Langsung ke konten utama

Cerita Tersesat di Gunung Sindoro via Kledung

Ini kejadian bulan desember 2018. Waktu itu saya sama satu temen ceritanya naik ke Sindoro. Pada awalnya biasa aja dan ahirnya kami putuskan istirahat di post 3 dan ngelanjutin summit di hari ke 2.


Kebetulan karena temanku lelah aku melanjutkan summit sendirian. Singkat cerita aku sampai puncak sekitar jam 11an dan dipuncak sudah tidak ada orang sama sekali. Setelah istirahat akupun kembali turun. Baru beberapa meter dari puncak tiba" Kabut datang, aku kehilangan arah dan ahrilnya tersesat.

Aku sadar bahwa jalur yang aku ambil ini salah, aku terlalu ke kiri, namun terlambat sepertinya aku sudah terlalu jauh dan melewati beberapa punggungan. Sebenarnya aku mau menetap dan behenti di daerah itu, namun karena hujan dan ada petir aku ahirnya melanjutkan perjalanan dengan mengikuti bekas aliran air yang aku yakini akan mengarah pemukiman.

Perbekalan yang aku bawa saat itu sangat terbatas hanya 2 sosis siap saji, 3 madu saset, korek api dan air akua tang tudak sampai 1/2 L. Aku berjalan menyusuri rumput ilalang yang cukup tinggi hingga kakiku lelah, mungkin karena otakku kurang bisa berfikir rasional ahirnya aku menuruni ilalang dengan cara prosotan. Keputusanku ini hampir membuatku kilangan nyawa, karena kurang dari 3 M di depanku adalah blank (jurang), ahirnya aku manggulingkan tubuhku ke kiri yang kutau itu adalah aliran air yang terjal. Aku berfikir paling tidak aku tidak akan mati, maksimal hanya terkilir sedikit. Ternyata keputusanku benar aku selamat. Karena hari samakin gelap ahirnya aku mencari tempat untuk istirahat di sekitar perbatasan hutan perdu dan alasalasl mati (hutan edelweiss yang barusan terbakar).

Malampun tiba dan aku berusaha tidur, saat aku hendak tidur tiba-aku mendengar suara nyaring yang tidak aku ketahui itu apa. Tiba-tiba saja ditengah malam berkabut ini ada cahaya biru seperti lampu di depanku seakan-akan memintaku untuk nengikutinya namun aku hiraukan dan kupaksakan diri untuk tidur.

Matahari terbit dan ahirnya hari ke 2 dimulai. Aku mulai memakan bekalku dan setelah bajuku kering karena hujan semalam aku melanjutkan perjalan menyusuri aliran air sambil mengisi botol air. Siang itu tak terjadi apa-apa sampai berlanjut petang lagi. Dan sekali lagi cahaya itu muncul lagi di depanku, yang kuyakini tepat di arah cahanya itu adalah blank (jurang) dan sekali laku aku hiraukan cahaya itu dan kupaksakan lagi diri ini untuk tidur.

Malam itu aku bermimpi diajak oleh seorang wanita yang sangat cantik yang aku tidak tau itu siapa. Aku diberipelihn antara ikut dengan dia atau ikut teman temanku. Aku memilih teman-temanku dan ahirnya akupun terbangun.

Lanjut hari ke 3.

Seperti hari sebelumnya, selelah mengeringkan baju, aku melanjutkan perjalanan lagi, kali ini krena bekalkubsudah tidak tersisa aku hanya mengi perutku dengan air yang aku ambil kemarin. Setelah berjalan cukup lama aku ada SMS masuk ke HPku, rupanya itu pesan dari BC kledung yang sedang mencariku. Karena sinyalku kurang bagus akupun melanjutkan perjalanan turun mencari sinyal untuk membalas pesannya.

Tambahan:

Sembelum turun ke BC kami mapir ustirahat ke warung mbah Kuat di post 3 (para pendaki sindoro pasti tau). Aku diberibtahu salah satu tim penyelamat bahwa mbak kuat ini adalah orang yang punyak kemampuan dan menjaga sindoro. Lalu aku ceritakan pengalamanku selama tersesat kepadanya. Biliaw berkata bahwa yang ad di mimpiki adalah danyang (penunggu Sindoro), katanya si danyang ini maungajak aku je dunianya makanya dituntun ke cahaya biru yang aku ceritain tadi. Mbah berkata " untung kamu gak ikut dia, kalu ikut, mungkin kmu udah gak di sini sekarang".

Sekitar jam 10 aku seperti ada orang memanggil-manggil namaku, lalu akupun menjawabnya dan mencari sumber suara tersebut. Ahirnya sekitar jam 11 aku bertemu dengan tim pencari dan ahirnya akupun bisa menulis cerita ini.

ini yg ngalamin saya sendiri. Sejak saat itu pula kalo saya main ke sindoro nama saya diganti oleh tim grasindo jadi Slamet Bejo Rahayu.





Komentar

Postingan populer dari blog ini

52 Tanaman Liar Yang Bisa Dimakan di Hutan

Berikut adalah 52 jenis tanaman liar yang bisa dimakan ketika tersesat di hutan atau pendakian gunung untuk bertahan hidup. Sangat penting mengetahui tentang tanaman liar sebelum mengkonsumsinya. Dikutip dari wakingtimes.com, ada beberapa jenis tanaman yang bisa kita makan di hutan. Kita semua tahu mana sayuran dan buah-buahan yang aman untuk makan, tapi bagaimana dengan tumbuhan liar lainnya? Jika Anda tersesat, mungkin tanaman liar ini bisa dijadikan makanan untuk survival Anda : 1. Blackberry - Rubus fruticosus Banyak buah liar yang tidak aman dikonsumsi, yang terbaik adalah untuk menjauh dari mereka. Tapi blackberry liar adalah 100% aman untuk dimakan dan mudah untuk dikenali. Mereka memiliki cabang merah yang memiliki duri panjang yang mirip dengan mawar, daun hijaunya yang lebar dan bergerigi. Gampang ditemukan pada musim semi saat bunga putih mekar, mereka berkerumun di sekitar semak-semak. Buah matang sekitar Agustus sampai September. 2. Dandelion Yang paling

Kisah Mistis Pendakian Argapura Part 2

Part 2 : Langkah Kaki dan Suara Wanita Misterius di Gunung Argopuro Baca dari part 1 biar lebih lengkap, klik disini Hari Jumat pagi, kami bersiap sarapan dan packing untuk melanjutkan perjalanan. Pagi harinya kami dihibur dengan obrolan santai yang kocak dari guyonan para mahasiswa Jogjakarta. Ditengah obrolan, Irfan lalu menanyakan siapa yang keluar tenda malam-malam. "Jam segitu siapa yang keluar malam-malam ya," tanya si Irfan. "Kalau kami sudah tidur mas," ucap Andi sembari memakan sarapan mie gorengnya. "Iya mas, ngapain malam-malam gitu kami keluar tenda, dingin tau," sahut Kaka, pendaki dari Depok. "Lah, terus siapa dong yang jalan malem-malem diluar tenda? mas dari Surabaya kali ya," tanya irfan lagi. "Gak ah, kami tidur pulas semalaman," ujar si Soni. "Yaudahlah, gak usah dibahas lagi. Habis ini kita langsung packing ya. Karena kita akan menginap di Taman Hidup Argapura. Jangan sampai kita kemaleman d

Kisah Mistis Pendakian Gunung Argopuro Via Baderan

Berikut ini adalah Kisah Mistis Pendakian Gunung Argopuro Via Jalur Baderan Saya (Ryu) dan kedua teman saya, Dian dan Soni yang berangkat dari Surabaya ke Probolinggo pada Selasa malam dan sampai di pendakian jalur pos Baderan sekitar pukul 07.00 WIB. Karena saya sedang ada tugas kantor untuk mencari tahu tentang sejarah Gunung Argopuro dan Dewi Rengganis, jadi ketika sebelum melakukan pendakian, saya dan Dian singgah ke rumah tokoh masyarakat yang ada disana (nanti akan diceritakan tentang sejarah Gunung Argopuro dan Dewi Rengganis dari buku lama sesepuh). Sekira pukul 10.00 WIB, kami bertiga kemudian memulai pendakian dari jalur Baderan. Saat di pos Baderan, kami bertemu dengan sepasang kekasih yang merupakan mahasiswa dari Semarang, karena mereka baru perdana melakukan pendakian ke gunung argopuro, jadi mereka ikut barengan mendaki bersama dengan kami. Ditengah perjalanan, kami bertemu dengan satu tim lagi, yaitu mahasiswa berasal dari Jogjakarta. Lima orang mahasiswa jogja