Langsung ke konten utama

Cerita tentang Gunung Merapi Oleh Warga Sekitaran Lerengnya


Letusan freatik Gunung Merapi, adalah cara Merapi memproklamasikan tentang haknya. Pun saat Balai Penyelidikan & Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) kemudian menganalisa letusan susulan & menyimpulkan bila ada unsur magmatik, itupun penegasan bahwa gn. Merapi memiliki hak hidup.
Warga dusun Keningar & Tutup Duwur di Kecamatan Dukun Kabupaten Magelang, setidaknya memperlakukan gn. Merapi dengan kedudukan yang sama dengan warga. Gunung Merapi memiliki hak untuk apapun, begitu pula warga juga memiliki hak untuk menyikapinya.
Kepala Dusun Tutup Duwur, Sumarjono menyebutkan bahwa Merapi memiliki hak untuk erupsi. Erupsi jenis apapun.
"Kalau mbah Rono menyebutkan Merapi berhak menyandang gelar Waspada / Siaga. Kami mengatakan gn. Merapi berhak memberi kesejahteraan kepada manusia melalui letusan apapun itu. Freatik, Efusif, ataupun Eksplosif sekalipun," kata mbah Jon, sapaan akrabnya.
Pagi hari di bawah kawah gn. Merapi dengan jarak kurang yang dari 5 km barangkali akan menggetarkan bagi orang luar. Bagi warga Keningar & Tutup nDuwur, ada mekanisme alam yang dapat dijadikan patokan ketika Merapi sudah dalam tahap yang membahayakan.
"Kami lahir, besar, juga tumbuh di tempat ini. Setiap pagi kami selalu naik mendekati puncak. Mencari rerumputan untuk ternak. Kami dihidupi oleh Merapi," kata Sumarjono.
Penghormatan kepada gunung Merapi adalah sebuah keniscayaan. Ini bukan soal mistik, juga bukan soal sirik. Ini harmoni hidup dengan alam.

Seorang petani dusun Tutup Duwur Kecamatan Dukun Magelang sedang membajak sawahnya di kaki Merapi dengan kerbaunya. (foto : Liputan6.com / edhie prayitno ige)Seorang petani dusun Tutup Duwur Kecamatan Dukun Magelang sedang membajak sawahnya di kaki Merapi dengan kerbaunya. (foto : Liputan6.com / edhie prayitno ige)
2 of 3

Jinak-jinak Merapi

Pagi hari selalu disambut warga kaki Merapi dengan giat bekerja, kabut tak menghalangi mereka. (foto : Liputan6.com / danu/ edhie prayitno ige)Pagi hari selalu disambut warga kaki Merapi dengan giat bekerja, kabut tak menghalangi mereka. (foto : Liputan6.com / danu/ edhie prayitno ige)
Pada pagi hari, warga dusun biasanya bangun sebelum matahari muncul. Mereka menikmati apapun yang disajikan Merapi & semesta yang melingkupinya. Ketika matahari terbit, suara binatang-binatang, gemuruh dari kawah, hingga komposisi asapnya dan awan yang mampu berubah warna menyesuaikan ketinggian matahari.
Bias cahaya oleh embun & juga air di sekitar puncak, tidak hanya menyajikan warna jingga sebagaimana pagi. Merapi itu menawarkan lebih. Ada ungu, ada biru, ada hitam, bermacam warna bercampur.
"Bagi warga, gunung Merapi tak pernah ingkar janji. Ia selalu memberi kode jika hendak memuntahkan isi perutnya. Tidak pernah Merapi mencelakai warga tanpa isyarat. Bahkan gunung Merapi memberi penghiburan dengan warna-warna yang unik," kata Sumarjono.
Letusan freatik yang mengawali heboh di Mei tahun 2018 ini, sebelumnya juga pernah terjadi pada tahun 1889, 1878, 1807. 1906, 1924, 1990. Kemudian beberapa kali di tahun 2012, 2013, 2014. Letusan Freatik dikenal juga sebagai letusan minor atau letusan abu.
Letusan lain yaitu letusan efusif. Pernah terjadi di tahun 1883, 1885, 1888, 1905, 1908, 1909, 1915, 1920, 1922, 1986 dan puluhan kali selama kurun waktu 1939-2006.  Letusan efusif disebabkan adanya pertumbuhan kubah lava. Kubah lava lama terdorong oleh tumbuhnya kubah lava baru dan longsor ke bawah. Longsoran ini menghasilkan awan panas.

Yang paling besar adalah saat letusan jenis eksplosif. Letusan yang disebabkan pergolakan magma dalam perut gunung. Tekanan besar menyebabkan keluarnya magma menjadi eksplosif. Terakhir letusan eksplosif terjadi pada tahun 2010.
"Nggak bisa kalau dibilang ada siklus letusan. Contohnya yang eksplosif itu, sebelumnya terjadi di tahun 1996, kemudian 2010. Padahal sepanjang tahun 1930-1933 juga meletus eksplosif hingga tiga kali. Yang jelas bagi kami Merapi tak pernah ingkar janji," kata Sumarjono.
Sementara itu, bagi Jatmiko aktivis Forum Merapi-Merbabu Hijau, erupsi Merapi tak mengurangi semangatnya menghijaukan lereng Merapi. Ia tak pernah merasa sia-sia jika tanamannya akan hangus oleh terjangan awan panas erupsi Merapi.
"Nggak ada kaitan antara letusan dan penghijauan yang kami lakukan. Kami semata-mata ingin menjaga alam Merapi dan Merbabu tetap hijau. Itu saja, sederhana. Jangan tanya manfaat atau motivasi lain," kata Jatmiko suatu hari.
Jinak-jinak Merapi. Barangkali frasa itu lebih pas. Merapi sangat jinak, bagi warga dan siapapun yang memang mengutamakan harmoni dengan lingkungan. Namun sejinak apapun, Merapi tetaplah Merapi yang memiliki hak untuk meletus.
Hak Merapi akan diimbangi dengan hak warga untuk menentukan apakah mereka perlu mengungsi ataukah tidak. Dua hak yang saling berpilin namun memiliki kemerdekaan sendiri-sendiri.
Sumber : liputan6.com/regional/read/3539782/jinak-jinak-merpati-gunung-merapi

Komentar

Postingan populer dari blog ini

52 Tanaman Liar Yang Bisa Dimakan di Hutan

Berikut adalah 52 jenis tanaman liar yang bisa dimakan ketika tersesat di hutan atau pendakian gunung untuk bertahan hidup. Sangat penting mengetahui tentang tanaman liar sebelum mengkonsumsinya. Dikutip dari wakingtimes.com, ada beberapa jenis tanaman yang bisa kita makan di hutan. Kita semua tahu mana sayuran dan buah-buahan yang aman untuk makan, tapi bagaimana dengan tumbuhan liar lainnya? Jika Anda tersesat, mungkin tanaman liar ini bisa dijadikan makanan untuk survival Anda : 1. Blackberry - Rubus fruticosus Banyak buah liar yang tidak aman dikonsumsi, yang terbaik adalah untuk menjauh dari mereka. Tapi blackberry liar adalah 100% aman untuk dimakan dan mudah untuk dikenali. Mereka memiliki cabang merah yang memiliki duri panjang yang mirip dengan mawar, daun hijaunya yang lebar dan bergerigi. Gampang ditemukan pada musim semi saat bunga putih mekar, mereka berkerumun di sekitar semak-semak. Buah matang sekitar Agustus sampai September. 2. Dandelion Yang paling

Kisah Mistis Pendakian Argapura Part 2

Part 2 : Langkah Kaki dan Suara Wanita Misterius di Gunung Argopuro Baca dari part 1 biar lebih lengkap, klik disini Hari Jumat pagi, kami bersiap sarapan dan packing untuk melanjutkan perjalanan. Pagi harinya kami dihibur dengan obrolan santai yang kocak dari guyonan para mahasiswa Jogjakarta. Ditengah obrolan, Irfan lalu menanyakan siapa yang keluar tenda malam-malam. "Jam segitu siapa yang keluar malam-malam ya," tanya si Irfan. "Kalau kami sudah tidur mas," ucap Andi sembari memakan sarapan mie gorengnya. "Iya mas, ngapain malam-malam gitu kami keluar tenda, dingin tau," sahut Kaka, pendaki dari Depok. "Lah, terus siapa dong yang jalan malem-malem diluar tenda? mas dari Surabaya kali ya," tanya irfan lagi. "Gak ah, kami tidur pulas semalaman," ujar si Soni. "Yaudahlah, gak usah dibahas lagi. Habis ini kita langsung packing ya. Karena kita akan menginap di Taman Hidup Argapura. Jangan sampai kita kemaleman d

Kisah Mistis Pendakian Gunung Argopuro Via Baderan

Berikut ini adalah Kisah Mistis Pendakian Gunung Argopuro Via Jalur Baderan Saya (Ryu) dan kedua teman saya, Dian dan Soni yang berangkat dari Surabaya ke Probolinggo pada Selasa malam dan sampai di pendakian jalur pos Baderan sekitar pukul 07.00 WIB. Karena saya sedang ada tugas kantor untuk mencari tahu tentang sejarah Gunung Argopuro dan Dewi Rengganis, jadi ketika sebelum melakukan pendakian, saya dan Dian singgah ke rumah tokoh masyarakat yang ada disana (nanti akan diceritakan tentang sejarah Gunung Argopuro dan Dewi Rengganis dari buku lama sesepuh). Sekira pukul 10.00 WIB, kami bertiga kemudian memulai pendakian dari jalur Baderan. Saat di pos Baderan, kami bertemu dengan sepasang kekasih yang merupakan mahasiswa dari Semarang, karena mereka baru perdana melakukan pendakian ke gunung argopuro, jadi mereka ikut barengan mendaki bersama dengan kami. Ditengah perjalanan, kami bertemu dengan satu tim lagi, yaitu mahasiswa berasal dari Jogjakarta. Lima orang mahasiswa jogja