Langsung ke konten utama

Pulau Satonda Pulau Gunung Api Purba

Terkesan rasa eksotis dan penuh misteri. Begitulah mungkin pendapat kita saat pertama kali berkunjung di pulau ini. Hamparan pasir putih yang sangat bersih nan mempesona, danau ditengahnya pun masih terasa asin dengan rasa air laut.

Adalah Pulau Satonda yang merupakan gunung api purba  yang lokasinya berada di Kabupaten Dompu, Nusa Tenggara Barat.

Pulau ini mempunyai danau kaldera yang berair asin. Danau ditengahnya adalah Motitoi, berada di kalderanya berair asin memiliki salinitas tinggi dan memiliki stromatolit—struktur terumbu yang mirip dengan kehidupan laut purba.

Ada penelitian yang menduga  bahwa letusan gunung Tambora tahun 1815 mengakibatkan tsunami setinggi 27 meter dan membanjiri kaldera Satonda ini.

Pulau ini ada di lepas pantai utara Pulau Sumbawa, masuk kedalam wilayah Kabupaten Dompu, dengan jarak sekitar 3 kilometer dari Selat Sanggar di Laut Flores dan secara administratif lokasi Pulau Satonda berada di wilayah Desa Nangamiro di Kecamatan Pekat.


Keindahan dan Misteri Zaman Purba di Pulau Satonda

Terbentuk oleh letusan gunung api dari dasar laut jutaan tahun lalu, dengan danau air asin ini mengandung material purba jutaan taun lalu.

Pulau Satonda dan perairan yang berada di sekitarnya memiliki luas 2.600 hektar. Pulau ini terbentuk oleh letusan Gunung Satonda pada ribuan tahun lalu. Gunung berapi Satonda konon mempunyai usia yang lebih tua dari Gunung Tambora, yang mempunyai jarak sekitar 30 kilometer dari pulau ini.
walapun riwayat terbentuknya pulau ini terdengar sangat menakutkan, ternyata Pulau Satonda memiliki terumbu karang alami yang mempesona di perairannya.

Pada tahun 1999, Pulau Satonda ini ditetapkan sebagai Taman Wisata Alam Laut (TWAL) dan telah diusulkan menjadi bagian dari Taman Nasional Moyo Satonda dengan Pulau Moyo di dekatnya.

Bagaimana Cara Menuju Pulau Satonda
Untuk menuju ke Pulau Satonda, salah satunya cara yang dilakukan adalah melakukan perjalanan dari Sumbawa Besar ke Desa Nangamiro dengan jarak yang ditempuh sekitar 8 jam. Atau dari Dompu dengan jarak tempuh sekitar 5 jam.

Setelah kita sampai di pelabuhan Nangamiro, lalu lanjut dengan menggunakan perahu ke Pulau Satonda sekitar 1 jam. Berapa tarifnya ya? Tarif untuk jasa transportasi perahu ternyata juga sangat bervariatif antara Rp 25 ribu hingga Rp. 100 ribu.

Pulau Satonda, Nusa Tenggara Barat.
__________________________
Foto epic oleh  @aliangger dan Indonesia Travel
#pendaki #PulauSatonda #DanauMoitoi #GunungTambora #Dompu

Komentar

Postingan populer dari blog ini

52 Tanaman Liar Yang Bisa Dimakan di Hutan

Berikut adalah 52 jenis tanaman liar yang bisa dimakan ketika tersesat di hutan atau pendakian gunung untuk bertahan hidup. Sangat penting mengetahui tentang tanaman liar sebelum mengkonsumsinya. Dikutip dari wakingtimes.com, ada beberapa jenis tanaman yang bisa kita makan di hutan. Kita semua tahu mana sayuran dan buah-buahan yang aman untuk makan, tapi bagaimana dengan tumbuhan liar lainnya? Jika Anda tersesat, mungkin tanaman liar ini bisa dijadikan makanan untuk survival Anda : 1. Blackberry - Rubus fruticosus Banyak buah liar yang tidak aman dikonsumsi, yang terbaik adalah untuk menjauh dari mereka. Tapi blackberry liar adalah 100% aman untuk dimakan dan mudah untuk dikenali. Mereka memiliki cabang merah yang memiliki duri panjang yang mirip dengan mawar, daun hijaunya yang lebar dan bergerigi. Gampang ditemukan pada musim semi saat bunga putih mekar, mereka berkerumun di sekitar semak-semak. Buah matang sekitar Agustus sampai September. 2. Dandelion Yang paling

Kisah Mistis Pendakian Argapura Part 2

Part 2 : Langkah Kaki dan Suara Wanita Misterius di Gunung Argopuro Baca dari part 1 biar lebih lengkap, klik disini Hari Jumat pagi, kami bersiap sarapan dan packing untuk melanjutkan perjalanan. Pagi harinya kami dihibur dengan obrolan santai yang kocak dari guyonan para mahasiswa Jogjakarta. Ditengah obrolan, Irfan lalu menanyakan siapa yang keluar tenda malam-malam. "Jam segitu siapa yang keluar malam-malam ya," tanya si Irfan. "Kalau kami sudah tidur mas," ucap Andi sembari memakan sarapan mie gorengnya. "Iya mas, ngapain malam-malam gitu kami keluar tenda, dingin tau," sahut Kaka, pendaki dari Depok. "Lah, terus siapa dong yang jalan malem-malem diluar tenda? mas dari Surabaya kali ya," tanya irfan lagi. "Gak ah, kami tidur pulas semalaman," ujar si Soni. "Yaudahlah, gak usah dibahas lagi. Habis ini kita langsung packing ya. Karena kita akan menginap di Taman Hidup Argapura. Jangan sampai kita kemaleman d

Kisah Mistis Pendakian Gunung Argopuro Via Baderan

Berikut ini adalah Kisah Mistis Pendakian Gunung Argopuro Via Jalur Baderan Saya (Ryu) dan kedua teman saya, Dian dan Soni yang berangkat dari Surabaya ke Probolinggo pada Selasa malam dan sampai di pendakian jalur pos Baderan sekitar pukul 07.00 WIB. Karena saya sedang ada tugas kantor untuk mencari tahu tentang sejarah Gunung Argopuro dan Dewi Rengganis, jadi ketika sebelum melakukan pendakian, saya dan Dian singgah ke rumah tokoh masyarakat yang ada disana (nanti akan diceritakan tentang sejarah Gunung Argopuro dan Dewi Rengganis dari buku lama sesepuh). Sekira pukul 10.00 WIB, kami bertiga kemudian memulai pendakian dari jalur Baderan. Saat di pos Baderan, kami bertemu dengan sepasang kekasih yang merupakan mahasiswa dari Semarang, karena mereka baru perdana melakukan pendakian ke gunung argopuro, jadi mereka ikut barengan mendaki bersama dengan kami. Ditengah perjalanan, kami bertemu dengan satu tim lagi, yaitu mahasiswa berasal dari Jogjakarta. Lima orang mahasiswa jogja