Langsung ke konten utama

Mistis Gunung Gede, Hipo dan Kesurupan Nenek Nenek


NENEK YG SAYANG PADA CUCUNYA*
Pagi itu hari sabtu 21 September 2019 kami berkumpul untuk melakukan persiapan pendakian dirumah saya, ada 5 orang (termasuk saya, 4 cowo 1 cewek) yang akan melakukan pendakian Gunung Gede via Putri. Mereka adalah Gese, Abef, Budi, dan Lutfia. Kami berencana melakukan pendakian pada sore hari karena menunggu Lutfia pulang kerja. Tapi ada 3 teman kami (Umar, Tunas, Lutfi) yang berasal dari jkt dan tangerang yg rencananya akan mendaki bareng rombogan kami, tetapi karena Tunas rentan kedinginan jd mereka memilih utk mendaki jam 10 siang dan menunggu di alun-alun timur Surken. Jam 2 siang kami berangkat dari rumah saya, butuh waktu 2 jam utk sampai ke BC.

Setelah sampai ke BC Abah anwar, kami shalat ashar dan makan utk mengisi tenaga.
Pada pukul 17:00 kami memulai pendakian dengan membaca doa. Kami berjalan perlahan hingga rehat di pos bayangan 1 sembari mendengarkan adzan magrib. Hari mulai gelap tanpa cahaya selain dari rombongan kami,  dan kamipun sampai di pos 1. Saat itu Lutfia beristirahat sambil memejamkan mata, dan sontak saya pun sedikit menegur dia utk tidak beristirahat sampai tertidur dan kalo lapar atau cape lebih baik istirahat jangan ngantep beuteung (nunda lapar). Dan dia pun nurut tp 'agak' ngeyel karena dia lumayan keras kepala.

 Kamipun melanjutkan perjalanan dan Melawati beberapa rombongan yg ada sebelum kami, tak ada yg aneh perjalanan dari pos 1-3. Tp ketika diantara pos 4 (50 meter sblm pos 4) keatas seperti ada yg mengikuti kami. Angin berhembus kencang, saat itu si Abef merasa ada yg berhembus cepat dari sisi kanannya dan dia pun meminta tim utk rehat sebentar, dan Lutfia duduk diantara akar2 pohon dan kembali sambil tertidur. Awalnya tak ada yg aneh, tp ketika akan melanjutkan perjalan kami mencoba membangunkan Lutfia tp tak ada respon apa2. Ternyata dia terkena gejala HIPOTERMIA.

Sayapun bergegas menyimpan carier saya dan lgsg memindahkan Lutfia ketempat yg agak landai. Gese dan Abef lgsg memasak air panas dan dimasukan ke botol utk menghangatkan tubuh Lutfia. Kondisi dia mulai mual mual, dan menangis. Saya bergegas membuka jaket yg dia kenakan dan menempel kan botol td ke tubuhnya sambil menunggu rombongan yg ada dibawah kami dan meminta bantuan karena blanket yg saya persiapkan dari rumah tidak terbawa.  Dan mereka membantu kami memberikan blanketnya utk Lutfia.  Setelah ada wanita dari rombongan lain yg bersedia utk metode skin to skin. Saya mencari lahan utk mendirikan tenda darurat namun tidak ada, terpaksa saya mendirikan tenda di jalur pendakian. Lalu dibawa lah Lutfia kedalam tenda utk diobati, ketika akan dilakukan skin to skin dia berontak dan menjerit-jerit. Dia mulai mual-mual dan berhalusinasi, setelah dia kembali tenang, wanita yg membantu kami mulai masukan blanket ke tubuhnya dan mengganti bajunya  tp dia malah ngamuk, teriak dan berontak. Tetapi kami ttp memaksa mengganti baju dia. Stelah diganti, dia tertawa layaknya nenek2. Dan ternyata dia mulai kerasukan.

Saya berusaha tetap tenang dan mendengarkan apa yg diomongkan nenek2 yg merasuki tubuhnya. Berikut percakapannya. *Aslinya bahasa Sunda lemes+kasar.
👻: kalian mau apa kesini? Rame-rame ngeganggu emak. 
👦: ah nggk mak, kami cuma pngen main aja kesini nggk ada niat lain-lain. Dari bawah juga saya minta ijin utk kesini.
👻: Asal kalian tau! Emak paling  gk suka sama orang yg pake baju merah, itu seperti nantangin emak. Emak liat tadi banyak orang yang pake baju merah yang lewat tapi saya biarin aja! Apalagi cewe yg pake baju merah berani2nya nandingin kecantikan emak! (Kebetulan budi dan dia memakai baju, jaket dan carier warna merah). Nah ini baju ini (sambil nunjuk Budi) buka! Emak gak suka ngeliatnya, masukin ke sana apa itu yg hitam (tas). *Padahal posisinya lg merem & gak sadar. Ko tau yah posisi tas sama warna baju org lain?

👦: Iya mak lgsg saya masukin ke tasnya.
👻: Kalo kalian datang ke tempat emak itu harus sopan! 
👦: Iya mak kan dari awal juga minta izin. (karena sayapun  merasa tdk melakukan hal2 yg sembarangan).
👻: Ini cucu emak cantik gini kalian biarin, kalian tega! cucu emak laper dan cape tadi bilang ke emak! 
👦: Iya mak maaf, tadi udh saya bilangin dari awal juga suruh bilang kalo ada apa2. Iya mak saya jagain terus Mak.
👻: Jagain cucu emak, tega kalian! Yaudah, sekarang kalian pergi dari sini dari tempat saya, jangan ganggu saya! Saya mau istirahat!
👦: Iya mak mohon maaf sebelumnya. (Dan akhirnya dia keluar dari tubuh Lutfia).

Setelah Lutfia kembali sadar, Kamipun membongkar tenda dan sesegera mungkin melanjutkan perjalan sampai ke alun-alun Surya kencana. Tidak berhenti sampai disitu, stelah mendirikan tenda di alun2 Surken timur. Tenda kamipun masih diganggu, mulai dari pelemparan hingga gesek2an di samping tenda (yang ditempati Lutfia). Saya tetap berfikir positif kalo itu cuma angin. Pagi pun menjelang.

Dan kami mulai memasak dan melanjutkan ke puncak. Stelah turun dari alun2 saya kembali ke tempat dimana kejadian semalam utk kembali meminta maaf dan meminta agar dia tdk mengikuti sampai kerumah. Tapi, setelah keesokan harinya sesampainya dirumah, Lutfia cerita di grup kalo semalam dia mimpi buruk tentang di gunung gede dan tidurnya diganggu oleh mahluk itu hingga sesak nafas. Sekian~
*Lutfia tidak dalam keadaan haid
*Ternyata dia tdk meminta izin ortunya


Cerita dari @alvanwildan

Komentar

Postingan populer dari blog ini

52 Tanaman Liar Yang Bisa Dimakan di Hutan

Berikut adalah 52 jenis tanaman liar yang bisa dimakan ketika tersesat di hutan atau pendakian gunung untuk bertahan hidup. Sangat penting mengetahui tentang tanaman liar sebelum mengkonsumsinya. Dikutip dari wakingtimes.com, ada beberapa jenis tanaman yang bisa kita makan di hutan. Kita semua tahu mana sayuran dan buah-buahan yang aman untuk makan, tapi bagaimana dengan tumbuhan liar lainnya? Jika Anda tersesat, mungkin tanaman liar ini bisa dijadikan makanan untuk survival Anda : 1. Blackberry - Rubus fruticosus Banyak buah liar yang tidak aman dikonsumsi, yang terbaik adalah untuk menjauh dari mereka. Tapi blackberry liar adalah 100% aman untuk dimakan dan mudah untuk dikenali. Mereka memiliki cabang merah yang memiliki duri panjang yang mirip dengan mawar, daun hijaunya yang lebar dan bergerigi. Gampang ditemukan pada musim semi saat bunga putih mekar, mereka berkerumun di sekitar semak-semak. Buah matang sekitar Agustus sampai September. 2. Dandelion Yang paling

Kisah Mistis Pendakian Argapura Part 2

Part 2 : Langkah Kaki dan Suara Wanita Misterius di Gunung Argopuro Baca dari part 1 biar lebih lengkap, klik disini Hari Jumat pagi, kami bersiap sarapan dan packing untuk melanjutkan perjalanan. Pagi harinya kami dihibur dengan obrolan santai yang kocak dari guyonan para mahasiswa Jogjakarta. Ditengah obrolan, Irfan lalu menanyakan siapa yang keluar tenda malam-malam. "Jam segitu siapa yang keluar malam-malam ya," tanya si Irfan. "Kalau kami sudah tidur mas," ucap Andi sembari memakan sarapan mie gorengnya. "Iya mas, ngapain malam-malam gitu kami keluar tenda, dingin tau," sahut Kaka, pendaki dari Depok. "Lah, terus siapa dong yang jalan malem-malem diluar tenda? mas dari Surabaya kali ya," tanya irfan lagi. "Gak ah, kami tidur pulas semalaman," ujar si Soni. "Yaudahlah, gak usah dibahas lagi. Habis ini kita langsung packing ya. Karena kita akan menginap di Taman Hidup Argapura. Jangan sampai kita kemaleman d

Kisah Mistis Pendakian Gunung Argopuro Via Baderan

Berikut ini adalah Kisah Mistis Pendakian Gunung Argopuro Via Jalur Baderan Saya (Ryu) dan kedua teman saya, Dian dan Soni yang berangkat dari Surabaya ke Probolinggo pada Selasa malam dan sampai di pendakian jalur pos Baderan sekitar pukul 07.00 WIB. Karena saya sedang ada tugas kantor untuk mencari tahu tentang sejarah Gunung Argopuro dan Dewi Rengganis, jadi ketika sebelum melakukan pendakian, saya dan Dian singgah ke rumah tokoh masyarakat yang ada disana (nanti akan diceritakan tentang sejarah Gunung Argopuro dan Dewi Rengganis dari buku lama sesepuh). Sekira pukul 10.00 WIB, kami bertiga kemudian memulai pendakian dari jalur Baderan. Saat di pos Baderan, kami bertemu dengan sepasang kekasih yang merupakan mahasiswa dari Semarang, karena mereka baru perdana melakukan pendakian ke gunung argopuro, jadi mereka ikut barengan mendaki bersama dengan kami. Ditengah perjalanan, kami bertemu dengan satu tim lagi, yaitu mahasiswa berasal dari Jogjakarta. Lima orang mahasiswa jogja