaya ke Probolinggo pada Selasa malam dan sampai di pendakian jalur pos Baderan sekitar pukul 07.00 WIB. Karena saya sedang ada tugas kantor untuk mencari tahu tentang sejarah Gunung Argopuro dan Dewi Rengganis, jadi ketika sebelum melakukan pendakian, saya dan Dian singgah ke rumah tokoh masyarakat yang ada disana (nanti akan diceritakan tentang sejarah Gunung Argopuro dan Dewi Rengganis dari buku lama sesepuh). Sekira pukul 10.00 WIB, kami bertiga kemudian memulai pendakian dari jalur Baderan. Saat di pos Baderan, kami bertemu dengan sepasang kekasih yang merupakan mahasiswa dari Semarang, karena mereka baru perdana melakukan pendakian ke gunung argopuro, jadi mereka ikut barengan mendaki bersama dengan kami. Ditengah perjalanan, kami bertemu dengan satu tim lagi, yaitu mahasiswa berasal dari Jogjakarta. Lima orang mahasiswa jogja