Langsung ke konten utama

Gunung Agung aktif atau tidak? Ini Sejarah dan Detailnya

 

Gunung Agung merupakan gunung api aktif dan tertinggi yang lokasinya di pulau Bali dengan ketinggian 3.031 mdpl. Gunung ini terletak di kecamatan Rendang, Kabupaten Karangasem, Bali, Indonesia. Pura Besakih, merupakan salah satu Pura terpenting di Bali, terletak di lereng gunung.


Gunung Agung adalah termasuk gunung berapi tipe stratovolcano, gunung agung ini memiliki kawah yang dalamnya sangat besar dan sangat dalam yang kadang-kadang akan mengeluarkan asap dan uap air. Bila dari Pura Besakih gunung ini tampak dengan kerucut runcing sempurna, akantetapi sebenarnya puncak gunung ini memanjang dan berakhir pada kawah yang melingkar dan lebar.


Bila dilihat dari puncak gunung Agung kita dapat melihat Gunung Rinjani yang berada di pulau Lombok di sebelah timur, walau kedua gunung tertutup awan karena kedua puncak gunung ini berada di atas awan, kepulauan Nusa Penida di sebelah selatan beserta pantai-pantainya, termasuk pantai Sanur serta gunung dan danau Batur di sebelah barat laut.

Gunung Agung adalah gunung berapi aktif yang ada di Indonesia, tepatnya berada di Pulau Bali. Karena kondisiinya yang masih aktif tentunya memungkinkan suatu saat akan meletus

Sejarah Gunung Agung


KETERANGAN UMUM    

NAMA GUNUNGAPI :

 Gunung AGUNG


Gunung Agung juga mempunyai NAMA LAIN seperti Piek Van Bali, Agung, Piek of Bali, 


NAMA KAWAH :

 -


LOKASI

a. Administrasi : Kabupaten Karangasem, Pulau Bali.

b. Geografi koordinat : 08°20' 30" Lintang Selatan dan 115°30' 30" Bujur Timur

KETINGGIAN :

 3014 meter di atas muka laut setelah letusan 1963

KOTA TERDEKAT dari Gunung Agung adalah : Karangasem

TIPE GUNUNGAPI : Strato

POS PENGAMATAN Gunung Agung Berada di Desa Rendang,Kecamatan Rendan, Kab Karangasem, Bali dengan koordinat (8°25' 30" LS, 115°26' 00" BT). Lalu di Budakeling (8°23' 30" LS, 115°26' 00" BT) dan di Batulompeh (8°15' 00" LS, 115°30' 00" BT). 


Sejarah Letusan Gunung agung Bali

Pada 1808 itu Gunung Agung melontarkan abu dan batu apung dengan jumlah luar biasa.


Pada tahun 1821 Gunung Agung meletus lagi dengan letusannya yang disebut normal tetapi tak ada keterangan terperinci. Letusannya juga dinilai tak sedahsyat letusan pada tahun 1808.


Kemudian pada 1843, Gunung Agung meletus lagi,  yang didahului sejumlah gempa bumi, kemudian kakwahnya memuntahkan abu vulkanik, pasir, dan batu apung.


pada 1963 Gunung Agung terakhir meletus, tepatnya Februari 1963 hingga Januari 1964. Kemudian pada tanggal 18 Februari 1963, penduduk mendengar suara letusan keras dan melihat asap yang tebal keluar secara vertikal dari puncak Gunung Agung. Letusan ini mengeluarkan abu panas dan gas setinggi hampir sekiranya 20.000 meter. Material ini sampai mengurangi sinar matahari dan membuat suhu udara yang berada di di lapisan stratosfer turun 6 °C (10.8 °F). Pada tahun antar 1963-1966, rata-rata suhu yang ada di bumi bagian utara sampai turun 0.4 °C. Abu Belerang dari erupsi gunung Agung beterbangan keseluruh dunia dan jejaknya sampai terlihat sebagai sulfur acid di dalam lapisan es di Greenland.


24 Februari 1963, lahar mengalir turun dari bagian utara gunung. Lahar itu terus mengalir selama 20 hari dan mencapai kejauhan hingga sekitar 7 km.


17 Maret 1963, Gunung Agung meletus dengan Indeks Letusan skiranya sebesar VEI 5 (setara letusan Gunung Vesuvius) lalu kembali meletus pada 17 Mei 1963. Kematian yang disebabkan seluruh proses letusan Gunung Agung sekitar 1.148 orang dengan 296 orang luka-luka.


Sejarah Gunung Agung 27 November 2017

Pada September 2017, Gunung Agung mengalami peningkatan aktivitas gemuruh dan seismik di sekitar gunung Agung, lalu menaikkan status normal menjadi waspada dan sekitar 122.500 orang yang ada di BAli dievakuasi dari rumah mereka di sekitar gunung berapi. Badan Nasional Penanggulangan Bencana BNPB mendeklarasikan zona eksklusi sepanjang 12 kilometer di sekitar gunung berapi tersebut pada tanggal 24 September.


Pada 18 September 2017, status Gunung Agung kemudian dinaikkan dari Waspada menjadi Siaga. Ada evakuasi berkumpul di balai olahraga dan bangunan masyarakat lainnya di sekitar Klungkung, Karangasem, Buleleng dan daerah yang lainnya. Stasiun pemantau tersebut yang berlokasi di Tembuku, Rendang, Kabupaten Karangasem, dimana intensitas dan frekuensi tremor dipantau untuk tanda-tanda letusan yang akan terjadi.


Lalu pada 22 September 2017, status Gunung Agung kemudian dinaikkan dari Siaga menjadi Awas. Daerah tersebut mengalami 844 gempa vulkanik pada tanggal 25 September, dan 300 hingga 400 gempa bumi pada tengah hari terjadi pada tanggal 26 September. Ahli seismologi khawatir dengan kekuatan dan frekuensi dari insiden karena telah mengambil lebih sedikit gunung berapi serupa untuk meletus.


Akhir Oktober 2017, status diturunkan dari Awas menjadi status Siaga. Aktivitas gunung Agung tersebut menurun secara signifikan, menyebabkan turunnya status darurat tertinggi pada tanggal 29 Oktober 2017



Erupsi magmatik dimulai pada Sabtu, 25 November 2017. Letusan dahsyat dihasilkan dilaporkan meningkat 1,5-4 km di atas kawah puncak, ke arah selatan dan membersihkan daerah sekitar dengan lapisan gelap abu tipis, menyebabkan beberapa maskapai penerbangan membatalkan penerbangan ke Australia dan Selandia Baru. Tingkat bahaya resmi tetap di 3, penduduk disarankan untuk tinggal 7,5 km jauhnya dari kawah. Sejauh ini letusannya tampak moderat, kemungkinan letusan intensif dalam waktu dekat. Cahaya jingga kemudian diamati di sekitar kawah saat malam hari, menunjukkan bahwa magma segar memang telah sampai ke permukaan. Lalu pada tanggal 26 November 2017, pukul 23:37 WITA, sebuah letusan kedua terjadi. Ini letusan kedua yang meletus dalam waktu kurang dari satu minggu.


Sejarah Gunung agung Tahun 2018

Pada tanggal 10 Maret di tahun 2018, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi ( PVMBG) menurunkan status yang ada pada Gunung Agung, Karangasem, dari level IV (Awas) menjadi level III (Siaga). Perubahan status ini ternyata diumumkan langsung oleh Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bapak Ignasius Jonan.


Pada 11 April 2018 pukul 09.04 WITA, Gunung Agung menyemburkan abu vulkanik setinggi 500 meter. Kolom asap dan abu berwarna kelabu terlihat condong ke arah barat daya. Sebagaimana disampaikan Kepala Sub Bidang Mitigasi Gunung Api Wilayah Timur PVMBG, Devy Kamil Syahbana, Gunung Agung masih berada pada level III, atau siaga.


PVMBG merekomendasikan, supaya  masyarakat yang berada di sekitar Gunung Agung dan pendaki, pengunjung, wisatawan, agar tak berada dan tak melakukan kegiatan pendakian, serta tidak beraktivitas apapun kalau ada di zona perkiraan bahaya, yaitu di seluruh area di radius 4 kilometer dari kawah puncak Gunung.


Tanggal 28 Juni 2018 pukul 10.30 WITA, Gunung Agung mengeluarkan asap hingga Jumat dini hari menyebabkan hujan abu di bagian barat hingga barat daya telah menyebabkan Bandar Udara Internasional Ngurah Rai, Bandar Udara Banyuwangi dan Bandar Udara Jember resmi ditutup sejak Jumat pukul 03.00 WITA sampai 19.00 WITA menyusul hembusan Gunung Agung terus menerus mengeluarkan asap dan abu vulkanik.

PVMBG mencatat, dari pengamatan, kolom abu teramati mencapai lebih dari dua kilometer dari atas puncak gunung. lebih dari 5.142 meter dari permukaan laut.


"Kolom abu teramati berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas sedang hingga tebal condong ke arah barat daya dan barat," tulis PVMBG


Zona perkiraan bahaya, yaitu di seluruh area di dalam radius sekiranya 4 km dari kawah puncak Gunung Agung," tulis PVMBG.


Pada tanggal 2 Juli 2018, 21.04 WITA, Gunung Agung meletus. Kali ini dengan melontarkan lahar panas dengan radius 2 km. Erupsi terjadi secara strombolian dengan adanya suara dentuman. Dalam laporan PVMBG , erupsi Gunung Agung terjadi pada hari Senin (2/7/2018), Selasa (3/7/2018) pukul 04.13 Wita. Tinggi kolom abu letusan malam itu teramati ±2.000 m di atas puncak (±5.142 meter di atas permukaan laut). Kolom abu teramati berwarna kelabu dengan intensitas cukup tebal condong ke arah barat. 


Pencapaian Pendakian Menggapai Puncak gunung Agung


Puncak G. Agung dapat ditempuh dari tiga jalur sebagai berikut :

(1) lewat Pasar Agung (selatan puncak)

(2) lewat Budakeling lewat Nangka (tenggara puncak)

(3) lewat jalur yang ada di  Besakih (baratdaya puncak)


GEOLOGI  


Struktur Geologi GUnung Agung Bali


G. Agung terutama berupa ada kerucut gunungapi dan parasit gunungapi. Morfologi kerucut gunungapi yang berbentuk hampir simetri dengan ketinggian 3014 m dpl, lerengnya relatif terjal. Satuan morfologi ini terbentuk oleh bahan piroklastik dan lava, puncak ditutupi oleh bahan lepas cukup tebal, terutama piroklastik jatuhan hasil letusan tahun 1963. Sedangkan morfologi parasit gunungapi derah Gn. Agung terdapat di  lereng tenggara, membentuk kerucut-kerucut gunungapi (disebut dg cone shape), diantaranya G. Pawon (800 m dpl). Beberapa kerucut bagian timur Gunung Agung, diduga bukan parasit dari Gunungapi Agung. Bahan pembentuksatuan morfologi ini terdiri dari lava dan bahan lepas berupa skoria atau "cinder".


Stratigrafi Gn. Agung yang didasarkan pada tingkat kesegaran batuan serta hubungan antara satuan batuan. Posisi stratigrafi dari produk tertua sampai dengan termuda adalah berikut :


Formasi Ulakan (Uvs) terdiri batu gamping koral, lava, breksi vulkanik. Batuan ini diperkirakan Andesit basaltis.


Kelompokbe Batuan Budakeling (Bv) terdapat di bagian tenggara Gunungapi Agung yaitu di daerah Budakeling terdiri dari lava dan breksi vulkanik dengan fragmen-fragmen batuan beku yang beraneka ragam. 

Kelompok bebatuan Kondangdia (Kv) Kelompok batuan ini terdapat pada bagian timur hasil dari aktifitas tua terdiri dari aliran lava tua dengan struktur "sheeting joint", agak lapuk. 

Kelompok Batuan Tabis (Tv) terletak pada sebelah barat Gunungapi Agung, dibentuk oleh lava dan piroklastik.

Kelompok Batuan Cemara (Cv) terdapat di bagian selatan, berupa lava dan batuan piroklastik. 

Kelompok Batuan Vulkanik Batur (BAv) terdapat di bagian barat Gunungapi Agung dan merupakan hasil erupsi Gunungapi Batur tua. 

kemudian struktur geologi Komplek Gunungapi Agung - Abang - Batur - Budakeling ternyata menunjukkan suatu kelurusan berarah barat laut - tenggara. lalu sungai Tukad Daya - Tukad lateng menunjukkan suatu kelurusan yang memotong sebagian bukit Tabis yang terdapat di bagian tengahnya. Di bagian selatan - tenggara Gunung Agung memperlihatkan alihan pematang punggungan yang diduga akan terbentuk rekahan geser menganan.


Seismik


Dari hasil pengamatan pada seismik dengan multistasiun periode  antara tahun 2000 -2002, memperlihatkan sebaran episenter yang berada di luar kawah (puncak) Gn. Agung dengan kedalaman antara 10 - 70 km di atas muka laut. Beberapa episenter ternyata membentuk kelurusan berarah timur laut - barat daya. Gempa-gempa ini diduga sebagai gempa tektonik akibat aktifitas struktur di daerah tersebut.

Tabel Hasil analisis kimia batuan Gunungapi Agung

Pasir
(Tampak Siring) (%)
Pasir
(Tampak Siring) (%)
Abu
(Batuniti) 27-3-63 (%)
Bom lava
(Batuniti) (%)
Abu
(rending) 13-3-63 (%)
Lapili Batuapung
(Rendang) 17-3-63 (%)
1234567
SiO2
Fe2O3
Al2O3
CaO
MgO
MnO
TiO2
P2O5
S(total)
Na2O
K2O
H2O
Hilang dibakar
FeO
53,68
9,42
21,53
8,10
4,47
0,25
0,94
0,11
0,35
0,31
0,01
0,23
0,60


50,78
10,72
20,11
8,39
4,11
1,98
0,94
0,07
0,72
0,46
0,05
0,13
0,90


50,99
8,77
20,11
7,88
3,44
0,12
1,02
0,11
3,51
0,28
0,01
2,45
0,96


50,54
10,98
19,86
8,62
5,58
1,98
1,05
0,04
0,61
0,22
0,01
0,27
0,90


55,00
5,28
19,85
7,27
2,90
0,13
0,93
0,05
1,27
1,50
0,25
1,00
4,22

2,45
53,25
4,99
18,81
8,01
4,64
0,18
0,95
0,03
0,21
2,04
1,49
0,14
0,85

4,65
53,70
4,58
16,69
8,27
4,90
0,20
0,95
0,08
0,17
2,33
1,55
0,41
1,02

5,82

 

Lapili
(Rendang)
17-3-73 (%)
Endapan awan
panas (Yeshas)
14-4-63 (%)
Ladu (Yeshas)
15-4-63
(%)
Melanik Porfir
lapili (rendang)
17-3-73 (%)
89101112
SiO2
Fe2O3
Al2O3
CaO
MgO
MnO
TiO2
P2O5
S(total)
Na2O
K2O
H2O
Hilang dibakar
FeO
54,43
3,79
19,04
8,21
4,35
0,18
1,06
0,03
0,23
1,76
1,07
0,38
1,29

4,63
54,10
5,16
18,39
8,10
4,17
0,20
1,06
0,09
0,15
1,83
0,82
0,43
1,13

5,08
48,30
6,05
18,39
7,58
3,26
0,12
1,00
0,09
3,60
1,07
0,35
2,98
12,40

1,48
48,65
5,90
17,56
7,66
3,26
0,13
1,06
0,07
3,25
1,60
0,35
3,55
12,00

1,81
54,70
5,36
17,81
7,96
5,43
0,20
1,00
0,03
0,17
1,69
0,41
0,64
1,20

4,44

 

 

lapili leukokritik
(Rendang)
17-3-63 (%)
Batu apung
leukokritik (Rendang)
17-3-63 (%)
Lapili
(Batulompeh) 16-5-63 (%)
Lapili
(Rendang)
29-5-63 (%)
13141516
SiO2
Fe2O3
Al2O3
CaO
MgO
MnO
TiO2
P2O5
S(total)
Na2O
K2O
H2O
Hilang dibakar
FeO
58,85
4,47
18,88
6,97
2,68
0,18
0,68
0,10
0,16
1,50
0,78
0,86
1,46

3,28
56,40
4,72
18,40
7,66
3,98
0,19
0,87
0,04
0,17
1,50
0,78
0,67
1,20

4,11
52,70
8,86
19,44
8,04
4,17
0,14
0,95
0,08
1,29
1,77
1,40
1,20
2,62

-
53,45
9,94
19,65
8,91
5,29
0,22
0,95
0,01
0,03
0,90
0,42
0,21
0,30

-

 

 


KAWASAN RAWAN BENCANA GUNUNG AGUNG


Kawasan Rawan Bencana Gunung Agung terdiri dari 2 bagian, adalah Kawasan Rawan Bencana I (KRB I), serta Kawasan Rawan Bencana II (KRB II).


Penjelasan tentang Kawasan Rawan Bencana II


Ini adalah kawasan yang berpotensi terlanda awan panas Gunung AGung, lontaran batu (pijar), hujan abu (lebat), dan adanya potensi aliran lava. Khusus di dalam kawah ancaman juga berupa ada gas beracun . Untuk bahaya bersifat aliran, KRB II ini mencakup seluruh lereng utara hingga ke arah pantai Laut Bali, lereng selatan serta tenggara hingga berjarak ± 14 kilometer dari puncak. Sedangkan bahaya berupa adanya lontaran batu (pijar) ini terbatas pada radius 6 km dari kawah di sekeliling lerengnya. Luas dari seluruh KRB II ini adalah kurang lebih sekitar  ± 215 km2. Jumlah penduduk yang bermukim dalam kawasan ini sebanyak 35.886 jiwa.


Penjelasan tentang Kawasan Rawan Bencana I


Adalah sebuah kawasan yang mempunyai potensi terlanda aliran lahar hujan, banjir dan disertai hujan abu yang lebat serta kemungkinan adanya perluasan aliran awan panas dan lontaran batu (pijar) terutama apabila letusannya ini semakin membesar. Tingkat kerawanan KRB I ini adalah lebih rendah bila dibandingkan dengan KRB II. KRB I terhadap aliran massa terutama pada sepanjang aliran sungai, yaitu Tk. Daya di kaki bagian sebelah utara dan Tk. Batang di kaki bagian sebelah timur. Pada kaki tenggara aliran lahar mengancam kota Amlapura serta dataran Karangasem melalui Tk. Rilah, Tk. Lajang, Tk. Luah, Tk. Pangandingah, Tk. Krekuk, Tk. Bangka, Tk. Timbul, Tk. Bedih, Tk. Buhu, dan Tk. Jangga.


Pada aliran lahar ke selatan melalui Tk. Telaga Waja, dan Tk. Unda mengancam kota Semarapura, Kelungkung. Kawasan rawan bencana hujan abu lebat dan kemungkinan lontaran batu panas mempunyai radius 10 kilometer dari kawah, tanpa memperhitungkan arah angin. Kawasan ini adalah  areal seluas 185 km2. Jumlah penduduk yang bermukim dalam kawasan ini sebanyak sekiranya 77.815 jiwa.


sumber ; vsi.esdm.go.id, viva.co.id, 

DAFTAR PUSTAKA

Deden Wahyudin, 2002, Laporan Pemetaan Bahan Galian Gunungapi Agung, Direktorat Vulkanologi

Eka Kadarsetia, 1993, Penyelidikan Petrokimia , Direktorat Vulkanologi

Kusumadinata, 1979, Dasar Gunungapi Indonesia, Direktorat Vulkanologi

Mawardi dan wahyu Suherman, Penyelidikan Petrokimia G. Agung, 1990, Direktorat Vulkanologi

Nasution, M. Hendrasto dan Dadi Mulyadi, 1989, laporan Pemetaan Geologi G. Agung, Direktorat Vulkanologi

Rizal D. Erfan, Yana Karyana, Tardin, Maemunah, Laporan Pengumpulan Bahan Informasi Kegunungapian G. Agung, Juni 1999, Direktrat Vulkanologi

Sjafra Dwipa, Yusep Hidayat H., Saleh S., Samid, 1993, Pengukuran Potensial Diri G. Agung, Direktorat Vulkanologi

S. Bronto, M. S. Santoso, A. Martono, Ato Djuhara, 1996, Laporan Pemetaan Kawasan Rawan Bencana Gunungapi Agung, Direktorat Vulkanologi

Sulaeman c., 2001, Laporan Pengamatan G. Agung, Direktorat Vulkanologi

Komentar

Postingan populer dari blog ini

52 Tanaman Liar Yang Bisa Dimakan di Hutan

Berikut adalah 52 jenis tanaman liar yang bisa dimakan ketika tersesat di hutan atau pendakian gunung untuk bertahan hidup. Sangat penting mengetahui tentang tanaman liar sebelum mengkonsumsinya. Dikutip dari wakingtimes.com, ada beberapa jenis tanaman yang bisa kita makan di hutan. Kita semua tahu mana sayuran dan buah-buahan yang aman untuk makan, tapi bagaimana dengan tumbuhan liar lainnya? Jika Anda tersesat, mungkin tanaman liar ini bisa dijadikan makanan untuk survival Anda : 1. Blackberry - Rubus fruticosus Banyak buah liar yang tidak aman dikonsumsi, yang terbaik adalah untuk menjauh dari mereka. Tapi blackberry liar adalah 100% aman untuk dimakan dan mudah untuk dikenali. Mereka memiliki cabang merah yang memiliki duri panjang yang mirip dengan mawar, daun hijaunya yang lebar dan bergerigi. Gampang ditemukan pada musim semi saat bunga putih mekar, mereka berkerumun di sekitar semak-semak. Buah matang sekitar Agustus sampai September. 2. Dandelion Yang paling

Kisah Mistis Pendakian Argapura Part 2

Part 2 : Langkah Kaki dan Suara Wanita Misterius di Gunung Argopuro Baca dari part 1 biar lebih lengkap, klik disini Hari Jumat pagi, kami bersiap sarapan dan packing untuk melanjutkan perjalanan. Pagi harinya kami dihibur dengan obrolan santai yang kocak dari guyonan para mahasiswa Jogjakarta. Ditengah obrolan, Irfan lalu menanyakan siapa yang keluar tenda malam-malam. "Jam segitu siapa yang keluar malam-malam ya," tanya si Irfan. "Kalau kami sudah tidur mas," ucap Andi sembari memakan sarapan mie gorengnya. "Iya mas, ngapain malam-malam gitu kami keluar tenda, dingin tau," sahut Kaka, pendaki dari Depok. "Lah, terus siapa dong yang jalan malem-malem diluar tenda? mas dari Surabaya kali ya," tanya irfan lagi. "Gak ah, kami tidur pulas semalaman," ujar si Soni. "Yaudahlah, gak usah dibahas lagi. Habis ini kita langsung packing ya. Karena kita akan menginap di Taman Hidup Argapura. Jangan sampai kita kemaleman d

Apa itu Radang Dingin (Frosbite)? Bagaimana Penanganan dan Pencegahannya?

Frostbite adalah termasuk penyakit yang bisa kita temukan ketika berada di pada suhu rendah. Penyakit ini kadang akan menjangkit para pendaki gunung. Frost bite sendiri ialah suatu gangguan yang disebabkan akibat  paparan dingin yang mengenai bagian anggota tubuh dalam jangka waktu yang cukup lama. Hal ini akan menyebabkan aliran darah, cairan tubuh dan juga nutrisi serta oksigen terganggu. Hal itu akan menyebabkan kematian pada jaringan. Untuk anggota tubuh yang sering terkena ialah pada bagian yang mempunyai sedikit lapisan lemaknya seperti nagian jari tangan dan kaki, cuping telinga, hidung. Penyakit frost bite ini dibagi menjadi dua berdasar tingkat keparahannya.  Untuk stadium awal akan lumayan parah, dan pada stadium lanjut yang artinya sangat parah. Ciri-cirinya dari frost bite ini sebagai berikut: 1. Pada stadium awal Korban akan merasakan anggota tubuh seperti  (bisa jari tangan, atau kaki, hidung, telinga) terasa nyeri seperti ditusuk - tusuk oleh jarum, dan kad