Langsung ke konten utama

Pengalaman Mendaki Gunung Saat Hamil

Oleh @reiiiza : Ini cerita pengalaman pendakian Gunung Rinjani bersama Istri saya yg sedang hamil 6 bulan,
Bukan perkara mudah dengan keadaan hamil mendaki gunung tertinggi ke 3 di Indonesia.

Persiapan yang saya dan istri lakukan rutin cek kandungan ke Bidan untuk tau kesehatan kandungannya, Logistik kami usahakan yg bergizi (bukan instan), & vitamin, bahkan untuk tidur pun kami  membawa Kasur & bantal angin lengkap dengan kompa nya.
kami melalukan pendakian pada tanggal 22 Oktober 2017 bersama 4 teman2 saya.
Kami mendaki 6 orang start dari Sembalun jam 2 siang  dengan jalan santai, kami finish & camping di Pos 2 pukul 07:20 WITA.
Pagi hari setelah sarapan & beres2 kami lanjutkan pendakian, trek semakin sulit setelah melewati istirahat di pos 3.
Setelah itu kami  menuju plawangan melewati bukit penyesalan, di tambah lagi di bukit penyesalan kami kehabisan air, tapi beruntung kami di beri air oleh porter yg melintas & pendaki2 lain untuk istri saya yg sedang hamil.
Kami sempat istirahat  berkali kali di jalur ini karena medan yang terjal & menanjak tidak henti2.
Setiap langkah istri saya selalu menahan perut dengan tangannya agar tidak ada goncangan.
Wajah kelelahan sudah tampak jelas dan saya hanya berdoa semoga tidak terjadi apa2 terhadap istri dan calon anak saya, tak lama kemudaian kami di guyur hujan lebat di sekitar Bukit Penyesalan, air hujannya seperti air es, kami hanya berteduh mengunakan jas hujan dan plastik sampah yang kami kibarkan di atas kepala. Semua menggigil kedinginan, kami tidak bisa mendirikan tenda di Bukit ini karena kemiringan  & tempat yang tidak memadai, di benak saya hanya kecemasan melihat istri dan calon anak saya, kita di tengah hutan dan hujan lebat.
Setelah melewati guyuraan badai singkat cerita akhirnya kami sampai di Plawangan dengan sudah payah & badan bergetar  pukul 17:50 WITA, perjalanan kami kurang lebih 10 jam dari pos 2 ke Plawangan.. Allhamdulillah kami 6 orang sampai dengan selamat di Plawangan,
hanya sebentar kami melihat lihat keindahan Rinjani yg luar biasa , kami ber 6 pun Lanjut menuju Plawangan 4 untuk mendirikan tenda yg katanya dekat dengan sumber air. karena kamI kehabisan air.



kami pun berkemah di  tempat tersebut..
Dini hari pukul 02:00WITA kami ber 5 memutuskan untuk summit ke puncak 3726MDPL tanpa Istri saya yang sedang hamil karena bahaya sekali untuk wanita hamil melihat trek yang extream berbatu menuju puncak.

Keesokan harinya setelah summit kami berhasil. kami pun turun menuju Segara Anak.

Lagi lagi kami di suguhi jalur yang extream bebatuan & tebing jurang, dengan perlahan tapi pasti ditambah kecemasan saya, istri saya pun mampu melewatinya dengan tempo yang lambat & tanggan yang menahan perut.
Kurang lebih kamI menghabiskan waktu 4 jam dari plawangan menuju segara anak.

Kita pun berkemah semalam menikmati keindahan Segara Anak & teman2 saya memancing ikan untuk makan malam sebelum akhirnya kita turun via jalur Senaru keesokan harinya.
Esok harinya saya di sugguhkan pilihan serba salah ketika harus memutuskan turun via jalur mana. kita gak mungkin kembali lewat Sembalun karena trek ketika turun saja sudah exrtim gimana nanjaknya? Gak bisa bayangin saya bawa istri saya yg sedang hamil lewatin jalur kembali ke Plawangan Sembalun. Tapi beberapa porter juga melarang lewat Senaru karena lebih terjal katanya & katanya gak boleh Medirikan tenda di sepanjang jalur Senaru setelah pos 3 sampai gerbang kalo kemalaman, katanya sih mistis gitu deh.

Setelah pertimbangkan & ngobrol dengan teman2 saya.  akhirnya apa boleh buat saya ikut jalur Senaru dengan alsan lebih singkat waktu nya katanya. Kami pun melanjutkan perjalanan turun pukul 08:20 WITA.
Dan hasilnya. sumpah kacau jalurnya, lebih terjal bener kata porter. Tapi banyak yg membantu kami dari sumbangan logistic & air untuk istri saya sampai seseorang perempuan yg mau menuntun istri saya jalan setelah sempat terjatuh di terjal bebatuan. Kejadian yg membuat semua panic kerena istri saya terjatuh. Alhamdulilah tidak terjadi hal yg serius.
Dengan sangat berterima kasih kepada semua yg telah menolong kami, kami pun harus mempersilahkan mereka jalan lebih dulu setelah melewati jalur curam dan terjal, karena kami berjalan lambat . alhasil kami kemalamam di hutan Senaru dan kami terpisah dengan 2 teman kami yg lebih dulu turun.

Dengan berbekal senter dan makanan ringan kami lanjutkan perjalanan ber 4, hanya dzikir yg menenangkan istri dan calon anak saya di kegelapan hutan & dingin nya gunung.
Sempat berfikir kami yg terakhir lewati jalur ini tapi ketika kami sampai pos 2 Senaru tidak lama kemudian banyak teman2 pendaki yg sedang turun juga bahkan ada yg membawa anak Balita juga.

kami tertolong dengan ke ramahan mereka. Akhirnya kami bersama turun di gelap malam & dinginnya hutan Senaru.
Dan akhirnya dengan terseok seok & punggung yang sudah sangat pegal, Alhamdulillah kami ber 4 berhasil keluar pintu Senaru pukul 23:15 WITA. Hampir 15 jam kami berjalan.

Keberhailan kami bukan tolak ukur untuk pendaki wanita yang sedang hamil. Keberhasilan kami pun tidak lepas dari bantuan orang banyak yg menolong kami. Saran saya jangan nekat melakukan pendakian dengan keadaan hamil. Semua harus di persiapkan matang2 jika memang nekat ngidam ingin mendaki. Dari kesehatan, konsultasi ke Bidan, logistic yg bergizi dan mencukupi, sampai alas tidur yang nyaman untuk ibu hamil bukan sekedar tanah beralas matras. Dan sebagai suami saya kebagian carrier berat penuh isi hahahaha.

Hamil bukan berarti tidak bisa mendaki tapi lebih baik JANGAN MENDAKI.
Terima Kasih untuk semua yang sudah membantu kami di pendakian Gunung Rinjani tanggal 22-27 Oktober 2017…  See You Next Trip…

Komentar

Postingan populer dari blog ini

52 Tanaman Liar Yang Bisa Dimakan di Hutan

Berikut adalah 52 jenis tanaman liar yang bisa dimakan ketika tersesat di hutan atau pendakian gunung untuk bertahan hidup. Sangat penting mengetahui tentang tanaman liar sebelum mengkonsumsinya. Dikutip dari wakingtimes.com, ada beberapa jenis tanaman yang bisa kita makan di hutan. Kita semua tahu mana sayuran dan buah-buahan yang aman untuk makan, tapi bagaimana dengan tumbuhan liar lainnya? Jika Anda tersesat, mungkin tanaman liar ini bisa dijadikan makanan untuk survival Anda : 1. Blackberry - Rubus fruticosus Banyak buah liar yang tidak aman dikonsumsi, yang terbaik adalah untuk menjauh dari mereka. Tapi blackberry liar adalah 100% aman untuk dimakan dan mudah untuk dikenali. Mereka memiliki cabang merah yang memiliki duri panjang yang mirip dengan mawar, daun hijaunya yang lebar dan bergerigi. Gampang ditemukan pada musim semi saat bunga putih mekar, mereka berkerumun di sekitar semak-semak. Buah matang sekitar Agustus sampai September. 2. Dandelion Yang paling

Kisah Mistis Pendakian Argapura Part 2

Part 2 : Langkah Kaki dan Suara Wanita Misterius di Gunung Argopuro Baca dari part 1 biar lebih lengkap, klik disini Hari Jumat pagi, kami bersiap sarapan dan packing untuk melanjutkan perjalanan. Pagi harinya kami dihibur dengan obrolan santai yang kocak dari guyonan para mahasiswa Jogjakarta. Ditengah obrolan, Irfan lalu menanyakan siapa yang keluar tenda malam-malam. "Jam segitu siapa yang keluar malam-malam ya," tanya si Irfan. "Kalau kami sudah tidur mas," ucap Andi sembari memakan sarapan mie gorengnya. "Iya mas, ngapain malam-malam gitu kami keluar tenda, dingin tau," sahut Kaka, pendaki dari Depok. "Lah, terus siapa dong yang jalan malem-malem diluar tenda? mas dari Surabaya kali ya," tanya irfan lagi. "Gak ah, kami tidur pulas semalaman," ujar si Soni. "Yaudahlah, gak usah dibahas lagi. Habis ini kita langsung packing ya. Karena kita akan menginap di Taman Hidup Argapura. Jangan sampai kita kemaleman d

Kisah Mistis Pendakian Gunung Argopuro Via Baderan

Berikut ini adalah Kisah Mistis Pendakian Gunung Argopuro Via Jalur Baderan Saya (Ryu) dan kedua teman saya, Dian dan Soni yang berangkat dari Surabaya ke Probolinggo pada Selasa malam dan sampai di pendakian jalur pos Baderan sekitar pukul 07.00 WIB. Karena saya sedang ada tugas kantor untuk mencari tahu tentang sejarah Gunung Argopuro dan Dewi Rengganis, jadi ketika sebelum melakukan pendakian, saya dan Dian singgah ke rumah tokoh masyarakat yang ada disana (nanti akan diceritakan tentang sejarah Gunung Argopuro dan Dewi Rengganis dari buku lama sesepuh). Sekira pukul 10.00 WIB, kami bertiga kemudian memulai pendakian dari jalur Baderan. Saat di pos Baderan, kami bertemu dengan sepasang kekasih yang merupakan mahasiswa dari Semarang, karena mereka baru perdana melakukan pendakian ke gunung argopuro, jadi mereka ikut barengan mendaki bersama dengan kami. Ditengah perjalanan, kami bertemu dengan satu tim lagi, yaitu mahasiswa berasal dari Jogjakarta. Lima orang mahasiswa jogja